Duduk Satu Meja

Wednesday, September 13, 2006
By nias

E. Halawa*

I Catatan 12 September 2006

Ajakan Ketua DPRD Nias, Ingati Nazara kepada Tim Pemrakarsa Propinsi Tapanuli untuk datang ke Nias membicarakan kemungkinan bergabung / tidaknya Nias ke dalam Propinsi Tapanuli kita sambut baik.
Inilah sikap yang pas dari seorang pengemban amanat sebagai Ketua DPRD dari sebuah daerah yang otonom. Tentu saja, kita baru melihat sebatas apa yang kita baca dari pemberitaan surat kabar. Kita masih menunggu sejauh mana para pejabat politik di Nias mengantisipasi kedatangan Tim Penggagas (kalau pada akhirnya datang ke Nias), mengantisipasi tawaran ajakan bergabung, dan di atas semuanya: mengantisipasi konsekuansi sosial-ekonomi-politk dari keputusan yang pada akhirnya harus mereka ambil.

Menunggu Secara Antisipatif
Sikap terbaik kita (baca: Nias) adalah menunggu dengan sikap antisipatif. Menunggu memang berkonotasi “pasif”, tetapi menunggu dengan sikap antisipatif berarti menunggu dengan tenang, berkepala dingin dan penuh perhitungan. Nias memang harus menunggu dengan tenang, jangan terburu-buru (böi badu duo ba wehasu-hasu).

Dari berbagai informasi yang kita miliki, kita tahu bahwa gagasan pembentukan propinsi Tapanuli pada awalnya berasal dari “seberang sana”, dari teman-teman kita orang Tapanuli. Maka, biarlah mereka yang datang, mendekati, menyapa dan mengajak kita. Apabila pada akhirnya mereka datang, mendekati, menyapa dan mengajak kita, maka kita “menyambut” mereka dengan tatakrama orang Nias: memberikan penghargaan dan penghormatan layaknya seorang tamu. Budaya Nias memang sangat menghargai tamu, apalagi kalau tamu tersebut datang dengan segala niat baik.

Maka, segera setelah “basa-basi”, kita (tuan rumah) dan tamu (tim pemrakarsa) mulailah membicarakan persoalan secara tenang dan jernih dalam “satu meja”. “Duduk satu meja” adalah simbol dari kesetaraan, simbol dari saling menghargai, simbol dari persahabatan yang sejati. Tidaklah pada tempatnya apabila Tim Pemrakarsa hanya berbicara melalui media massa kepada kita (masyarakat Nias) untuk membicarakan hal yang sepenting ini. Tidaklah pada tempatnya apabila Tim Pemrakarsa menagih janji Pemda Nias untuk segera mendukung Propinsi Tapanuli hanya melalui pesan lewat surat kabar. Dan … pada akhirnya, tidaklah pada tempatnya kalau Tim Pemrakarsa mengharapkan Nias datang dengan nada mengiba untuk menyatakan dukungannya terhadap pembentukan Propinsi Tapanuli.

Langkah awal dari Ketua DPRD Nias seperti yang disinggung di depan tadi melegakan. Akan tetapi kita masih harus menunggu langkah-langkah berikutnya. Dan itu berarti: pembicaraan antara DPRD dan Pemda, dan kalau perlu melibatkan beberapa tokoh adat dari berbagai daerah di Nias.

II – Catatan 13 September 2006
Hari ini, Rabu 13 September 2006, SIB memberitakan hasil pertemuan antara Tim Gabungan (Panitia Pemrakarsa & Pembentukan Propinsi Tapanuli (P4T) dan utusan Pemerintah Propinsi Sumut) dengan DPRD dan Pemda Nias yang berlangsung di Gunungsitoli, Selasa (12 September 2006).

Kita menyampaikan beberapa catatan akan perkembangan terkini ini.

Pertama, kita menyambut baik kedatangan Tim Gabungan ke Nias, bertemu muka dengan wakil-wakil rakyat dan Pemda Nias. Ini adalah “awal” yang positif – awal dibukanya dialog yang terbuka, tulus, berterus terang untuk membahas bersama kemungkinan “penyatuan” masa depan dalam sebuah propinsi yang sedang dipersiapkan kelahirannya. Kedua pihak pada akhirnya “duduk satu meja”.

Kedua, ini baru “awal” dari dialog, yang menuntut langkah-langkah selanjutnya (follow-up). Butir-butir pesan, pendapat, dan pertanyaan yang disampaikan oleh pihak tuan rumah (DPRD dan Pemda Nias) haruslah menjadi bahan perhatian pihak P4T. Pertemuan pertama ini belum menyelesaikan segalanya; sebaliknya justru “menghadirkan segalanya” di atas “meja perundingan”. Maka, pihak P4T dan DPRD/Pemda Nias harus memilah-memilah, menyusunnya menjadi butir-butir bahasan dalam pertemuan-pertemuan lanjutan.

Ketiga, dari pemberitaan SIB hari ini tentang pertemuan itu, kita juga bisa menarik kesimpulan bahwa: masyarakat Nias yang diwakili oleh pihak DPRD dan Pemda Nias mendukung pembentukan Propinsi Tapanuli, tetapi belum menyampaikan keputusan tentang bergabung – tidaknya Kabupaten Nias dalam Propinsi Tapanuli. Ini adalah dua hal yang berbeda, dan harus difahami secara jelas oleh kedua pihak. Keputusan Nias untuk bergabung atau tidak bergabung haruslah didasarkan atas hasil-hasil pembicaran berikutnya yang diharapkan akan mengkaji berbagai faktor secara mendalam.

Keempat, “safari” P4T sewajarnya diteruskan ke Nias Selatan, yang walaupun sudah menyatakan “dukungannya” lewat DPRD Nias Selatan, perlu diajak duduk satu meja.

Kelima, DPRD dan Pemda Nias diharapkan membentuk Tim Tunggal yang mewakili Nias dalam setiap pembicaran berikutnya dengan pihak P4T. Akan lebih baik – kalau memungkinkan – membentuk Tim Gabungan Nias dan Nias Selatan. Tim Tunggal (Tim Gabungan) inilah yang akan merumuskan aspirasi masyarakat Nias yang “disaring” selama proses pembahasan gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli di Nias.

Keenam, keputusan yang akan diambil oleh Tim Gabungan (Tim Tunggal) akan mempengaruhi Nias dalam jangka panjang. Maka, wajarlah kalau DPRD dan Pemda Nias / Nias Selatan memberikan waktu yang “cukup” bagi masyarakat Nias untuk menyampaikan pendapat mereka. (*Böi tabadu duo ba wehasu-hasu. **Ligi-ligi siliwi, fa lõ tofesu mbagi; hese-hese nazese, fa lö tofesu gahe).

*Dimuat di Blog Yaahowu, 13 September 2006

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

September 2006
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930