Mathias J. Daeli

I
Saya atas nama peserta diskusi; pertama, menyampaikan kepada: Situs Ya’ahowu dan semua para pengunjung atau netters “Ya’ahowu”. Salam khas o­no Niha ini maknanya menggambarkan sifat kerohanian o­no Niha dalam hidup bermasyarakat. Kedua, secara khusus pula menyampaikan “terima kasih” atau “saohagõlõ” kepada Situs Ya’ahowu atas penyelenggaraan forum diskusi (lebih tepat forum penyampaian pendapat), terkait gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli.

Perlu ditegaskan bahwa, ikut serta dalam diskusi ini karena kesadaran berdemokrasi.Menyadari bahwa hak setiap kelompok masyarakat, di atas wilayah tertentu dalam negara Indonesia, untuk mengajukan daerahnya sebagai daerah otonom. Sadar bahwa keikutsertaan dalam forum ini, bukanlah faktor penentu terwujud atau tidak terwujud gagasan Propinsi Tapanuli. Adalah undang-undang dan peraturan hukum yang berlaku lainnya, yang secara objektif, yang menentukan terpenuhi atau tidak terpenuhi persyaratan minimal sehingga yang digagaskan Propinsi Tapanuli dapat dibentuk.

Akan tetapi karena wilayah yang digagaskan untuk menjadi wilayah Propinsi Tapanuli berbatasan dengan Tanõ Niha, maka didorong oleh rasa tanggung-jawabterhadap masa depan masyarakat o­no Niha yang lebih baik, wajar dan bijaklah masyarakat o­no Niha melihat dari berbagai aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dampak dari gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli itu.

Dipandu oleh judul Topik, yang seakan-akan Propinsi Tapanuli telah di depan mata, peserta forum diskusi menyampaikan tanggapan yang beragam dan dapat dikelompokkan sebagai berikut.

  1. Tanõ Niha bergabung dengan Propinsi Tapanuli, ada usul dengan:
  • perubahan nama menjadi Propinsi TANI (Tapanuli dan Nias)
  • tanpa perubahan nama
  1. Tanõ Niha tidak bergabung Propinsi Tapanuli, dan
  • tetap dalam Propinsi Sumatera Utara
  • membentuk Propinsi Nias sendiri, atau
  • membentuk Propinsi baru bersama dengan Mentawai,
  1. Sebelum diputuskan bergabung atau tidak bergabung, lebih dulu diminta pendapat masyarakat o­no Niha,
  1. Utamakan mempersiapkan mobilisasi mental masyarakat o­no Niha untuk pembangunan. Sebab kalau sudah percaya diri (PD), tidak menjadi masalah masuk Propinsi mana pun.

Keberagaman isi tanggapan merupakan presentasi kepedulian peserta menanggapi yang diminta topik. Suatu ekspresi kebebasan berpendapat menyikapi masa depan pembangunan Tanõ Niha dengan tidak melupakan pengalaman “pahit” selama ini. Kesadaran bahwa pembentukan Propinsi Tapanuli baru pada taraf gagasan dan bagi Tanõ Niha masalah bukan pada pilihan bergabung atau tidak bergabung. Masalah pembentukan suatu propinsi bukan semata-mata masalah administrasi.

Masalah pemekaran daerah bukanlah masalah di mana kita berurusan dengan gagasan-gagasan yang jelas, tepat, dan pasti – di luar setiap keraguan yang masuk akal.

Karena Propinsi Tapanuli masih dalam “gagasan”, maka tanggapan para peserta akan berbeda apabila Redaksi memberikan judul lain, tetapi dengan tujuan sama. Misalnya: Apa yang harus dilakukan Ono Niha apabila wilayah tetangga Tanõ Niha mengajukan diri untuk menjadi Propinsi tersendiri ? Tanggapan pasti lebih luas dan tertuju pada introspeksi diri serta dapat terhindar pada pembahasan yang bersifat sentimen. Ini hanya salah satu contoh. Tetapi peserta dapat memahami yang terpikir oleh Redaksi dengan pengajuan judul topik seperti itu, yaitu : dipicu oleh sesuatu rasa yang timbul dari “kepedulian dalam kegelisahan” terhadap pelaksanaan pembangunan Tanõ Niha. Tetapi, apakah perlu kita tetap “gelisah” ? Tentu tidak. Harus mulai bertekad percaya pada kekuatan sendiri.

