* Sebuah Refleksi Dalam Rangka HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 61 *

Mathias J. Daeli

I

17 Agustus 2006, Negara kita berumur 61 tahun. Kalau diumpamakan orang, Negara Indonesia termasuk LANSIA (lanjut usia). Lansia biasanya lebih dihormati, diperhitungkan, didengarkan dalam keluarga maupun masyarakat. Lansia juga dianggap lebih bijaksana, lebih berwibawa, dan lebih dipercaya untuk melaksanakan berbagai tugas sosial kemasyarakatan maupun keluarga. Tentu seluruh rakyat berharap, negara Indonesia seperti Lansia itu – walaupun kita tahu fase dalam kehidupan bernegara tidak sesingkat fase kehidupan seseorang.

Kita berharap negara kita juga lebih dihormati dan diperhitungkan dalam dan luar negeri. Tetapi sungguh ironi dalam seusia itu negara kita tidak demikian. Negara ini, oleh rakyat sendiri kurang dihormat karena ulah para koruptor yang serakah dan para elit yang sering lebih suka menjadi bagian problem dari mencari solusi atas problem itu. Kemerdekaan dan kebebasan sekan-akan hanya bagi yang kuat di negara kita. Oleh pihak luar negeri, negara kita dicap tidak aman karena bom disana-sini dan dilecehkan dicap tidak bisa mengurus warganya. Malah ada negara tetangga yang mau mencaplok wilayah negara kita. Pada hal negara ini seharusnya pantas dibanggakan. Puluhan ribu pulau dengan ratusan suku, budaya, dan bahasa dapat bersatu dalam satu negara. Kita berharap para elit politik, segera, kembali ke jembatan emas “kemerdekaan” (Bung Karno) dalam upaya mencapai cita-cita nasional.

II

Bagaimana Tanö Niha (Nias)? Kondisi tidak beda dengan induknya. Pembangunan tertinggal dibandingkan dengan daerah lain. Para pejabat – mulai dari Pemerintah Daerah sampai ke Pemerintah Pusat – mengakui hal itu. Dan memang kenyataan. Ini adalah satu indikator bahwa pengakuan martabat manusia yang merupakan unsur penting di dalam “kemerdekaan” gagal di dalam psikologis pembangunan ini. Akan tetapi, sepengetahuan saya, belum pernah ada usaha melalui pertukaran pikiran yang serius – sistemik untuk mencari sebab-sebab dan solusi yang tepat untuk menanggulanginya. Kecuali sekali-sekali kalau dirasa ada keuntungan yang diharapkan dari padanya di lapangan politik.

Akibat dan situasi seperti itu, tidak mengherankan apabila kita memandang selintas saja, akhir-akhir ini, kita tidak boleh tidak melihat pendangkalan tampang lahir kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Rasanya seolah-olah dalam masyarakat kita ada keganjilan peran. Terutama setelah ditimpa bencana alam gelombang tsunami (Desember 2004) dan gempa (Maret 2005) yang rentetannya tidak ada yang tau kapan berakhir. Rakyat seolah-olah mengalami kelumpuhan dan menunggu perbaikan nasib dari pihak luar. Di dalam masyarakat kita telah merajalela perasaan ketidak-pastian, perasaan tak tahu arah, perasaan tak tahu tujuan, bahkan juga perasaan tak adanya perkembangan yang bermakna. Dan dengan timbulnya perasaan demikian maka hilang pula kepercayaan terhadap diri mereka.

Lapisan intelektual terasa sulit menempatkan diri. Para pemimpin birokrat dan elit politik seperti telah kehilangan rasa untuk nilai-nilai. Pejabat birokrat sibuk dengan urusan administrasi dan jabatannya sedangkan para elit politk sibuk dengan upaya pembentukan kekuasaan. Hampir tidak ada perjuangan untuk memperjuangkan nilai-nilai, baik dalam arti mempertahankan nilai lama maupun dalam menembus nilai-nilai lama itu dan memajukan nilai-nilai baru.

Sebagian besar perubahan sosial yang terjadi berlangsung di luar kesadaran kelompok elit yang memimpin di lapangan politik dan kebudayaan. Tidak ada kesadaran yang cukup pada mereka untuk menanyakan pada diri sendiri, sampai di mana perubahan – perubahan ini membayangkan penyelesaian-penyelesaian untuk masalah-masalah Tanõ Niha.

Kepercayaan dan kesanggupan pada diri sendiri seakan-akan telah lenyap. Pertaruhan total peribadi dalam perjuangan hilang, yang tinggal ialah sifat dan gerak-gerik setengah-setengah, sinisme yang lahir dari tiada percaya diri, dan tindak-tanduk dari jiwa yang kecil yang tidak sanggup menjulang ke atas dan melepaskan diri dari atas pribadinya sendiri. Yang tumbuh adalah pengabdian kepada suatu yang lebih besar dari pada dirinya sendiri.

