P. Fidelis Mendröfa, OFM Cap.

Seorang Bapak yang sudah tua renta, begitu gusar, apakah istrinya peduli pada masalah yang sedang dialaminya. Maka, pada suatu malam, ketika istrinya sedang duduk santai di kursi tamu, ia menghampiri dari belakang sambil berkata dengan halus, “Sayang, maukah mendengarkan aku?”.Dia tidak mendapat reaksi apa-apa. Kemudian ia mencoba mendekat sambil berkata : “Sayang, maukah mendengarkan aku?” Juga tidak ada reaksi sama sekali. Akhirnya ia berputar dan menghadap istirinya sambil berkata agak keras: “Sayang, apakah kamu mendengarkan aku?.” Seketika itu juga, istrinya bereaksi dan memandang matanya dengan geram sambil berkata: “Thomas, untuk ketiga kalinya, saya mendengarkanmu!!!”

Komunikasi
Membangun sebuah komunikasi, sangat ditentukan oleh reaksi dan penghargaan yang kita tunjukkan satu sama lain. Dalam pengalaman pasangan keluarga di atas, komunikasi tidak jalan karena reaksi dari sang istri dingin, ia beranggapan, “Ah… untuk apa ditanggapi, tidak ada toh yang baru, saya tahu siapa dia (suami saya)”. Kebuntuan komunikasi juga dialami oleh Yesus sendiri dengan orang-orang sekampung (Mrk 6:1-6). Yesus tidak mendapat respons (penghargaan) dari mereka, sehingga Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka (Mrk 6:5). Yesus merasa heran atas ketidakpercayaan mereka (ayat 6).

“Ketidakmampuan” Yesus
Inilah salah satu pernyataan yang sangat mengejutkan dalam seluruh Injil, di mana Yesus tidak mampu membuat mukjizat. Bukan karena Ia tidak mampu, tetapi karena tidak mudah berbuat begitu saja. Adakah sesuatu yang tidak mungkin bagi Yesus? Dalam konteks ini, Injil mengatakan “ya”. Sebab tidak mungkin bagi Yesus membuat mukjizat dalam situasi tidak ada iman. Yesus mampu melakukan sesuatu dan ingin melakukan sesuatu untuk orang-orang sekampung dan untuk kita. Tetapi Ia membutuhkan iman untuk menerima kuasa-Nya. Ingat kisah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan (Mrk 5:25-34). Banyak orang menyentuh, mendorong dan menjamah Yesus dalam kerumunan besar. Tetapi tidak ada sesuatu yang terjadi, mereka tidak disembuhkan. Mengapa? Karena mereka tidak menyentuh Yesus dengan iman. Tetapi ketika perempuan itu menyentuh Yesus dengan iman, seketika itu juga kuasa penyembuhan keluar dari Yesus. Segala kuasa dan kemampuan ada pada Yesus. Kitalah yang menjadikan Yesus tidak mampu karena kekurangan iman.

Orang-orang di Kapernaum mengalami kekecewaan dan merasa terluka karena “ketidakmampuan” Yesus membuat mukjizat di antara mereka. Maka mereka menolak Yesus. Tidakkah demikian juga dengan kita? Kitapun acapkali kecewa, putus asa, sedih dan malah terluka menyaksikan kebisuan Tuhan atas yang menghantui diri dan dunia kita sekarang ini. Di mana-mana terjadi kekerasan, ketidakadilan, pembunuhan, bencana, dan sebagainya. Dalam berbagai peristiwa itu Yesus seakan-akan tidak konsern dan peduli; padahal, sebaliknyalah yang terjadi. Bukankah hal ini terjadi karena kekurangan iman di antara umatNya? “Yesus merasa heran atas ketidakpercayaan mereka”(ayat 6).

Tidak dihargai
Mengapa orang sekampung tidak percaya kepada-Nya? Alasannya kata Yesus adalah “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya” (ayat 4). Orang-orang Kapernaum berpikir, mereka tahu segala sesuatu tentang Yesus. Mereka tahu keluarga, latarbelakang pendidikannya dan itu tidak ada yang mengesankan. Memang, sama halnya dengan pengalaman harian kita, di mana berpikir bahwa kita tahu segala sesuatu tentang keluarga, tetangga, gereja , tempat kerja dan lingkungan kita. Toh yang kita lihat pastor / pendeta yang sama, kotbah yang sama, suami yang sama, istri yang sama, anak yang sama, tetangga yang sama dan sebagainya. Sikap kita sama dengan reaksi istri tadi, dingin dan menganggap “Ah bosan …tidak ada yang baru, saya tau siapa dia (suami saya).” Dan akhirnya tidak ada yang mengesankan. Maka tidak heran, bahwa ada banyak orang mencari hal-hal yang sensasional yang dapat menyulap sesuatu dalam bentuk dan bungkusan yang baru.

Nah, Yesus mau meluruskan cara pikir dan beriman orang sekampung. Yesus menegaskan dengan tegas bahwa justru dalam hal-hal biasa dan sederhana kuat kuasa Allah berdaya ampuh. Sebab dalam diriNya sendiri Yesus tetap mampu melakukan sesuatu. Kita sendirilah yang membuat Yesus tidak mampu karena kekurangan iman. Maka dari kita dibutuhkan reaksi dan penghargaan (iman) untuk mengalirkan kuat kuasa Yesus. Kita harus menyentuh Yesus dengan iman, seperti perempuan yang menderita pendarahan. Masihkah kita mencari hal-hal yang sensasional yang dapat menyulap sesuatu dalam bentuk dan bungkusan yang baru dan melupakan hal-hal sederhana yang ada di depan mata kita? “Yesus merasa heran atas ketidakpercayaan mereka”(ayat 6).

Auckland-New Zealand, September 2006.

Facebook Comments