Bukan uang, bukan pula sumber daya alam yang berlimpah, bukan karena pejabat di Propinsi induk yang baik, atau pun penggunaan teknologi tinggi yang menjadikan pembangunan berhasil atau tidak berhasil, melainkan kesiapan mental masyarakat Ono Niha sendiri. Misalnya. Tanõ Niha (Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan) berada dalam Propinsi yang pejabatnya baik-baik, tetapi kalau pejabat dari Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan tidak melaksanakan tugasnya dengan baik maka pembangunan di Nias tetap dalam “penderitaan eksistensial”. Dan tentu lebih parah lagi apabila para pejabat di Tingkat Propinsi menganut “tribalisme” (baca tulisan Basyral Hamidy Harahap) yang berakibat menganak-tirikan Tanõ Niha dan para pejabat dari Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan tidak berani bersikap tegas menolak tribalisme itu karena alasan pribadi. Demikian juga mengenai segi geografis atau jarak, dengan kemajuan teknologi komunikasi dan trasportasi, hampir tidak memiliki pengaruh yang dominan dalam kelancaran pelaksanaan tugas-tugas pembangunan.

II
Pasti telah ada di meja Redaksi informasi lengkap (relatif) mengenai gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli. Tetapi tidak ada salahnya kalau secara selintas –layang saya sampaikan di sini.

Baik di tingkat Propinsi mau pun di tingkat Pusat, yang telah nampak adalah bahwa gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli masih memerlukan pemikiran yang mendalam. Ketika Gubernur Sumatera Utara T. Rizal Nurdin (almarhum), mengatakan bahwa tidak akan merekomendasikan pembentukan Provinsi Tapanuli, alasan yang dikemukakan adalah karena melangkahi aturan dan prosedur yang telah ditetapkan dan meminta agar sebagian masyarakat tidak memaksakan pembentukan propinsi tersebut.

Tetapi kemudian untuk menanggapi usulan dari berbagai elemen masyarakat, Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara membentuk tim untuk meninjau rencana pemekaran itu melalui Surat Keputusan Nomor 130.05/2442.K/2004 tanggal 21 September 2004 tentang Pembentukan Tim Peneliti Pembentukan Provinsi Tapanuli (Harian Suara Pembaruan tanggal 2 Nopember 2004).

Alasan lain yang menjadi kendala adalah penghasilan asli daerah yang belum cukup. Dewasa ini penghasilan asli daerah yang digagaskan calon propinsi Tapanuli belum cukup membiayai diri sendiri. Hal ini sangat mendasar, menjadi syarat utama otonomi daerah, karena pendapatan asli daerah ini yang diharapkan sebagai pendorong kemajuan kesejahteraan rakyat setempat.

Kalau kita mengikuti tulisan Basyral Hamidy Harahap dalam “Tribalisme: Sisi Gelap Otonomi Daerah”, Dr. Nainggolan mengatakan “Djika Daerah Istimewa Sumatera Timur berdiri sendiri, ini berarti kematian Batak”. Dengan perkataan lain Batak atau Wilayah Tapanuli tidak boleh memisahkan diri dari Sumatera Timur yang subur sumber keuangannya. Juga dari segi budaya, gagasan pembentukan Propinsi menghadapi kendala. Seperti disinyalir Basyral Hamidy Harahap dalam tulisan tersebut diatas “… bahwa di balik semboyan peningkatan kesejahteraan masyarakat Sumatera Timur atau Tapanuli, ada muatan semangat tribalisme”.

Apa yang disinyalir oleh Basyral ternyata dipertegas dalam seminar nasional “Pembentukan Provinsi Tapanuli: Dari dan untuk Siapa” di Medan, tanggal 19 Agustus 2006. Dalam seminar itu, sosiolog Prof Dr Robert Sibarani mengatakan “…pembentukan daerah di sepanjang pesisir barat Sumatera Utara memiliki potensi budaya dan alam yang cukup. Nama Tapanuli sebagai aspek geografis dan Batak sebagai aspek etnisitas telah lama dikenal di republik ini, bahkan telah memiliki hubungan khusus dengan negara lain seperti Jerman.” Jadi jelas gagasan DASAR PEMBENTUKAN Propinsi Tapanuli adalah etnis Batak.

Pada kesempatan seminar yang sama Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Dr Hotman Siahaan, bertanya di depan peserta: “Apakah cukup membentuk sebuah provinsi hanya berdasarkan garis kultural saja” ? Selanjutnya menurut Hotman, “… pembentukan Provinsi Tapanuli paling tidak harus memperhatikan faktor perseturuan budaya antara subkultur Batak yang belum selesai“.