III

Dengan situasi dan kondisi Tanõ Niha demikian: Perlukah kita mengeluh terus ? Tentu tidak. Sekali lagi TIDAK. Memang pengalaman pelaksanaan pembangunan selama ini terasa “menyakitkan”. Yang selanjutnya menimbulkan “rasa gelisah” bila menatap ke depan. Tetapi tentu kita tidak perlu terus membuang tenaga memikirkan hal itu. Taruhlah itu pengalaman buruk. Akan tetapi pengalaman yang menyakitkan itu hendaknya menjadikan kita: lebih sadar akan “masa lalu”kita, memperbaiki sikap dan perbuatan pada “masa kini” untuk merintis “masa depan” yang tidak menyakitkan lagi.

Sekarang setelah menyadarinya, yang terbaik kita lakukan adalah berupaya berbuat sesuatu untuk “perbaikan di masa depan”. Demi masa depan Tanõ Niha, kita harus memahami dan menghayati sungguh-sungguh makna ”kemerdekaan” yang telah kita miliki, sehingga terwujud rasa “percaya diri” (PD) dalam sikap dan perbuatan sehari-hari.

Untuk menyikapi ketertinggalan pembangunan Tanõ Niha, perlu kita menggali lebih dalam dan perlu kita berusaha membuka dan menyelidiki dasar dan sebab-sebab dari ketertinggalan ini, yang menghubungkan gejala pembangunan, budaya, dan politik. Bagaimana hubungan pembangunan dengan budaya Ono Niha ? Bagaimana pula hubungan pembangunan dengan percaturan politik nasional ? Bagaimana menghadapi era modernisasi dengan globalisasinya ? Sebab kita bebas dan merdeka, maka justru dengan kebebasan dan kemerdekaan kita ini – mau tidak mau suka atau tidak suka – kita menerima tanggungjawab sendiri untuk kemelut ini. Kebebasan dan kemerdekaan itu kita miliki sebagai akibat Proklamasi kita. Oleh karena itu, pemahaman arti dan makna Proklamasi memungkinkan kita untuk menyelami sampai kepada dasar-dasar problematik kita sekarang ini.

IV

Pada hakekatnya kemerdekaan adalah jangkauan untuk menentukan nasib sendiri. Jangkauan itu timbul dari keinginan untuk turut serta secara aktif dalam sejarah kehidupan sendiri dalam bermasyarakat dan bernegara, malah dalam mendunia. Kemerdekaan lahir dari kepercayaan bahwa kita sanggup membangkitkan kekuatan di dalam kita sendiri yang akan memungkin kita untuk menempatkan diri sejajar dengan suku-suku lain dalam negara Indonesia. Inilah yang dimotivasi oleh otonomi daerah. Otonomi Daerah merupakan hak rakyat daerah yang sudah seharusnya masuk di dalam agenda demokrasi dan/atau demokratisasi. Otonomi Daerah bukan hak pejabat di daerah.

Jangkauan ini berdasar pula pada keyakinan akan kesanggupan kita untuk – di dalam kemerdekaan serta tanggungjawab yang terkandung di dalamnya – mencapai pernyataan sepenuhnya daripada rasa pribadi kita sebagai warga bangsa dan negara Indonesia. Jadi, sesungguhnya kemerdekaan berarti penerobosan suatu rasa hidup yang baru, kemungkinan dan keinginan untuk berikhtiar dan campur tangan secara aktif dalam hidup di dunia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Karena itu kemerdekaan tidak lain dari upaya merebut kemungkinan untuk menyatakan pribadi sendiri.

Kalau ditanya kepada saya apa jawaban atas pertanyaan tersebut, terus terang saya tidak tau. Saya memiliki bayangan jawaban. Tetapi jelas bahwa, “bayangan” bukan jawaban. Tetapi kalau ditanya kepada saya sekarang ini: Nilai apa yang paling penting dipegang dan dikembangkan oleh Ono Niha dalam menghadapi keterpurukan, tantangan – tantangan, dan hambatan-hambatan masa depan, maka jawaban saya ialah keberanian untuk merasa optimis berdasar keyakinan bahwa yang pertama dan utama yang mengubah nasib sendiri adalah diri sendiri.

