Gunungsitoli (Kompas)
Salah satu daerah yang mengalami kerusakan parah akibat bencana tsunami dan gempa, Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias, Sumatera Utara, berangsur normal. Daerah ini terhitung terlambat ditangani karena sulit dijangkau dan terisolasi lebih dari satu bulan pascagempa.
Seperti pada Rabu (2/8), pusat Kecamatan Lahewa terlihat ramai dengan aktivitas jual beli oleh masyarakat. Meskipun bangunan yang digunakan belum sepenuhnya selesai diperbaiki, kegiatan warga tidak terganggu. Mereka mendirikan bangunan dari kayu dan ditutup terpal untuk menggelar dagangan.
“Sekarang keadaan sudah jauh lebih baik, walaupun belum seperti dulu sebelum gempa,” kata Yose’aro Waruwu, yang sedang singgah di kedai makan. Listrik pun sudah lancar mengalir, begitu juga suplai air bersih.
Lahewa terletak sekitar 90 kilometer arah barat laut Gunungsitoli, di ujung utara Pulau Nias dan berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Sebagian besar jalan menuju Lahewa rusak sehingga perjalanan harus ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam. Lahewa merupakan kota kedua terparah setelah Gunungsitoli setelah terkena tsunami pada Desember 2004 sekaligus gempa pada Maret 2005.
“Sekarang keadaan berangsur normal. Bahkan, komunikasi menggunakan telepon seluler sudah lancar, jalan-jalan sudah bisa dilalui, dan kegiatan perekonomian berjalan lancar,” kata Markus, pemilik pabrik pengolahan kopra.
Pasokan kelapa dari masyarakat terus masuk setiap hari, sehingga warga Lahewa yang memiliki mata pencaharian sebagai petani kelapa sudah mampu kembali berproduksi.
Meskipun permukaan tanah dan karang di sekitar pelabuhan Lahewa naik dan pantai mengalami pendangkalan akibat gempa dan tsunami, kegiatan nelayan tetap berlangsung. Aktivitas jual beli ikan di tempat penampungan ikan tetap berjalan, kendati terlihat agak sepi.
Kegiatan pembangunan kembali dan perbaikan bangunan terlihat dimana-mana. Sebagian besar bangunan beton hancur dan bekasnya masih teronggok di berbagai tempat. Rumah sementara dari kayu dan rangka besi sudah banyak berdiri dan sebagian ditempati warga.
Kebutuhan pokok seperti beras dan minyak tanah mudah didapatkan dengan harga normal. Beras 30 kilogram bisa didapat seharga Rp 145.000 atau sekitar Rp 4.800 per kilogram, sedangkan minyak tanah bisa diperoleh seharga Rp 2.000 per liter.
“Yang paling mendesak dan belum sepenuhnya terpenuhi adalah perbaikan bangunan. Hampir semuanya rusak berat dan hancur,” kata Sekretaris Kecamatan Lahewa Adieli Zendrato. Bahan-bahan bangunan seperti kayu dan batu masih sangat dibutuhkan untuk pembangunan dan perbaikan.
Kekurangan bahan baku itu akibat kurang lancarnya pengangkutan ke Lahewa. Kondisi jalan yang rusak, sempit, dan naik turun menyulitkan akses kendaraan besar untuk mengangkut bahan bangunan.
Kendala itu juga mengakibatkan sejumlah sekolah belum diperbaiki. Kegiatan belajar mengajar dilakukan di tenda atau tempat seadanya. Beberapa bangunan sekolah sudah selesai didirikan dan siap ditempati. (FRO)
Facebook Comments