Apa yang dikatakan oleh Prof. Dr Hotman Siahaan sangat berdasar. Tokoh Ulayat Pakpak Barat MENOLAK bergabung dengan gagasan Propinsi Tapanuli. Alasan yang diberikan adalah perbedaan dari segi budaya.

Salah seorang dari tokoh Pakpak Barat Azis Angkat mengatakan kepada wartawan “…, jika dipaksa untuk bergabung akan mengundang perpecahan dan konflik horizontal” (Medan Bisnis – Medan, Jumat, 11-08-2006). Mereka tetap dalam Propinsi Sumatera Utara.

Dengan alasan perbedaan budaya juga, tokoh-tokoh dan elemen masyarakat asal Tapanuli Bagian Selatan (Tapanuli Selatan, Medina, dan Padangsidempuan), menolak bergabung dengan Propinsi Tapanuli. Tanggal 3 Mei 2006 di Hotel Grand Angkasa Internasional – Medan, telah dilakukan kesepakatan untuk membentuk Provinsi Tapanuli Bagian Selatan (Analisa May 05, 2006). Tokoh-tokoh itu menambahkan bahwa bukan karena latah, melainkan karena memang budaya berbeda dan merasa telah memenuhi syarat dari segala aspek yang dibutuhkan untuk menjadi satu Propinsi.

Apabila mengikuti perkembangan gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli seperti di atas, maka Ono Niha dan terutama para pejabat di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan harus sungguh-sungguh BIJAK menyikapinya.

Kebijakan ada apabila antara lain banyak membaca. Tolle, lege, tolle, lege (ambil dan bacalah, ambil dan bacalah) demikian bisikan yang didengar dan dilaksanakan oleh St. Agustinus sehingga dia memperoleh keyakinan yang kuat.

Seperti telah dikatakan di atas, masyarakat Ono Niha dan forum diskusi ini tidak menolak untuk pembentukan Propinsi Tapanuli. Tetapi untuk kepentingan masa depan masyarakat Ono Niha sendiri, MAU TIDAK MAU harus mengikuti prosesnya secara aktif. Seandainya terbentuk pun karena telah memenuhi persyaratan menurut peraturan hukum yang berlaku, Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan TIDAK HARUS bergabung. Kalau dasar pembentukan Propinsi Tapanuli itu tetap seperti yang telah diuraikan diatas, yaitu “tribalisme”, maka, jelas masyarakat Ono Niha MENOLAK bergabung.

Keharusan melakukan penolakan bergabung karena kepentingan masyarakat Ono Niha tidak ingin didominasi oleh pihak lain dan karena tribalisme jelas BERTENTANGAN dengan kehidupan bernegara Indonesia.

Karena itu, masyarakat Ono Niha, terutama kaum intelektual, cendekiawan, dan para pejabat Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan harus dari awal ini berusaha aktif MEMAHAMI permasalahan. Masyarakat Ono Niha, pejabat Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan TIDAK PERLU MENGEMIS perhatian dari pihak lain dalam hal ini (baca “Suara Tuhan” dari Nias Selatan, E. Halawa). Harus percaya pada kekuatan diri sendiri. Leluhur Ono Niha telah mewariskan nasehat yang baik untuk dipedomani “Ligi-ligi siliŵi fa lö tofesu mbagi. Hese-hese Nazese fa lö tofesu gahe”.

III
Situs Ya’ahowu telah memulai suatu usaha merintis untuk pengenalan masalah Ono Niha menghadapi masa depan. Khususnya yang terkait dengan gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli. Sasaran dari pembicaraan kita adalah supaya lebih jelas dan lengkap menunjukkan nilai dan sikap yang diperlukan dalam hubungannnya dengan gagasan ini. Dan bila perlu juga untuk membicarakan cara-cara dan metode-metode untuk menstudinya lebih lanjut.

Kalau pembentukan propinsi itu berdasar tribalisme maka alasan untuk menolak sangat jelas dan tegas. Tetapi kalau memang menurut ketentuan peraturan yang berlaku persyaratan minimal terpenuhi untuk terbentuknya Propinsi Tapanuli, dan SEANDAINYA pun Kabupaten Nias dan Kabupatena Nias Selatan mau bergabung, maka masyarakat Ono Niha harus memahami posisinya sejak awal sebagai SUBJEK. Jangan hanya turut dilibatkan untuk mendapatkan rekomendasi mempercepat pembentukannya. Jangan Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan seperti yang dikatakan oleh Saudara Nababan “kalau gabung yang boleh, kalau tidak gabung tidak apa-apa” (lihat tanggapan Apollo Lase dalam forum diskusi ini).