Pada saat seperti ini, selayaknya Ono Niha bertanya pada diri sendiri mengenai budaya signifikan yang menunjukkan identitas, ciri, atau kekhasan Ono Niha itu. Gagasan identitas yang muncul dari cara memandang terhadap budayanya dan juga terbentuk oleh cita-cita, angan-angan, serta tujuannya dalam hidup berbangsa dan bernegara Indonesia. Kesadaran pada pertanyaan itu, akan menimbulkan tekad, menumbuhkan kekuatan, dan menjadi pedoman menghadapi masalah di lingkungan sendiri maupun nasional.

V

Tak ada seorang pun yang secara individu akan mampu mencakupi seluruh permasalahan Tanõ Niha, dan memberi solusi yang tepat. Perlu dimungkinkan diskusi, untuk menguji, mengoreksi dan memperkembangkan ide-ide yang timbul demi kristalisasi pemikiran yang nanti menjadi pangkal untuk langkah berikutnya. Sebab itu dalam tulisan terdahulu “Sebaiknya Yang Kita Lakukan”, saya katakan bahwa “pencarian jawaban-jawaban masalah-masalah yang terkait dengan Ono Niha, mau tak mau harus merupakan suatu proses kolektif”.

Saya yakin bahwa “keberanian untuk merasa optiomis” seperti saya katakan di atas dapat dimiliki oleh Ono Niha. Keyakinan yang didasarkan pada nilai luhur budaya masyarakat Ono Niha sendiri. Dalam budaya Ono Niha terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu”. Atau dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”. Dalam arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain, tidak hanya menonton. Tanggap dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang disapa dengan ucapan selamat – “Ya’ahowu”) termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Mangandung makna “Saya mengenalnya dan mengontak diri saya dengannya dari dalam inti diri saya, bukan dari batas luar diri saya”.

Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama. Kalau kebersamaan ada maka “apa” yang tidak dapat dilakukan ? Nenek moyang kita membangun rumah adat dari kayu dan batu yang besar tanpa dibelah karena tidak ada peralatan seperti sekarang. Mereka menggotong kayu besar-besar dari hutan melewati jalan tikus, lembah, sungai, dan gunung. Hanya mengandalkan tenaga kebersamaan manusia (mereka) dan hasilnya monumental dalam sejarah peradaban umat manusia – “Omo Niha”.

Orang tua selalu mempertahankan nilai fabanuasa (persaudaraan di kampung) karena selain mereka meyakini keluhurannya, juga telah terbukti dalam pergumulan hidup sehari-hari. Orang tua di Tanö Niha selalu menasehatkan agar selalu menjaga persatuan sebab : “Aoha noro nilului wahea, aoha noro nilului waoso. Alisi tafadayadaya, hulu tafawolowolo. He awöni he eho, aoha nilului zato. He ha tugala silimo, abua sibai na ha ya’o“ (lihat : Niasisland.com, Article no.206, tanggal 19 Nopember 2005 oleh M. J. Daeli). Kalau makna “Ya’ahowu” yang sudah diyakini itu dilaksanakan maka “keberanian untuk merasa optiomis” bukanlah hal yang mustahil pada masyrakat dan diri Ono Niha.

Namun di sisi lain, hendaklah pula kita berani untuk menyadari kelemahan-kelemahan dalam budaya kita, yang dapat menghambat semangat pembangunan. Antara lain: tentang “penggunaan waktu” dalam musyawarah adat . Bukan prinsip adat (tia-tia hada) yang ditinggalkan melainkan pemanfaatan waktu (proses) harus diefisienkan (lihat : Mathias J. Daeli: Bangun Rasa Percaya Diri dan Jangan Sia-Siakan Waktumu – Niasisland.com).

Contoh lain dari budaya masyarakat Ono Niha yang patut menjadi perhatian kita karena tidak sesuai dengan semangat pembangunan (menurut pengamatan saya), adalah : masyarakat kita lebih berhasyrat mengutamakan status dan prestise dan bukan fungsi dan prestasi. Akibat dari kecenderungan ini adalah otoriterisme paternalistis, kecenderungan menjadi pegawai negeri, ketaatan tanpa reserve kepada atasan. Pencarian solusi terhadap suatu masalah berfokus pada kehendak pimpinan dan bukannya dengan penyelesaian masalah secara praktis. Dari pandangan hidup ini terdapat kecenderungan memandang perkembangan dalam masyarakat berdiri sendiri, yang masing-masing mempunyai krakterristik. Orang dituntut harus menyesuaikan diri padanya dan peluang-peluang yang ada harus dimanfaakan. Dengan cara pandang demikian “tujuan” bukanlah sesuatu yang harus dicapai dengan kerja keras dan perencanaan rasional melainkan sesuai perkembangan dari satu situasi yang tidak jarang dikaitkan dengan yang mistis.

