JAKARTA (Investor Daily):
Ya’ahowu!! Ucapan salam ini langsung terdengar saat Anda mendarat di Bandar Udara Binaka, Gunung Sitoli, Nias.

Setiap hari, puluhan orang terlihat memadati Bandar Udara Binaka. Sejumlah turis asing pun tampak sibuk membenahi perlengkapan selancar mereka di sela aktivitas masyarakat lokal.

Pulau Nias yang berlokasi di sebelah barat Pulau Sumatera, sekitar 85 mil laut dari Kabupaten Tapanuli Tengah atau Kota Sibolga, menjadi surga selancar bagi para penggila surfing. Bagi penggemar ombak lautan dan peselancar, keindahan pantai Sorake dan Lagundri yang terletak di Kabupaten Nias Selatan (Nisel) menjadi tempat perburuan ketiga di dunia. Ombaknya yang lincah nan gesit, menjadi ciri khas pantai Sorake dan Lagundri. Para pelancong mancanegara telah lama menggandrungi kedua pantai itu.

Meski letaknya terpencil, ternyata tidak memupuskan keinginan para peselancar professional. Mereka pun unjuk kebolehan sekaligus menguji ketangkasan di atas papan selancar.

Wilayah Pantai Sorake dan Lagundri masuk wilayah Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nisel. Meski tinggal di daerah wisata, kehidupan masyarakat setempat tidak seperti umumnya warga yang bermukim di pulau-pulau eksotik lainnya.

Dalam suatu diskusi panel bertajuk Aramba yang digelar oleh Public Information Centre (PIC) Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Perwakilan Nias di Omo Bale Museum Pusaka Nias, baru-baru ini, beberapa elemen masyarakat menyatakan, penduduk asli Nias adalah sokhi, yang berarti baik. Menurut sesepuh adat Nias, ami li moroi ba go juga sudah mendarah daging di masyarakat asli Nias. Dengan kata lain, ucapan atau sapaan lebih berharga bagi masyarakat asli Nias, ketimbang makanan yang paling enak.

Berdasarkan survei Kementerian Lingkungan Hidup pada 1987, masyarakat Nias setidaknya memiliki tujuh karaketristik khas. Ketujuh karakter itu antara lain, mereka masih percaya pada roh dan kekuatan gaib. Warga Nias lebih mengedepankan prestise daripada prestasi. Mereka sulit menerima hal baru sehingga hal-hal baru dianggap tabu. Penduduk Nias lebih mengutamakan kepentingan kelompok atau solidaritas kekerabatan ketimbang kepentingan umum. Orang Nias lebih senang menerima daripada memberi.

“Masyarakat Nias juga bude-bude atau kurang gemar berterus terang,” kata Melkhior Duha, ketua Badan Pemberdayaan dan Warisan Nias.

Melihat karakteristik tersebut, tak mengherankan jika situs megalitikum prasejarah masih tampak berdiri megah di Kecamatan Gomo. Situs itu diperkirakan telah berdiri lebih dari 3.000 tahun dan diyakini sebagai daerah awal mula penyebaran penduduk Pulau Nias. Perkampungan dengan rumah-rumah tradisional

tampak masih utuh, asli, dan berdiri kokoh. Hal itu bisa dijumpai di Desa Bawomataluo dan Hilisimaetano. Tempat itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong.

Satu-satunya rumah adat paling besar di Nisel terdapat di Desa Bawomataluo. Di Omo Sebua yang memiliki ukuran luas 300 meter ini banyak terdapat benda-benda dan ornamen. Benda-benda itu antara lain genderang perang berukuran besar, alat-alat perang, kepala rusa dan monyet, ukiran-ukiran patung dan rahang babi. Yang pasti, setiap benda tersebut memiliki nilai sejarah dan telah berusia ratusan tahun. Omo Sebua yang diperkirakan berusia 160 tahun, telah dihuni oleh beberap generasi. Selain digunakan untuk pertemuan para Si Ulu (golongan bangsawan) dan Si Ila, rumah adat besar itu dipakai untuk yang meletakkan jenasah para bangsawan. Keunikan lainnya yang terdapat di Desa Bawomataluo adalah budaya tarian perang dan lompat batu.

Karena keunikan budayanya, pada 2004, World Monument Fund melalui hasil penelitian UNESCO, menetapkan Omo Hada (rumah adat) di Desa Hilinawalo Mazingo, sebagai salah satu dari 100 situs dunia yang harus dilestarikan, seperti halnya Candi Borobudur, Taman Sari di Yogyakarta, dan Tanah Lot di Bali.
Keunikan lainnya adalah adat istiadat masyarakat Nias yang harus mengonsumsi daging babi tatkala menggelar prosesi kelahiran, perkawinan, kematian ataupun mangowasa (membuat atau menobatkan gelar adat) balugu (gelar adat Nias tertinggi).

Sejak 1960-an, Kabupaten Nias yang beribukota di Gunungsitoli memang terkenal sebagai penghasil ternak babi yang sangat besar. Bahkan, hasil ternak mereka dapat dijumpai pula di Singapura. Berternak babi merupakan usaha yang sangat terkait dengan adat istiadat di Kabupaten Nias.

Usaha pertanian tanaman pangan juga merupakan mata pencarian pokok penduduk Nias. Hasil pertanian mereka antara lain produksi tanaman pangan, seperti padi, palawija, dan hortikultura. Sebagian atau seluruh hasil pertanian itu dijual atau untuk menunjang kehidupan dan menanggung risiko. Komoditas andalan Kabupaten Nias lainnya adalah nilam. Komoditas nilam sempat mengalami booming pada 1997 hingga pertengahan 2000. Saat itu, harga minyak nilam pernah mencapai Rp 1,2 juta per kilogram. Ketika itu, kesejahteraan petani nilam di Kabupaten Nias sangat tinggi.

