Sinyal “Kabur” Dari Seberang Sana

Sunday, August 27, 2006
By nias

*Tulisan Penutup Diskusi Online I Situs Yaahowu

E. Halawa*

Nama Tapanuli sebagai aspek geografis dan Batak sebagai aspek etnisitas telah lama dikenal di republik ini, bahkan telah memiliki hubungan khusus dengan negara lain seperti Jerman” Prof. Dr. Robert Sibarani – Seminar Nasional “Pembentukan Provinsi Tapanuli: Dari dan untuk Siapa” di Medan, tanggal 19 Agustus 2006.

Bupati Nias Dihimbau Segera Memberikan Rekomendasi Setuju Mendukung Pembentukan Propinsi Tapanuli“ Judul Berita Harian SIB, 23 Agustus 2006.

Siapa yang menghalangi pembentukan Propinsi Tapanuli akan dilindas roda reformasi”. Pdt D B Tampubolon, SH STh – SIB tgl 23 Juni 2006.

***
Situs Yaahowu, selama satu setengah bulan terakhir, menyelenggarakan Diskusi Online dengan topik: Menyambut dan Menyikapi Kelahiran Propinsi Tapanuli (tulisan-tulisan terkait dapat dilihat dalam arsip Forum Politik). Diskusi Online ini, yang pertama diselenggarakan oleh Situs Yaahowu, sengaja mengambil topik ini karena berbagai alasan (lihat tulisan Pengantar Diskusi).

Gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli, mau tak mau, suka tidak suka, harus diikuti dan disikapi secara aktif, kritis dan dinamis oleh masyarakat Nias. Aktif, karena secara geografis Nias berbatasan langsung dengan daerah Tapanuli, sehingga realisasi pembentukan propinsi ini akan memaksa Nias mengambil sikap. Kritis, karena gagasan ini tidak terlepas dari manuver-manuver sosial dan politik di kedua pihak: para penggagas di pihak pertama, dan Nias sebagai entitas yang “diajak” bergabung. Dinamis, karena manuver-manuver tadi melahirkan ide-ide dan paradigma-paradigma baru dan terus berkembang yang bisa saja mempengaruhi sikap Nias sebagai sebuah entitas tunggal.

Keaktifan Nias dalam menyikapi isu ini telah ditunjukkan oleh pernyataan mendukung oleh kedua Kabupaten di Nias, dan terlibatnya tokoh politik asal Nias dalam “kepanitiaan” pembentukan Propinsi Tapanuli.

Sikap kritis dari Nias, barangkali baru melalui suara-suara kalangan awam, sebagaimana diperlihatkan selama Diskusi Online I ini. Kita belum mencatat sikap kritis yang datang dari pejabat politis di kedua kabupaten di Nias. Alil-alih kritis, pernyataan dukungan dari pihak Kabupaten Nias Selatan melalui Hadirat Manaö, Ketua DPRD Nias Selatan, terkesan mengiba, atau bisa juga diartikan sebagai nada merendah yang dilebih-lebihkan, sehingga kita tidak menangkap ketulusan di dalamnya.

Mengamati perkembangan dari awal hingga saat ini, kita memang harus semakin memperkuat sikap aktif, kritis dan dinamis itu.

Ada dua hal yang patut menjadi perhatian kita. Pertama, dari pihak kita, masyarakat Nias. Kelihatan sekali kita tidak memiliki “kesatuan bahasa” dalam menyikapi hal yang krusial semacam ini. Dukungan resmi yang datang dari Kabupaten Nias Selatan seperti “petir di siang bolong yang cerah”. Kesan kita: terlalu terburu-buru. Kita tidak menemukan alasan yang kuat untuk bisa menerima begitu saja keputusan terburu-buru itu. Mengapa misalnya, para pejabat di kedua Kabupaten tidak berembuk terlebih dulu, menyatukan sikap dan pandangan, menyusun secara bersama bahan-bahan “tawar menawar” politik demi kepentingan Nias sebagai sebuah entitas tunggal. Mengapa tidak sempat dipikirkan resiko dari sikap “jalan sendiri-sendiri” yang bisa memperlemah kohesitas perjuangan bersama ?