VI

Sebagian besar masyarakat kita masih hidup dalam suasana lingkungan yang tertutup: “Niha Mbanua”. Perubahan berarti suatu perubahan yang pokok dalam cara memandang hidup dan mati. Hanya bila kita melihat kehidupan ini sebagai sesuatu yang pada dirinya sendiri sudah mempunyai makna dan arti, kita dapat melihat dan menerima hidup di dunia (Tanõ Niha – Indonesia) ini dengan kesungguhan yang mencukupi. Hanya dengan cara demikian kita membangkitkan daya spritual, emosional, dan intelektual yang diperlukan dengan segala sifat keperibadian kita sendiri. Tidak hanya untuk bertahan untuk tetap hidup, melainkan juga mengakui keinginan serta membangkitkan kekuatan untuk hidup dengan baik, dengan bermakna, dan dengan kegembiraan hati.

Persoalan, bagaimana kita harus menganggap dan menghargakan hidup ini ? Kita manusia merdeka. Titik pusat kemerdekaan kita adalah penentuan nasib sendiri dan pernyataan diri sendiri secara bebas dan merdeka, maka konsolidasi di dalam dunia ini berarti menyesuaikan diri secara kreatif kepada dunia.

Menyesuaikan secara kreatif harus memenuhi pertama-tama satu syarat minimum, yang diharapkan kepada kita sebagai akibat kemerdekaan, yaitu: bagaimana kita mengembangkan pengetahuan dan pemahaman kita tentang dunia yang selalu berubah. Ini berarti mengembangkan dan meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan, sarana penting dan strategis terjadinya mobilisasi mental, yang menjadi pangkal tolak pembangunan di bidang ekonomi dan di bidang lainnya. Jadi kesungguhan upaya kita di lapangan pendidikan dan ekonomi merupakan ujian daripada kreativitas kita menghadapi perubahan termasuk modernisasi-globalisasi.

Maka masalah Tano Niha (Nias), menurut saya, sedikitnya 10 tahun yang akan datang ini adalah bagaimana kita menciptakan tenaga SDM yang terampil. – SDM yang memiliki insitaif sendiri untuk mendapatkan manfaat dari setiap kesempatan di lingkungan berdasar moral yang hidup dalam masyarakat, bangsa dan, negara Indonesia. Pengembangan pendidikan dan kekuatan ekonomi, dan politik yang perlu untuk itu, menghendaki suatu perubahan mendalam dari kebulatan adat kebiasaan, oraganisasi sosial, serta pandangan hidup kita .

Perubahan ini meliputi sikap baru terhadap dagang, uang, menabung, rasa waktu, sikap lain terhadap hirearki sosial, terhadap pangkat dan derajat, tehadap pekerjaan tangan dan mesin. Perubahan itu memerlukan kemampuan untuk berpikir secara kuantitatif, dan memerlukan cara berpikir dan bertindak dalam hubungan organisatoris yang lebih besar daripada yang dahulu, dan yang melampaui hubungan kekeluargaan dan ditentukan secara pasti. Perubahan itu juga berarti suatu etik kerja yang berlainan. Bahwa bekerja adalah melibatkan diri dalam proses untuk mencapai tujuan dan bukan untuk semata-mata mencapai tujuan. Suatu tempo kehidupan yang berlainan, dan terutama nilai-nilai dan motif-motif di dalam kehidupan ini yang berlainan pula.

Menjadi tantangan bagi intelektual, para pejabat pemerintah daerah di Tanõ Niha (Kabupaten Nias & Kabupaten Nias Selatan), dan semua pihak untuk mengangkat nilai-nilai luhur budaya Ono Niha yang bersemangat “membangun bersama”. Nilai-nilai luhur ini hendaknya disosialisasikan dan diterapkan dalam upaya membangun Tanõ Niha. Kemauan dan tekad untuk melaksanakan sifat-sifat yang terpancar dari nilai-nilai itu adalah suatu kebaikan – demi tetap exist-nya Ono Niha dalam perjalanan waktu. Sibuk berbuat yang baik terhindar dari pikiran-pikiran negatif, seperti: tõdõ fayaŵasa, fatiusa, faya’osa, fadõni ahe, KKN, dan sebagainya.

Pada akhir tulisan ini saya ingat untuk menyampaikan pesan Erich Fromm pada akhir bukunya “The Sane Society” yang diterjemahkan bebas seperti ini : “Suatu suku bangsa kecil ditantang – Aku memberi di hadapanmu dua pilihan, kehidupan atau kematian, berkah atau kutukan – dan engkau memilih kehidupan”. Ono Niha pasti memilih “kehidupan”. Atau …, bagaimana ?

Ya’ahowu !

Euless-USA, 15 Agustus 2006

Facebook Comments