Esther Telaumbanua

Menanggapi pemikiran tentang isu pemekaran Nias – Nias Selatan menjadi Propinsi Tapanuli saya memberikan beberapa pemikiran:

  1. Pemekaran wilayah, apakah menjadi kabupaten baru atau bergabung jadi propinsi, memang menjadi salah satu alternatif pilihan dalam rangka menjawab persoalan-persolan di daerah tersebut, seperti ketertinggalannya, kemiskinan, dan upaya percepatan pembangunan bisa berlangsung. Dengan pemekaran wilayah menjadi daerah yang berdiri sendiri, diharapkan – paling tidak – dapat memotong rentang kendali yang panjang, bisa mengembangkan potensi daerahnya, mendapatkan perhatian yang sama sejajar dengan daerah lain, dan anggaran pembangunan yang cukup, dan lain-lain. Itulah mendasari berdirinya Kab. Nias Selatan.
  2. Untuk beberapa hal, memang dengan berdirinya Kabupaten Nias sebagai kabupaten yang otonom, dengan berpemerintahan sendiri, sudah bisa terjawab. Tetapi faktanya baik Kabupaten Nias maupun Kabupaten Nias Selatan masih dililit berbagai persoalan yang tidak mudah untuk mengatasinya. Persoalan mendasar masyarakat Nias di kedua kabupaten ini adalah: ketertinggalannya, kemiskinannya, ketidakberdayaannya, dan keteriso – lirannya (secara geografis, ekonomis, dan politis) dalam berbagai sendi kehidupan. Walaupun sudah dimekarkan menjadi dua kabupaten dan beberapa kecamatan, hal-hal mendasar ini belum terjawab. Bahkan, dua bencana terakhir (tsunami dan gempa) telah semakin memperburuk keadaan. Kehadiran BRR pun dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah Nias, dengan dana seabrek-abrek belum tentu membawa perubahan dan pembaharuan Nias. Di mana persoalannya ?
  3. Bertahun-tahun Nias rindu pembaharuan, itu yang membuat isu menjadikan Nias menjadi sebuah propinsi sangat menarik perhatian kita. Ada harapan yang sangat akan perbaikan kualitas hidup dan tingkat kesejahteraan masyarakat Nias. Bahkan, sekarang ada ‘pinangan’ untuk bergabung menjadi bagian dari Propinsi Tapanuli yang sedang direncanakan itu. Kalau saya coba menari tali, sebuah propinsi (apakah Propinsi Nias atau menjadi bagian dari Propinsi Tapanuli) sebagai muara yang mau dituju, dan persoalan / realitas masyarakat yang terhampang di hilir dan sepanjang tali. Maka pertanyaannya adalah: dari mana kita mulai / memandang? Apakah dari muara atau hulu? Ataukah ke hilir dan sepanjang tali yang memerlukan jawaban pemecahan? Artinya, yang manakah yang menjadi tujuan: sebuah propinsi atau memperbaiki kualitas hidup masyarakatnya? Kalau tujuannya memang propinsi, tinggal menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang mengaturnya, apakah sesuai atau tidak. Dan memperhatikan potensi yang ada bisa mendukung apa tidak. Memperhatikan seluruh aspek kehidupan masyarakat Nias, menjadi faktor mendasar pula bila pilihannya bergabung dengan Tapanuli. Tapi, kalau titik pandang dimulai dari memperbaiki kualitas masyarakatnya, tentu pilihan yang bisa ditempuh tidak hanya satu, di antaranya adalah menjadi propinsi. Cara lain adalah, mengkaji persoalan yang mendasar dan memperbaikinya di semua titik-titik soal itu.
  4. Jadi menurut saja, perlu suatu kajian yang matang, mendalam dan menyeluruh tentang hal ini.
Facebook Comments