Nyanyian Bagi Allah – Wawancara dengan Dr. Thomas Markus Manhart

Saturday, August 26, 2006
By nias

Sementara masyarakat Nias berada di tengah berbagai bencana beruntun sejak awal 2000, perhatian terhadap Nias tak memudar. Bencana ini justru membuat Nias menjadi perhatian masyarakat dunia. Ironis memang, Nias semakin dikenal bukan karena warisan tradisi dan budayanya, atau hal-hal yang positif yang melekat padanya tetapi lebih karena letak geografisnya dalam peta dunia, posisinya sebagai salah satu titik bencana dalam “Cincin Api” (Ring of Fire).

Maka setiap kali kita mendengar hal yang positif tentang Nias, kita merasa lega. “Inkulturasi” adalah salah satu dari hal positif itu. Apakah “inkulturasi” itu ? Dalam sebuah wawancara lewat email, Dr. Thomas Markus Manhart, seorang peneliti asal Jerman, menceritakan kepada Yaahowu risetnya tentang budaya Nias dan kaitannya dengan misi Gereja Katolik di Nias. Dr. Manhart, Direktur Artyfakt, Space for Intercultural Arts, Singapura tinggal beberapa waktu di Nias untuk riset doktoralnya berjudul: A Song for Lowalangi – the Interculturation of Catholic Mission and Nias Traditional Arts with special Respect to Music. (Sebuah Nyanyian bagi Allah: Inkulturasi Misi Katolik dan Kesenian Tradisional Nias khususnya Musik).Tesis doktoral anda terfokus pada karya misionaris Katolik di Pulau Nias. Mengapa Anda memilih topik ini ?

Seperti dialami kebanyakan peneliti bidang Studi Asia Tenggara: kebetulan. Saya belajar musik dan teologi Katolik di Jerman dan cuti selama satu semester untuk melakukan kerja (orientasi) sosial. Dari semua anggota ordo misionaris Jerman, hanya P. Kristof dari Nias yang menawarkan kesempatan. Beliau menawarkan penempatan di Gidö untuk mengurus Asrama St. Antonio. Nias dan masyarakatnya menjadi begitu dekat di hati saya sehingga saya memutuskan untuk kembali ke Nias untuk belajar budaya Nias setelah saya menyelesaikan studi saya di Jerman. Melalui fokus pada topik akademis, saya mendapat bantuan finansial (beaiswa) yang memang saya butuhkan untuk tinggal di Nias. Karena itulah saya mendaftarkan diri sebagai mahasiswa doktoral di Universitas Nasional Singapura. Ketika itu, saya tak pernah berpikir akan mendapat gelar doktor suatu hari – saya hanya ingin agar saya bisa tinggal di Nias.

Istilah “penghancuran” dan “adaptasi” kultural oleh aktivitas misi muncul dalam abstrak tesis Anda. Bisakah Anda menjelaskan lebih lanjut ?

Ada kurun waktu yang berbeda dalam kaitan dengan aktivitas misi Kristiani di Nias. Para misionaris pertama sangat “keras” dalam berhadapan dengan budaya lokal dan segala hal yang menurut mereka membahayakan pesan iman yang ingin mereka sampaikan kepada masyarakat. Di tengah sikap keras ini mereka menghacurkan begitu banyak objek kesenian Nias seperti patung-patung, alat-alat ritual dan sebagainya. Sesudah periode ini ada pendekatan yang berbeda: para misionaris mencoba mempertemukan kebutuhan liturgis dan faktor-faktor budaya lokal.

Bisakah Anda jelashkan pengertian “Inkulturasi” dalam Gereja Katolik ?

Inkulturasi adalah istilah resmi yang digunakan dalam dokumen Konsili Vatikan II. Seperti yang saya jelaskan di depan, inkulturasi adalah gerakan ke dua arah: mengadaptasi liturgi pada kondisi-kondisi lokal dan memadukan unsur-unsur budaya lokal ke dalam liturgi. Dan barangkali ini adalah jalan yang perlu bagi pelestarian ke dua sisi.

