[JAKARTA] Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan sejumlah penyimpangan dalam pengadaan buku Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias yang merugikan negara miliaran rupiah. Indikasi penyimpangan itu dalam bentuk pelanggaran prosedur, juga adanya kemahalan harga yang merugikan keuangan negara dan memperkaya orang lain atau korporasi.

“Mekanisme penunjukan rekanan tidak melalui proses tender terbuka, tetapi melalui mekanisme penunjukan langsung. Sehingga telah menyalahi prosedur pengadaan barang atau jasa yang disyaratkan dalam Keppres 80 Tahun 2003,” ujar peneliti dari ICW, Firdaus Ilyas kepada Pembaruan di Jakarta, Rabu (23/8).
Harga pekerjaan pencetakan sangat kemahalan ketimbang harga normal yang berlaku untuk spesifikasi buku yang sama. ICW sudah melaporkan kasus tersebut ke Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor). “Kami harapkan kasus ini diusut tuntas, mengingat BRR merupakan badan yang sangat besar dan indikasi penyimpangan yang kuat,” katanya.
Dijelaskan, BRR telah melakukan serangkaian kerja sama dengan pihak lain dalam pekerjaan pencetakan buku, baik itu dalam rangka enam bulan BRR, setahun tsunami, maupun setahun BRR. Hasil investigasi ICW menunjukkan hingga Juni 2006, BRR mengeluarkan 15 surat kerja sama (SPK) yang melibatkan sembilan perusahaan dengan total nilai kontrak Rp 3,28 miliar untuk pekerjaan pencetakan buku saja.

Setelah enam bulan masa rehabilitasi dan rekonstruksi yaitu Oktober 2005, BRR melakukan serangkaian kerja sama dengan pihak lain untuk pekerjaan pencetakan buku yang berisi “Laporan Kegiatan Enam Bulan BRR NAD dan Nias”. Pekerjaan pencetakan buku itu melibatkan dua perusahaan yaitu PT Panca Karsa Putera Jaya dengan nilai kontrak Rp 351,9 juta.

Kemudian PT Wahana Multiguna Mandiri dengan tiga kontrak yakni pencetakan 500 buku Meletakkan Pondasi Membangun Harapan senilai Rp 264 juta. Lalu judul yang sama dengan bahasa Inggris senilai Rp 211,2 juta. Kemudian judul yang sama tahap II senilai Rp 264 juta.

Selain itu ada juga kerja sama pencetakan setahun tsunami yang melibatkan empat perusahaan yakni CV Fortuna Basindo, PT PP Mardi Mulyo, PT Theta Ekatama Usaha, dan PT Xerography Indonesia yang mendapatkan dua kontrak. Kemudian pencetakan buku setahun BRR yang melibatkan lima perusahaan.

Firdaus mengindikasikan adanya kemahalan harga. Dicontohkan, PT Wahana Multiguna Mandiri mencetak 500 buku Meletakkan Fondasi Membangun Harapan dengan nilai kontrak Rp 264 juta atau setara Rp 528 ribu per eksemplar. PT Patriot Pembaharuan Jaya yang mencetak 600 eksemplar buku Membangun Tanah Harapan versi Bahasa Inggris dengan nilai kontrak Rp 379,5 juta atau sa- ma dengan Rp 632.500 per eksemplar.

“Jika dilihat dari segi harga, untuk jenis dan spesifikasi buku yang sama nilai kontrak pengadaannya masih sangat mahal,” ujar dia. [Y-4]

Sumber: www.suarapembaruan.com, Kamis, 24 Agustus 2006

Facebook Comments