Saran – Untuk Direnungkan Bersama

Wednesday, July 26, 2006
By nias

Mathias J. Daeli

Bola OTDA telah bergulir. UU nomor 22 dan 25 tahun 1999 dengan berbagai peraturan perundangan yang mendukungnya adalah untuk mengakomodasi keinginan daerah berotonomi sebagai Propinsi atau Kabupaten. Dengan semangat demokrasi, tentu tidak ada alasan untuk mengatakan setuju atau tidak setuju pada keinginan suatu daerah berotonomi. Terwujud atau tidak terwujud keinginanm itu tergantung pada persyaratan objektif menurut peraturan perundangan yang berlaku. Demikian halnya terhadap gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli. Adalah tidak ada landasan hukum dan tidak etis untuk menolak gagasan itu. Wajar mendukung dan semoga sukses.

Saya memahami latar belakang permasalahan yang diajukan mengenai untung atau rugi Tanõ Niha (Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan) kalau bergabung atau tidak bergabung : dengan Propinsi Tapanuli (gagasan). Sesuatu rasa yang timbul dari “kepedulian dalam kegelisahan” akibat pengalaman pada pelaksanaan pembangunan Tanõ Niha selama ini. Berdiskusi mengenai ini pun baik. Tetapi hendaknya menghindari yang tidak seharusnya problem menjadi problem.

Memang dari proses awal-awal ini, kepastian ikut bergabung atau tidak bergabung dengan Propinsi Tapanuli (gagasan) turut mempengaruhi proses selanjutnya, tetapi tidak menentukan. Dan, telah banyak teman-teman yang memberi pertimbangan baik buruknya bergabung atau tidak bergabung atau alternatif lain, karena itu saya melihat dari sudut lain.

Pada dasarnya hidup dan nasib manusia tergantung kepada apa yang dilakukannya sendiri, yaitu kemampuan untuk memilih dan mengolah kemungkinan yang terdapat di dunia ini. Pembangunan berfungsi merangsang masyarakat sehingga gerak majunya menjadi mandiri, berakar pada dinamika masyarakat sendiri dan dapat bergerak atas kekuatan sendiri.

Dalam kaitan dengan pembangunan Tanõ Niha, hal yang harus menjadi perhatian bersama kita, yang menurut saya adalah yang utama, adalah kesiapan mental Ono Niha menerima pembangunan dan membangun dirinya sendiri. Meskipun ada kemauan politik Pemerintah Pusat membuat proyek raksasa di Tanõ Niha, tetapi kalau masyarakatnya belum siap, maka kita akan mengalami nasib seperti di daerah lain. Penduduk setempat hanya menjadi penonton proyek, karena tidak memiliki keterampilan yang memadai untuk terlibat di dalamnya. Lebih- lebih kalau proyek tersebut dan pejabat yang mengawasinya hanya memikirkan diri sendiri. Alhasil penduduk setempat hanya gigit jari sebagai penonton kemewahan materi pegawai proyek.

Demikan juga seandainya kita berada dalam Propinsi yang kita senangi atau menjadi Propinsi tersendiri, kalau masyarakat belum percaya pada diri sendiri maka Ono Niha hanya menjadi objek dan bukan subjek pembangunan. Dan, lebih menyakitkan kalau hanya dijadikan alasan untuk minta proyek, realisasi proyek ditempat lain karena kesulitan transportasi atau alasan lain-lain.

Perlu dicatat disini bahwa: Kalau saya katakan Ono Niha tidak berarti ekslusif atau paham menutup diri. Sebab kalau sampai eforia otonomi ini bermuara pada paham menutup diri, maka percayalah desintegrasi nasional akan terjadi. Tentu kita tidak kehendaki. Mari kita renungkan bersama (diskusikan)apa yang dapat kita lakukan, untuk menyadarkan masyarakat Ono Niha. Sehingga menjadi percaya diri (PD), bermentalitas membangun atas kekuatan sendiri, mengahargai waktu, dan tidak lebih senang menerima dari memberi.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

July 2006
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31