Kita tidak tahu kapan pada akhirnya Pemda Kabupaten Nias mengeluarkan sikap resmi. Apa pun sikap Pemda Nias kelak, kita berharap: pihak Pemda Nias mempertimbangkan berbagai faktor secara tenang dan dengan “kepala dingin”. Harapan ini menjadi sangat relevan kalau kita kaitkan dengan perkembangan paling akhir, terutama yang muncul dalam seminar nasional “Pembentukan Provinsi Tapanuli: Dari dan untuk Siapa” di Medan, tanggal 19 Agustus 2006 (Kompas Online 19 Agustus 2006).

Inilah hal kedua yang harus kita perhatikan itu. Salah satu “butir” yang mengemuka dalam Seminar tersebut adalah pernyataan Prof. Dr. Robert Sibarani seperti yang dikutip di awal tulisan ini. Pernyataan itu memang agak mengejutkan, karena dikemukkan secara resmi dalam forum yang juga secara resmi membahas pembentukan Provinsi Tapanuli.

Pernyataan ini mengejutkan karena secara langsung memperlihatkan bahwa para penggagas atau sekurang-kurangnya sebagian dari para pemikir di belakang gagasan pembentukan Provinsi Tapanuli masih menunjukkan sikap “kesukuan” dalam usaha menggolkan pembentukannya. Sebenarnya bagi kita, masyarakat Nias, hal ini tidaklah manjadi masalah, seandainya saja pada perkembangan terakhir, para penggagas tidak secara aktif mengajak Nias dalam gerakan pembentukan Propinsi Tapanuli itu. Maka, kita seakan (atau memang sedang) mendapat “sinyal kabur” dari para pemrakarsa pembentukan Propinsi Tapanuli ini.

Barangkali ada yang secara sinis akan berkomentar: “Ah, itu saja pun dipermasalahkan”. Memang, hal ini – gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli yang didasarkan atas salah satu etnis, dalam hal ini etnis Batak – bisa menjadi masalah serius kelak, terutama bagi daerah-daerah yang masyarakatnya beretnis lain, dalam konteks ini: Nias. Tanpa “penjelasan” yang benar-benar jelas tentang ramifikasi nama “Tapanuli” dalam gagasan itu, wajar sekali kalau masyarakat Nias bersikap “was-was”. Mengapa ? Ya karena sinyal-sinyal kabur tadi.

Kita, masyarakat Nias, tidak mau “didegradasi” menjadi sebuah sub-etnis dan sub-kultur dari etnis dan kultur Batak. Di masa lalu, sudah ada contoh yang menjurus ke arah itu, melalui beberapa penulis dari rekan kita suku Batak (baca: P. Johannes Hammerle: Asal Usul Masyarakat Nias, 2001). Dan contoh terakhir adalah seperti yang dikutip di awal tulisan ini.

Kita juga membaca lewat surat kabar pernyataan yang mungkin sebenarnya ditujukan untuk “menyemangati” gerakan pembentukan propinsi Tapanuli ini, tetapi justru bernada sebaliknya. Misalnya, ucapan Pdt D B Tampubolon, SH STh sebagaimana dikutip di awal tulisan ini. Pernyataan semacam ini, seharusnya dihindari, karena justru mengundang antipati karena ada semacam nada “ancaman” di sana.

Karena hal-hal yang diuraikan di depan, judul tulisan penutup ini sengaja dipilih yang mencerminkan suasana aktif, kritis dan dinamis tadi.