Dan hal ini menunjuk kepada pentingnya peranan kaum intelektual dan para cendekiawan memberikan MASUKAN kepada para pejabat di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan sebelum mengambil keputusan adminitrasi dan politik.

Disadari, seperti saya singgung dalam artikel “Ono Niha Menyikapi Masa Depan” (Situs Ya’ahowu tanggal 15 Agustus 2006), bahwa akhir-akhir ini “Lapisan intelektual (Ono Niha) terasa sulit menempatkan diri” dalam gerak pembangunan. Kesulitan ini disebabkan perbedaan-perbedaan perspektif dalam cara memandang permasalahan yang menimbulkan dilema kekuasaan. Juga karena kurang atau tidak adanya sama sekali komunikasi antara birokrat dan kaum intelektual. Akan tetapi, hal ini sesungguhnya tidak menjadi kekhawatiran apabila semua pihak MENYADARI terhadap tugas yang LEBIH LUHUR, tantangan yang harus dihadapi bersama demi tetap exist-nya Ono Niha dalam perjalanan waktu.

Para intelektual Ono Niha harus berusaha membantu untuk memberikan jawaban-jawaban terhadap masalah-masalah baru yang terkait dengan kepentingan pembangunan Tanõ Niha dalam rangka pembangunan nasional. Berupaya menemukan SINERGI NILAI-NILAI tradisional dengan nilai-nilai modernisasi untuk pembangunan Tanõ Niha. Syarat minimum untuk itu ialah adanya SPRITUALITAS BERKOMUNIKASI yang baik antara satu dengan lainnya. Kemauan dan tekad untuk berkomunikasi yang terpancar dari hati yang jujur adalah suatu kebaikan.

Pihak yang berkomunikasi jangan ingin menjadi bagian dari masalah, karena ingin popularitas, akan tetapi selalu berusaha mencari solusi atas pemasalahan itu. Supaya yang berkomunikasi merasakan permasalahan sebagai permasalahan kolektif dan bukan permasalahan peribadi. Rasakan bahwa kegagalan mencari solusi merupakan kesengsaraan spritualitas, kesengsaraan intelektual, dan kesengsaraan emosi – yang akibatnya terwariskan kepada generasi berikutnya. “KESULITAN KELOMPOK LEBIH BERJAYA UNTUK MENYATUKAN MENGHADAPI LUAR DARI KESENANGAN” (Ernest Renan) .

Komunikasi dialog yang saling menyilang, prospeknya sangat bermanfaat bagi pembinaan semacam kerjasama pada setiap taraf kehidupan masyarakat yang memerlukan mobilisasi kekuatan – kekuatan yang dibutuhkan guna mengatasi permasalahan-permasalahan dan menggerakkan pembangunan. Harus disadari bahwa: jika dalam suatu kelompok masyarakat (juga bangsa), kemungkinan untuk mengadakan suatu dialog menyilang telah DITURUNKAN NILAINYA dan hanya tinggal menjadi suatu polemik di antra tokoh-tokoh, tanpa adanya komunikasi peribadi antara para intelektual dalam kelompok masyarakat yang bersangkutan, maka jelaslah sudah bahwa suatu BAHAYA GAWAT tengah mengancam kehidupan kelompok masyarakat itu.

Adanya daya upaya yang dilakukan dengan direncanakan dan secara kontinyu oleh kaum intelektual dan cendekiawan Ono Niha dan para pejabat terkait untuk memungkinkan dipertahankannya suatu dialog yang terus-menerus, dipertahankan suatu taraf minimal sopan santun di dalam mengambil putusan jika terjadi suatu konflik politik yang gawat, memungkinkan mendapatkan solusi terbaik atas sesuatu permasalahan yang sedang dihadapi.

Kelihatan seperti berada di dunia cita atau berkhayal. Tetapi sebenarnya tidak. Apabila dalam diri mayarakat Ono Niha ADA KESADARAN untuk mewariskan sesuatu yang baik bagi generasi yang akan datang, maka, hal-hal tersebut diatas bukan tidak mungkin dilaksanakan. Dan memang mau tidak mau harus diupayakan kalau tidak mau hilang ADA – nya.

Masyarakat Ono Niha memiliki kemampuan untuk itu. Situs Ya’ahowu telah mulai dan seluruh peserta mengharapkan supaya hasil forum pendapat ini dikirim kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan untuk perhatian serta disebar luaskan.

TERUSKAN PERJUANGAN.

Sekali lagi YA’AHOWU.

Facebook Comments