Dulu, Sungai Muzöi terkenal bukan hanya sebagai sungai terpanjang di Nias, tetapi juga terkenal karena memiliki “ono mae-mae”, batu-batu kecil khas yang indah: batu cincin. Dulu, banyak masyarakat yang menjadikan pengolahan batu cincin mata pencaharian yang hasilnya cukup lumayan. Cincin-cincin itu dijual di harimbale -harimbale atau di Gunungsitoli.
Selain itu, Sungai Muzöi memiliki banyak lubuk (namö) yang besar dan dalam, tempat berdiam dan bekembangnya berbagai jenis ikan sungai yang lezat: i’a mbanua, uro, elefu, baewa, orö, falagawo, bolono, onozaitö, dan sebagainya. Lubuk-lubuk yang terkenal antara lain adalah: Namö Mbuaya, Namö Kema, Namö Rumasaki.

Ketika musim hujan tiba, masyarakat yang bediam di tepian sungai Muzöi mencari ikan dengan: mangembua atau fagai, yang dilakukan setelah banjir besar surut. Di musim kemarau, masyarakat mencari ikan dengan: fatufa (khusus untuk mencari udang), fasulu di malam hari, mondrögö buwu di lubuk, fabönö atau fadiala.

Dulu, masyarakat setempat atau pendatang senang mandi-mandi di S. Muzöi yang masil terbebas dari berbagai polusi ciptaan manusia.

Semua yang dikisahkan di depan adalah “kisah lama”, kisah yang hanya tinggal sebagai kenangan. Aktivitas penebangan hutan di sepanjang tepi S. Muzöi menyebabkan sungai itu dangkal, dan menyebabkan lenyapnya lubuk-lubuk tadi. Ikan-ikan tadi pun tak lagi memiliki tempat tinggal yang “nyaman”.

Akan tetapi maraknya penjualan zat kimia beracun di Nias (“air mas” – demikian masyarakat Nias menyebut zat kimia beracun itu) barangkali merupakan faktor utama penyebab lenyapnya berbagai jenis ikan di S. Muzöi dan sungai-sungai lain di Nias. Karena kehadiran ”air mas” tadi, masyarakat Nias meninggalkan cara-cara tradisional untuk menangkap ikan sungai. Cukup dengan menuangkan sebotol air mas ke dalam aliran sungai (di musim kemarau panjang, ketika debit air sangat kecil), ikan-ikan pada menggelepar dan mati, tak peduli apakah induk atau ikan yang baru saja menetas dari telur.

Kini, S. Muzöi begitu merana dan hampa. Tiada lagi udang-udang kecil di balik batu yang mencubit-cubit jari kaki kita ketika mencuci kaki di riam sungai Muzöi. Tiada lagi orö, yang enak dagingnya, yang kelihatan begitu malas bergerak biarpun kita mendekati mau menangkap mereka. Tiada lagi mereka …

Yang tinggal di S. Muzöi adalah batu-batu besar dan kecil, pasir dan kerikil, seperti terlihat di gambar di atas. Hanya itulah yang masih dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, sebuah jenis baru ekonomi “musim kemarau” (selain menyadap karet) di tengah proses Rekonstruksi dan Rehabilitasi yang sedang berlangsung di Nias.

Kapan engkau kembali orö, falagawo, uro, mugu, elefu ? Kapan engkau kembali lubuk-lubuk teduh ? Jawabannya ada di tangan Pemerintah Daerah dan masyarakat Nias sendiri. (eh)

***

Sungai Muzöi

Sungai Muzöi

Sungai Muzöi adalah sungai terpanjang di Pulau Nias yang sangat berliku-liku. Sungai ini berawal dari Deudeu, di sebelah bawah desa Hunogöa (dekat Lalai).

Dari sini sungai ini makin membesar menyusuri lembah di perbukitan Botombawö dan terus mengalir melintasi desa Hilihambawa di mana kita menemukan dataran rendah luas di sepanjang tepinya yang terkenal: Daso Muzöi.

Di hulu, beberapa anak sungai (mbombo) bermuara ke S. Muzöi, yakni: Lotu, Fetoliza, Bozukhu dan Sohahau – semuanya dari sebelah kanan.

Di sebelah kiri bermuara sungai-sungai kecil: Mofakhe, Bomaya, Enaosi, To’iwö dan Da. Da adalah mbombo dari desa Simanaere (Kecamatan Botomuzöi), merupakan yang terbesar dari mbombo yang bermuara di S. Muzöi.

Di bagian tengah dan bagian hilir masih banyak anak sungai yang bermuara di S. Muzöi sepenjang alirannya yang berliku-liku sampai di Lahewa.

Gambar menunjukkan sebuah pemandangan di S. Muzöi tidak jauh di atas lintasan jalan ke desa Hilihambawa, Kecamatan Botomuzöi, yang dibangun oleh World Vision Indonesia.

Facebook Comments