Lantas, bagaimana ? Apakah kita patah arang ? Tidak juga. Akan tetapi melalui sikap aktif, kritis dan dinamis, kita akan terus mengikuti perkembangan selanjutnya. Sebenarnya, bukan hanya sekedar “mengikuti”, tetapi kalau bisa secara aktif, kritis dan dinamis memformulasikan syarat-syarat “partisipasi” kita dalam wacana dan kristalisasi gagasan-gagasan ke arah realisasi pembentukan Propinsi Tapanuli itu. Kita telah memiliki bahan-bahan untuk itu. Diskusi Online I ini telah melahirkan banyak gagasan dan pemikiran yang segar, kritis dan dinamis yang dapat kita manfaatkan untuk itu. Bahan-bahan ini akan kita sampaikan kepada pihak-pihak yang terkait.

***
Diskusi Online I ini juga membuktikan bahwa kita, masyarakat Nias – khususnya yang bisa mengakses internet – bisa dan mampu berinteraksi secara kritis dengan ide-ide yang tidak selalu sama (bahkan tidak jarang berseberangan) tanpa harus melahirkan atau menimbulkan konflik pahit, emosi yang meledak-ledak, polarisasi yang menjurus pada perpecahan. Sama sekali tidak. Gagasan-gagasan yang terdokumentasi dalam forum ini akan menjadi bukti sejarah di masa depan, bagi generasi penerus kita, bahwa kita – masyarakat Nias – bisa juga berkumpul dan “mempermasalahkan” satu hal tanpa menciptakan “masalah” baru.

Akan tetapi kalau kita mau merendah, kita juga boleh mengatakan: apa yang kita capai ini – yakni suasana hangat bersahabat dan bersaudara di tengah perbedaan pendapat yang tajam sekali pun – bukanlah prestasi yang baru bagi kita, generasi Nias zaman ini. Hal itu sebenarnya merupakan warisan dari leluhur kita yang biasa menuntaskan “perkara” masyarakat Nias di zaman dulu dalam suasan musyawarah dan damai. Kita hanya sekedar mewarisi, walau terkadang kita melupakannya.

***
Sebelum menutup secara resmi Diskusi Online I ini, saya – mewakili Tim Redaksi Situs Yaahowu – menyampaikan terima kasih yang tulus kepada para peserta Diskusi: Bapak Mathias J. Daeli, Bapak Daliati H. Gul, Ibu Onie Fau, P. Fidelis Mendrfa, P. Thomas Maduwu, Ibu Esther Telaumbanua, Bapak Apollo Lase, Bapak Folo Nehe, Bapak Antonius Gea, Bapak Etis Nehe, Bapak Ilham Mendrfa dan Ibu Noniawati Telaumbanua. Tanpa partisipasi Anda semua, Diskusi Online I ini barangkali masih baru sampai pada taraf gagasan. Berkat partisipasi Anda semua, kita – masyarakat Nias – mendapat pencerahan tentang sebuah masalah yang sedang aktual yang bisa mempengaruhi masa depan Nias sebagai sebuah entitas tunggal. Khusus kepada Bapak Mathias J. Daeli, Tim Redaksi menyampaikan terima kasih khusus atas: (1) kesediaan beliau mewakili peserta memberikan masukan yang sangat beharga, dan (2) atas gagasan-gagasan beliau yang mencerahkan kita – generasi yang lebih muda.

Sebenarnya, selain nama-nama yang disebut di depan, Redaksi sempat mengirim undangan lewat email kepada bapak-bapak: M. Yusuf Lmbu, Edison Hulu, Hekinus Mana, Fenuel Zalukhu, Eben Hia, Fidelis Waruwu, Yaatul Gul, Kris Sarumaha dan Saharman Gea. Sebagian dari mereka telah menyampaikan kabar atas ketiadaan waktu berpartisipasi dalam Diskusi Online I ini. Hingga saat-saat terakhir, kami tidak bisa menghubungi lewat email bapak-bapak Fonali Lahagu, Alio Fau dan Idealisman Dachi, yang juga muncul dalam daftar undangan kami.