Pulau Nias juga memiliki potensi ikan luar biasa, baik ikan untuk dikonsumsi maupun ikan hias. Terdiri atas 132 pulau besar dan kecil, Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan menyimpan aneka ragam kekayaan sumber daya laut.

Terletak di sekitar garis khatulistiwa, rata-rata curah hujan di Kepulauan Nias cukup tinggi, yakni 260,00 mm per tahun. Akibat banyaknya curah hujan, kondisi alamnya pun sangat lembab dan basah. Musim hujan dan kemarau silih berganti dalam setahun.

Keadaan iklim di kepualuan Nias juga dipengaruhi oleh Samudera India. Suhu udara berkisar antara 17o / 32,6o dengan kelembaban sekitar 80 – 90% dan kecepatan angin antara 5-6 knot per jam. Musim badai laut biasanya berkisar September sampai November, tetapi kadang terjadi badai pada Agustus. Namun, cuaca bisa berubah secara mendadak.

Rekonstruksi Pascagempa
Pulau Nias merupakan daerah yang terletak di salah satu area aktivitas seismik terbesar di dunia. Menurut Dick Beetham, ahli geologi dan gempa bumi dari Selandia Baru yang saat ini bertugas di BRR dan UNDP Nias, sepanjang 100 kilometer di arah barat Nias tepatnya di dasar laut sepanjang Sumatera dan Jawa, merupakan batas lempeng tektonik. Daerah itu merupakan lempeng India-Australia yang tengah bersubduksi di bawah Sumatera dan Jawa dengan lokasi di tepian lempeng Eurasia. Rata-rata gerakan relatif dari dua lempeng tektonik tersebut adalah 60 mm per tahun.

Umumnya, lempeng-lempeng tersebut terkunci. Tekanannya bisa memunculkan suatu titik. Implikasinya, lempeng penghubung akan putus secara tiba-tiba dan menimbulkan gempa bumi dashyat.

Musibah bencana alam tsunami yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 26 Desember 2004 dan gempa di Nias pada 28 Maret 2006, akibat bagian terdekat dari lempeng penghubung tiba-tiba putus atau lepas.

Bencana dashyat di Pulau Nias memberikan hikmah tersendiri bagi masyarakat Nias. Mereka menjadi terbuka bagi dunia internasional. Berbagai bantuan datang silih berganti dari negara-negara donor dan lembaga swadaya masyarakat LSM). Build back better pun dilakukan oleh BRR yang menetapkan anggaran Rp 10 triliun untuk pengembangan pulau Nias. “Kami ingin membangun Nias lebih baik,” kata William Sabandar, kepala kantor perwakilan BRR Nias.

Seiring dengan derap rekonstruksi Nias, BRR juga melaksanakan proyek jalan masuk ke Pantai Sorake dan Lagundri. Bersama dengan organisasi Yayasan Peduli Pantai Sorake (YPPS) dan SurfAid, tengah diusahakan pula pembersihan dan penanaman pohon mahoni serta cemara laut di sepanjang pantai dan jalan ke Sorake.

Untuk rehabilitasi rumah adat, khususnya di Kabupaten Nias dialokasikan bagi 50 unit rumah. Demikian juga di Nias Selatan (Nisel). Anggaran setiap unit rumah adat ditetapkan sebesar Rp 20 juta dengan total anggaran senilai Rp 2 miliar. Salah satu program rehabilitasi rumah adat yang berlokasi di Nisel, juga termasuk sebuah Omo Sebua di desa Bawamataluo yang sudah menjadi salah satu situs sejarah.
BRR juga akan merevitalisasi kebudayaan Nias yang sudah lama tidak dilaksanakan, yang disebut fondrako atau musyawarah adat baik di Nias maupun Nisel. Fondrako merupakan musyawarah adat Nias tertua yang menghasilkan beberapa ketentuan dan aturan menyangkut ketenteraman dan aspek kehidupan masyarakat.

Selain rencana pelaksanaan musyawarah adat fondrako, BRR akan merealisasikan satu program pembentukan pusat studi bahasa, seni, dan adat Nias. Pembentukan pusat studi ini diharapkan mendokumentasikan hal-hal yang berhubungan dengan bahasa, seni, dan adat istiadat Nias.

Di bidang kesenian tradisional, BRR menyediakan beberapa perangkat alat musik tradisional seperti lagia, doli-doli, tutuhao, fondrabi, aramba (gong) sekaligus faritia. Aramba dan faritia merupakan alat musik yang digunakan pada upacara adat Nias. Demi melestarikan alat musik tradisional, BRR akan mengupayakan pembinaan terhadap pengrajin lokal. Saat ini, para pengrajin alat musik aramba dan faritia hanya menggunakan bahan baku lempengan besi dengan cara memukul. Dulu, mereka membuat aramba dan faritia dengan melebur besi dan mencetaknya dalam cetakan khusus.

Pelestarian situs budaya pun tak luput dari program BRR. Untuk pelestarian situs budaya, direncanakan lokasinya di Kecamatan Gomo dan Lolowau. Sektor pariwisata di Nias dan Nisel, juga masuk dalam total angaran proyek BRR pada 2006. Di Nias direncanakan pada tiga lokasi dan Nisel satu lokasi yang akan dikembangkan, yaitu pantai Lagundri dan pantai Sorake. Nah, sudah saatnya Anda menjelajahi keindahan Pulau Nias ! (yip)

Sumber: Investor indonesia, Sabtu, 15 Juli 2006

Facebook Comments