Medan, (Kompas) –
Pembentukan Provinsi Tapanuli masih dihadapkan pada berbagai kendala, khususnya terkait aspek sosial budaya. Jika tidak diselesaikan terlebih dahulu, dikhawatirkan masalah ini hanya akan memunculkan masalah baru yang tentu penyelesaiannya akan lebih rumit.

“Sudahkah kepercayaan politik dan keterlibatan rakyat dibangun dan diwacanakan? Apakah cukup membentuk sebuah provinsi hanya berdasarkan garis kultural saja?” kata sosiolog Hotman Siahaan, Sabtu (19/8), pada “Seminar Pembentukan Provinsi Tapanuli: Dari dan untuk Siapa” di Medan.

Menurut Hotman, pembentukan Provinsi Tapanuli paling tidak harus memerhatikan faktor perseteruan budaya di antara subkultur Batak yang belum selesai. “Menurut saya, tidak bisa sebuah provinsi dibentuk hanya ditentukan oleh eks keresidenan yang dibentuk Belanda,” katanya.

Antropolog Universitas Negeri Medan, Usman Pelly, meragukan pembentukan provinsi baru itu akan makin memakmurkan daerah tersebut. Orang Tapanuli sudah merantau ke Sumatera timur (Medan dan sekitarnya) sejak lama. Ketika berhasil, orang Tapanuli enggan kembali ke daerahnya sendiri.

“Tidak ada jaminan, setelah adanya pemekaran wilayah, orang Tapanuli yang sukses di perantauan kembali ke daerahnya,” kata Usman. Menurut dia, tidak ada kewajiban adat bagi orang Tapanuli membawa pulang harta kekayaan mereka ke kampung halaman. Belum lagi ada persoalan budaya yang perlu dicairkan antara Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara sebelum rencana pemekaran direalisasikan.

Menurut dia, antara Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara mempunyai corak budaya yang berbeda. Hal itu dimulai sejak agama samawi Islam dan Kristen masuk ke daerah tersebut. “Kabupaten di Tapanuli Selatan menyatakan tidak setuju (pemekaran provinsi) tanpa mengemukakan alasan yang rinci,” tutur Usman.

Ahli linguistik Robert Sibarani mengatakan, pembentukan daerah di sepanjang pesisir barat Sumatera Utara punya potensi budaya dan alam yang cukup. “Nama Tapanuli sebagai aspek geografis dan Batak sebagai aspek etnisitas telah lama dikenal di republik ini,” kata Robert.

Menurut dia, dari sisi historis, di kawasan barat Sumatera Utara pernah ada daerah yang bernama Tapanuli. Robert menuturkan, Tapanuli memiliki rumpun bahasa dan aksara Batak. Sejumlah kekayaan bahasa dan karya tulis itu tersebar di banyak museum.

Pada akhir penyampaiannya, Robert mengatakan, daerah di Tapanuli mempunyai potensi wisata yang bisa dikembangkan menjadi wisata budaya dan ekowisata dengan Danau Toba sebagai maskotnya. (NDY)

Sumber: Kompas Online, Selasa, 22 Agustus 2006.

Facebook Comments