<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Menilik Alam dan Budaya Eksotik Pulau Nias</title>
	<atom:link href="http://niasonline.net/2006/07/16/menilik-alam-dan-budaya-eksotik-pulau-nias/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://niasonline.net/2006/07/16/menilik-alam-dan-budaya-eksotik-pulau-nias/</link>
	<description>A website of Nias people, culture and current affairs</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 15:38:59 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
		<item>
		<title>By: mamet</title>
		<link>http://niasonline.net/2006/07/16/menilik-alam-dan-budaya-eksotik-pulau-nias/#comment-3523</link>
		<dc:creator>mamet</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 02:39:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/nox/?p=150#comment-3523</guid>
		<description>halow
ne gue mamet
kalo bisa usul ya tentang bandar udara binaka tersebut ditertipkan sedikit lah pak
sewaktu aku praktek disana semuanya amburadul dan berantakan banget
mohon kepada para pemimpin agar orang yang menjemput family mereka jangan masuk apron tapi menunggu di ruang tunggu ja
truz ni ye...
kalo ada yang mengantar familynya jangan di bolehin masuk dunk ke boarding room
kalo kita ga disiplin kapan lagi kita bisa merasakan kenyamanan di bandar udar binaka
kan malu tuh kita di ejek ma bule ga disiplin
thanks bro
&#38;
peace 4 nias island</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>halow<br />
ne gue mamet<br />
kalo bisa usul ya tentang bandar udara binaka tersebut ditertipkan sedikit lah pak<br />
sewaktu aku praktek disana semuanya amburadul dan berantakan banget<br />
mohon kepada para pemimpin agar orang yang menjemput family mereka jangan masuk apron tapi menunggu di ruang tunggu ja<br />
truz ni ye&#8230;<br />
kalo ada yang mengantar familynya jangan di bolehin masuk dunk ke boarding room<br />
kalo kita ga disiplin kapan lagi kita bisa merasakan kenyamanan di bandar udar binaka<br />
kan malu tuh kita di ejek ma bule ga disiplin<br />
thanks bro<br />
&amp;<br />
peace 4 nias island</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aktivitas Sarumaha</title>
		<link>http://niasonline.net/2006/07/16/menilik-alam-dan-budaya-eksotik-pulau-nias/#comment-2153</link>
		<dc:creator>Aktivitas Sarumaha</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2007 10:43:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/nox/?p=150#comment-2153</guid>
		<description>Laksana mutiara terpendam begitulah sebutan untuk pulau Nias. Siapa yang tidak kenal dengan Nias. Keunikan budaya dan keindahan alam seolah menjadi bahan pergunjingan bagi mereka pecinta pelancongan exotic. Siapa sangka dibalik keindahan yang menawan itu tersembunyi berbagai kepiluan yang tak terucapkan. 
Jeritan-jeritan itu terbungkam oleh derap langkah kereta kencana yang datang atas nama kepentingan rakyat kecil. Nias  sekarang ini menjadi komoditi yang sangat komersil untuk diperjual belikan oleh mereka yang punya daya. Daya untuk memanipulasi dan mengeksploitasi harta karun yang terpendam itu. Sebenarnya siapa yang menjadi subjek eksploitasi dan siapa yang menjadi objeknya?? Apakah justru kita (Ono Niha) yang  menjadi subjek bagi sesama ono niha yang termarginalkan. Fakta membuktikan: diluar sana (tanő saefo) mayoritas saudara-saudari kita hanya mampu bersaing di tingkat kuli. Sementara di ranah Nias sendiri nun jauh dipelosok sana, keterbelakangan pendidikan dan ekonomi beserta aturan adat yang begitu kaku telah memasung kemerdekaan sejati Ono Niha. Bukankah mereka yang termasuk dalam kelompok akar rumput ini begitu rentan menjadi mangsa kelompok bermodal dan berkuasa?? Siapa peduli?? Bukankah zaman semakin edan?? Atau justru manusianya yang membuat zaman jadi edan?? 

Kegalauan ini menjadi suatu perenungan mendalam bagi saya sebagai anak bangsa yang berasal dari tanő niha. Saya yakin bahwa diluar sana tidaklah sedikit saudara-saudari kita yang sudah mengecap perjuangan keras untuk sampai ke puncak keberhasilan. Namun sudahkan kita berbagi dengan mereka yang tersisihkan oleh deru zaman??  

Jargon  N I A S: Nusa Indah Andalan Sumatera, Negeri Impian Aman Sentosa, kedengaran manis di telinga setiap orang yang mendengarkannya. Namun impian ini  bersifat utopis, masih sangat jauh dari realita. Tapi saya optimis bahwa negeri impian ini bisa menjadi milik kita bersama kalau kita bahu membahu, berpegangan tangan membangun tanő niha. Maka nyatalah pepatah Nias mengatakan: Aoha noro nilului waoso, aoha noro nilului waeha. Alisi tafadaya-daya, hulu tafawolo wolo. Ya’ahowu


Aktivitas Sarumaha</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Laksana mutiara terpendam begitulah sebutan untuk pulau Nias. Siapa yang tidak kenal dengan Nias. Keunikan budaya dan keindahan alam seolah menjadi bahan pergunjingan bagi mereka pecinta pelancongan exotic. Siapa sangka dibalik keindahan yang menawan itu tersembunyi berbagai kepiluan yang tak terucapkan.<br />
Jeritan-jeritan itu terbungkam oleh derap langkah kereta kencana yang datang atas nama kepentingan rakyat kecil. Nias  sekarang ini menjadi komoditi yang sangat komersil untuk diperjual belikan oleh mereka yang punya daya. Daya untuk memanipulasi dan mengeksploitasi harta karun yang terpendam itu. Sebenarnya siapa yang menjadi subjek eksploitasi dan siapa yang menjadi objeknya?? Apakah justru kita (Ono Niha) yang  menjadi subjek bagi sesama ono niha yang termarginalkan. Fakta membuktikan: diluar sana (tanő saefo) mayoritas saudara-saudari kita hanya mampu bersaing di tingkat kuli. Sementara di ranah Nias sendiri nun jauh dipelosok sana, keterbelakangan pendidikan dan ekonomi beserta aturan adat yang begitu kaku telah memasung kemerdekaan sejati Ono Niha. Bukankah mereka yang termasuk dalam kelompok akar rumput ini begitu rentan menjadi mangsa kelompok bermodal dan berkuasa?? Siapa peduli?? Bukankah zaman semakin edan?? Atau justru manusianya yang membuat zaman jadi edan?? </p>
<p>Kegalauan ini menjadi suatu perenungan mendalam bagi saya sebagai anak bangsa yang berasal dari tanő niha. Saya yakin bahwa diluar sana tidaklah sedikit saudara-saudari kita yang sudah mengecap perjuangan keras untuk sampai ke puncak keberhasilan. Namun sudahkan kita berbagi dengan mereka yang tersisihkan oleh deru zaman??  </p>
<p>Jargon  N I A S: Nusa Indah Andalan Sumatera, Negeri Impian Aman Sentosa, kedengaran manis di telinga setiap orang yang mendengarkannya. Namun impian ini  bersifat utopis, masih sangat jauh dari realita. Tapi saya optimis bahwa negeri impian ini bisa menjadi milik kita bersama kalau kita bahu membahu, berpegangan tangan membangun tanő niha. Maka nyatalah pepatah Nias mengatakan: Aoha noro nilului waoso, aoha noro nilului waeha. Alisi tafadaya-daya, hulu tafawolo wolo. Ya’ahowu</p>
<p>Aktivitas Sarumaha</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