Akhirnya, kepada teman-teman saya dalam Tim Redaksi: Etis, Noni, Ilham dan Eben, saya mengucapkan terima kasih khusus karena kerja kita bersama di “belakang layar” memungkinkan terealisasinya gagasan ini.

Dengan ini saya – mewakili Tim Redaksi – menutup secara resmi Diskusi Online I Situs Yaahowu. Sampai berjumpa pada Diskusi Online berikutnya dengan topik bahasan yang lain.

Yaahowu !

2 Responses to “Sinyal “Kabur” Dari Seberang Sana”

  1. 1
    Pikiran Daeli Says:

    Saya tertarik dengan kalimat: “Siapa yang menghalangi pembentukan Propinsi Tapanuli akan dilindas roda reformasi”. Pdt D B Tampubolon, SH STh – SIB tgl 23 Juni 2006….

    Saya melihatnya sebagai seseorang bukan menjadikan diri sebagai seorang yang kurang pada tempatnya…. Mungkin pak Pdt D B Tampubolon, SH STh, merasa sedang menyampaikan nubuatan atau Firman Tuhan, sehingga barang siapa yang tidak mematuhinya akan binasa….. dan lagi, siapa yang menghalangi pembentukan propinsi Tapanuli? Kalau menolak bergabung, bukan berarti menghalangi. Namun, memang aneh, yang banyak melempar statement dalam proses ini adalah para pejabat gereja, yang seharusnya lebih banyak beicara mengenai Firman Tuhan, bukan pemekaran.

    Dari awal, sudah jelas dalam proses pembentukan Propinsi tersebut, Nias hanya digunakan sebagai pelengkap, bahkan seakan-akan pejabat dan masyarakat Nias terkesan di-dikte oleh “etnis” tertentu jika dilihat dari berbagai media masa. Jika demikian, bagaimana lagi nasibnya Nias jika sudah jadi dan bergabung dengan propinsi tersebut? Baru awal saja, sudah demikian kurang dihargai….

    Dilihat dari rencana letak Ibu kota Propinsi juga, itu sangat jelas bahwa itu hanya membangun Tapanulinya. Jika benar mereka memperhitungkan Nias, maka mereka harus dengarkan masyarakat Nias.

    Jadi, Nias tetaplah Nias, bukan Tapanuli. Dari dulu itu sudah jelas, diakui dan harus tetap diakui. Kalau memang Nias ingin digabung dengan Propinsi baru, namanya juga harus mencermintkan beradaan Nias itu sendiri, misalnya Propinsi TANI (Tapanuli Nias). Jika tidak, jangan Nias dilebur sehingga menjadi debu….. orang Nias, aoha mate moroi na’aila…..

    Tetapi substansinya sebenarnya, jaminan apa yang diberikan kepad Nias untuk kesejahteraan masyarakat jika bergabung dengan Propinsi baru? Jika adar awal saja pembentukan sudah ada indikasi kurang dihargai, bagaimana nantinya?

    Dari pada nanti minta “cerai lagi” lebih baik jangan nikah dulu…. wait and see…adakah manfaatnya? Setidaknya janga bergabung pada kesempatan pertama….pastikan manfaat bagi Nias dan dihargai melalui namanya…..!

  2. 2
    thya a.dc Says:

    shayallom ya’ahowu!
    saya tertawa menanggapi pernyataan bp.Pdt.DB Tampubolon,yang tidak sepantasnya diucapkan oleh seorang bp.Pendeta,tapi yah….jaman modern sekarang ini emang edan dan aneh ya? Barang kali kurang kerjaan atau memang karna rakus jabatan sehingga lupa diri.menurut saya itu kayak ngancam dan mau nakut-nakutin orang nias pada umumnya,ha…haaaaa belum tau dia bahwa orang nias nggak ada takutnya.seharusnya mikir dulu pak..baru bicara,nias itu tidak akan pernah bergabung dengan Tapanuli.Sekali Nias yah..tetap Niaslah.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

August 2006
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031