Dapatkah Anda menjelaskan unsur-unsur budaya Nias mana saja yang sudah diserap dalam Gereja Kristen (Katolik). Apa makna “infusi” bagi budaya Nias dan Gereja Katolik ?

Banyak lagu-lagu Nias, sekurang-kurangnya melodinya, sudah digunakan dalam acara-acara kebaktian Gereja Katolik, dimuat dalam buku nyanyian “Laudate” dan sebagian kecil dalam “Madah Bakti”. Ini membawa masyarakat Nias lebih dekat dengan apa yang terjadi dalam kebaktian-kebaktian Gereja, dan semakin mendekatkan pesan Gereja kepada masyarakat. Seandainya saja musik liturgi Katolik masih berbasis Gregorian, barangkali Gereja Katolik masih tetap menjadi hal yang asing di banyak daerah, suatu agama yang melekat pada satu akar budaya. Kemampuan menyampaikan pesan melalui “pakaian” budaya yang berbeda mempermudah penerimaannya di masyarakat yang berbeda-beda di seluruh dunia.

Secara singkat, apa temuan-temuan utama riset Anda tentang Nias dalam kaitannya dengan misi Gereja Katolik ?

Nias menunjukkan aktivitas inkulturasi tertinggi dibandingkan dengan daerah-daerah lain di dunia. Hal ini terutama berkat usaha-usaha individual seperti P. Johannes Hammerle dan P. Hadrian Hess. Ada bahaya, bahwa proses inkulturasi ini menjurus kepada “pemalsuan” budaya. Hanya orang yang sungguh-sungguh mengetahui secara mendalam budaya setempat yang sepatutnya melakukan kreasi-kreasi interkultural pada tingkat setinggi itu. Ada banyak konflik yang timbul; misalnya dari karya Pusat Musk Liturgi – Yogyakarta yang dengan niat baik melakukan usaha-usaha interkultural untuk seluruh Indonesia. Di Nias, melalui usaha-usaha misionaris tadi secara individual – yang secara tak sengaja menjadi antroplogis dan etnologis – Gereja sekarang bahkan bisa berkontribusi untuk pelestarian budaya Nias. Akan tetapi dibutuhkan ahli lokal dari masyarakat Nias sendiri untuk mengawasi usaha-usaha dan program-program yang dilakukan dengan niat baik itu.

Anda tinggal beberapa waktu di Nias mengoleksi data untuk riset Anda. Data macam apakah yang Anda himpun dan siapa saja sumbernya ?

Saya tinggal di Nias sekitar setahun untuk mewawancarai narasumber asli orang Nias dari berbagai kampung, para misionaris, orang Kristen dan bukan Kristen, para musisi Nias. Akan tetapi sebagian besar waktu saya gunakan utnuk merekam musik dan tari-tarian, sebagian dalam acara-acara adat, sebagian lagi pada even-even wisata dan di dalam gereja.

Dapatkah Anda melukiskan pengalaman Anda selama di Nias ?

Pengalaman saya di Nias adalah pengembaraan yang sangat mengesankan dan membuahkan hasil. Kehangatan dan sikap bersahabat masyarakat Nias membuat saya kembali dan kembali lagi.Tentu kunjungan riset lapangan itu bukan hal yang mudah, di tengah keterbatasan transportasi, bahasa dan sebagainya. Tetapi bantuan selalu saja datang; inilah hal yang mengesankan yang saya alami bukan hanya di Nias tetapi juga di daerah-daerah lain di Indonesia. Dunia boleh belajar dari Nias dan Indonesia umumnya mengenai hal ini.

Terima kasih atas waktu yang Anda berikan.

Tags:

Leave a Reply

Kalender Berita

August 2006
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031