E. Halawa*

Bahasa adalah konvensi. Itulah pernyataan yang sering kita dengar yang berkaitan dengan pemunculan istilah atau kebiasaan berbahasa dalam bahasa apa pun. Maka, suatu istilah baru dapat saja muncul, sejauh disepakati, diterima oleh penutur bahasa itu, meskipun itu terkadang bertentangan dengan kaidah-kaidah umum bahasa yang bersangkutan. Konvensi adalah salah satu cara melalui mana suatu bahasa berkembang. Konvensi biasanya dimunculkan oleh ‘komunitas’ yang mempunyai pengaruh tertentu karena keahliannya, dominasi ekonomi atau sosialnya, atau karena kegiatan khusus tertentu yang digumuli, dan sebagainya.

Dalam bahasa apapun, konvensi semacam itu lumrah saja muncul, termasuk juga dalam Li Niha. Akan tetapi berkaitan dengan yang terakhir ini (‘konvensi’ dalam Li Niha), agaknya kita perlu melihat apa yang terjadi sekitar 20 – 30 tahun silam, yang sebenarnya masih juga terjadi hingga saat ini.

Ketika penulis menempuh pendidikan di Gunung Sitoli antara tahun 1972 – 1974, ada suatu kejadian ‘kecil’ yang selalu ‘mengganjal’ hati penulis, tetapi waktu itu menyikapinya secara pragmatis: mendiamkannya saja. Kisah ini berkaitan dengan bagaimana cara teman-teman yang bukan orang Nias belajar Li Niha.

Cara paling umum ialah mereka menanyakan arti kata-kata Li Niha satu per satu dan menghafalnya. Lalu berbekalkan kata-kata lepas itu, mereka mulai ‘memperlihatkan’ kemampuannya berbahasa Nias. Jadi, dengan mengetahui bahwa: saya = ya’odo, pergi = mõi, ke = ba, sekolah = sekola, mereka memunculkan sebuah struktur kalimat Li Niha ala anak kecil yang baru belajar berkata-kata, sebagai berikut: Ya’odo mõi ba sekola – (maksudnya: Mõido ba zekola – Saya pergi ke sekolah). Lalu, dengan mengetahui bahwa: tidak = lõ’õ, baik = sõkhi, kelakuan = amuata, kamu/engkau = ya’ugõ, munculllah: Lõ sõkhi amuata ya’ugõ (maksudnya: Lõ sõkhi gamuatau – kelakuanmu tidak baik).

Biasanya, struktur kalimat Li Niha yang tidak biasa itu menjadi bahan tertawaan Ono Niha. Dan pada umumnya, struktur asing itu akan tetap melekat dalam ingatan mereka hingga mereka meninggalkan Pulau Nias, karena tidak ada yang membetulkan.

Ada banyak alasan mengapa reaksi kita (baca: kami ketika itu) hanya sebatas menertawakan atau memperolok-olok. Yang pertama ialah: keterbatasan penguasaan bahasa Indonesia, sehingga kami tidak mampu menjelaskan hal-hal yang memang kompleks seperti itu kepada mereka. Harap dimaklumi, pada umumnya anak-anak desa yang belajar di Gunungsitoli ketika itu, baru mulai memakai bahasa Indonesia ketika menempuh pendidikan di Gunungsitoli.

Kedua, kami juga bukan ahli bahasa Nias sehingga tidak mudah memberikan penjelasan yang memuaskan, meski pun tahu bahwa hal itu tidak pas, tidak tepat, lõ fagõna, lõ faudu, lõ enahõi.

Alasan ketiga, memang dalam diri kami belum tumbuh (lebih tepat: tidak ditumbuhkan) sikap peduli (konsen), sikap memiliki dan menghargai Li Niha. Bahkan penguasaan Li Niha secara fasih – dalam arti: mengikuti kaidah-kaidah bahasa dan pengucapan Li Niha yang asli – dikaitkan dengan keterbelakangan dalam segala aspek kehidupan. Sekadar contoh, di kala itu, tidak jarang anak-anak desa diperolok-olok, bahkan juga oleh anak-anak Ono Niha sendiri, karena tidak dapat melafalkan huruf “d” ala Bahasa Indonesia (Lihat artikel Bunyi Huruf “D” Dalam Li Niha).

Apa yang menjadi kerisauan kita sebenarnya ?
Yang menjadi kerisauan kita ialah: ‘bangunan’ Bahasa Nias yang kita warisi itu mulai ‘porak-poranda’ oleh ‘konvensi’ yang dipaksakan dari luar. Kaidah-kaidah Bahasa Nias yang keliru yang secara tak sengaja dimunculkan oleh orang lain tidak pernah merisaukan kita. Yang lebih menyedihkan adalah proses ‘pembiaran’ yang kita lakukan: kita tidak memprotes ketika nama atau marga kita di KTP ditulis secara salah, kita selalu ‘memaklumi’ penulisan yang salah kata-kata Li Niha oleh orang lain tanpa pernah berusaha mengoreksinya.

Kehadiran kaset-kaset lagu pop Nias di satu pihak membanggakan kita, tetapi di pihak lain menjadi lahan yang subur untuk menyebarkan berbagai kekeliruan penulisan bahasa Nias yang sebenarnya tak perlu terjadi.

Kini, setiap kali berjumpa dengan orang-orang yang pernah menginjakkan kakinya di Nias, kita tentu tidak jarang menelan rasa ‘jengkel’ apabila yang bersangkutan menyapa kita dengan ramahnya, sambil mengucapkan kata-kata Nias dalam kalimat dengan struktur dan gaya buatan mereka sendiri dan tanpa arti yang jelas seperti: Manere-nere si alabe …, atau menyapa kita dengan salam khas kita “Ya’ahowu” tetapi dengan pengucapan gaya baru: Yahobu. Atau membiarkan pengucapan marga kita “dimodifikasi” sehingga muncul marga-marga “generasi baru” Ono Niha ciptaan orang luar: Fao, Bulolo, Bulele, Daki, Daci, Gule, Jay, Halewa, Lahiya, Sega, Talaubanua, Saluku, Waruhu dan sebagainya (catatan: sebuah surat kabar lokal tak “jemu-jemunya” mengulangi kekeliruan ini, dan bahkan terkesan tak peduli perihal penulisan nama atau marga Ono Niha dalam setiap pemberitaannya).

Berbagai keprihatinan yang berkaitan dengan nasib Li Niha berpulang kepada kita semua. Kita Ono Niha-lah, yang memutuskan apakah ‘konvensi’ yang dipaksakan dari luar itu kita terima begitu saja … kitalah yang harus mengambil sikap MENOLAK ‘konvensi – konvensi’ baru yang bukannya memperkaya Li Niha secara sehat, tetapi justru meracuninya.

*Tulisan ini pertama kali ditayangkan di Nias Portal, Kamis, Oktober 09 2003, dan ditayangkan kembali dalam Blog Yaahowu 20 September 2006.

Facebook Comments