Wawancara di Nias Portal: Rolf W. Christian Petersen

Dialah yang membawa kapal modern pertama ke Pulau Nias dan berhasil memperkenalkan teknik baru kepada awak kapal dalam waktu singkat. Kemudian dia membangun Pusat Pelatihan Teknik, yang merupakan sekolah pelatihan teknik pertama di dunia dan juga satu-satunya selama beberapa waktu yang menerapkan metode pelatihan dalam tiga tahap dan selain itu juga mandiri. Namanya Rolf W. Christian Petersen dan masih menjalin hubungan baik dengan Indonesia dan Pulau Nias. E. Halawa* dan Raymond Laia dari Nias Portal telah mewawancarai beliau per email.***

KAPAL AGAPE

Empat puluh tahun yang lalu Anda berkelana ke Nias. Dalam rangka apa?

Ya, 40 tahun lalu. Kala itu secara sukarela saya mendaftarkan diri untuk melibatkan diri sebagai relawan di dunia ketiga. Saya bertekad untuk membagikan pengetahuan dan kemampuan saya kepada mereka yang saat itu dinamakan “negara-negara terbelakang”, yang belum memiliki kemungkinan yang baik untuk pendidikan di bidang teknik. Saya juga mengerti keterlibatan saya di luar negeri sebagai “silih” atas apa yang telah dilakukan Jerman di zaman Nazi. Dengan bekal pengetahuan sejarah dari bangku sekolah saya memiliki hanya sedikit “rasa bersalah kolonial”. Usaha pribadi saya untuk “silih” tsb. baru saya dapat kembangkan dengan bertumbuhnya kesadaran akan sisi hitam sejarah hal ini. Saya datang ke Nias pada tahun 1965 dalam rangka proyek “Agape”.

Kapal Agape tak dapat dilepaskan dari sejarah Pulau Nias. Banyak orang Nias masih suka mengenang kapal tsb. dan merasa bangga akan kehadirannya. Bagaimana kisahnya sehingga Pulau Nias mendapatkan hadiah semacam itu?

Präses Gereja Protestan di Rheinland, Jerman, D. Dr. J. Beckmann, menghadiahkan sebuah kapal kepada Gereja Protestan di Nias, BNKP, untuk melayani pelayaran di sebelah barat Sumatera sampai ke Jakarta. Para karyawan Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), yang saat itu bertugas di Sumatera, Nias, Pulau Tello und Mentawai adalah orang-orang pedalaman dan sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengemudikan dan merawat kapal laut sebesar itu. Saya memiliki kemampuan untuk itu, karena saya membutuhkannya agar diterima di organisasi Dienste in Übersee (DÜ) pada bulan Februari 1965. Karena itu saya dipersiapkan secara kilat untuk mengambilalih tanggungjawab tsb. tanpa diberi waktu untuk mempelajari bahasa. Waktunya sangat singkat, karena tanggal telah ditetapkan, yakni 27 September 1965. Tanggal tsb. merupakan yubileum 100 tahun misi Kristiani di Nias. Untuk itu kapal Agape harus dibangun di pabrik kapal di Jerman, kemudian dibawa ke Indonesia (Jakarta), awak kapal dicari dan dibentuk, dididik dan dilatih, dan beberapa pelayaran dinas penting harus ditamatkan. Kapal Agape sampai pada bulan Juli 1965 di Indonesia. Kala itu ada lebih 100 tokoh, yang berpikir, bahwa kapal itu harus melayani kepentingan mereka. Secara hukum BNKP merupakan pemilik kapal tsb., sebab semua dokumen atas namanya, tetapi de facto BNKP tidak mampu, kalaupun telah berusaha. Dilema semacam ini harus saya hadapi, tetapi bagi saya mobilitas kapal justru menguntungkan. Di atas kapal ini saya menghabiskan 95% dari seluruh waktu saya.

Apakah ada kapal-kapal lain saat itu? Bagaimana kelihatannya?

Ya, ada. Dalam rangka pembangunan Rumah Sakit di Gunung Sitoli dan di Hilisimaetanö, dan pembangunan kedua Gereja Yubileum Gunung Sitoli dan Teluk Dalam, serta penempatan seorang misionar di Pulau Tello dan di Lahewa didatangkan antara tahun 1962 dan 1964 empat kapal kecil lainnya ke Nias dan menjadi milik BNKP. Tiga diantaranya telah sangat tua. Kedua kapal terbuka “Hans” dan “Schwalbe” langsung menghembuskan nafas tidak lama setelah berlabuh di pantai di depan pabean di Gunung Sitoli. Kapal yang satu lagi “Tello”, bekas kapal bea cukai, berlayar l.k. 2 tahun antara Pulau Tello, Nias dan Sibolga. Tetapi setelah mengalami kerusakan mesin dijual ke Singkel. Sekoci “Lahewa” diserahkan pada tahun 1965 kepada seorang misionar di Sikakap sebelum digunakan.

Pada tahun 1965 ada beberapa kapal yang secara tidak teratur berlayar ke Nias: “Nias Djaja”, “Nias III”, “Nias IV”, “Sinar Sumatera”, “Bahagia”, “Fajar Harapan”, dan “Kapal Lampu”.

Kesulitan-kesulitan apa yang harus Anda atasi, ketika Anda memimpin awak kapal Agape?

Pada awalnya bahasa merupakan masalah terbesar dan dengan demikian juga merupakan masalah buat awak kapal untuk mengenal secara cepat kapal yang berteknologi tinggi ini. Kejadian seputar 30 September 1965 (G30S PKI) telah mempercepat hilangnya perbedaan antara orang Nias, Batak, Ambon dan Jerman, sebab semua punya tujuan yang sama: bertahan hidup.

Pengalaman apa dengan Agape yang Anda suka kenang sampai hari ini?

Ada satu pengalaman, yang saya ingat dengan baik. Terjadi dalam pelayaran jauh ke Mentawai dan Jakarta. Di pelabuhan di Sipora tukang masak mengatakan kepada saya, bahwa persediaan beras di kapal tidak cukup sampai ke Jakarta. Saya tahu, bahwa tak ada kemungkinan membeli beras di Mentawai, maka saya memutuskan belanja kelapa, ubi, talas dan sagu, serta ayam dan telur dalm jumlah besar. Kami juga punya alat pancing di kapal dan setiap hari kami memancing ikan-ikan besar, selain ikan tongkol, tenggiri dan smedan. Saya mengatakan kepada tukang masak untuk memasak banyak-banyak, sehingga setiap orang bisa makan seekor ayam tiap hari selain ikan. Setelah beberapa hari terasa adanya ketidakpuasan, walau cuaca kala itu bagus. Setelah saya selidiki saya baru tahu, bahwa ada cukup rokok, kopi, teh, dan gula di atas kapal. Tetapi apabila saya menanyakan seseorang setelah makan, apakah ia sudah makan, ia selalu menjawab: belum. Padahal ia baru saja menyantap setengah ayam dengan ubi dan sayur, seperti saya juga. Ya, tak ada beras! Saya belajar saat itu: orang baru merasa telah makan, bila telah makan nasi.

SEKOLAH PELATIHAN TEKNIK

Di Nias banyak hal telah berubah. Bagaimana situasi ketika Anda pertama kali tiba di Nias?

Ketika saya sampai, ada dua truk dan enam Jeep/Landrover di Pulau Nias. Bengkel untuk memperbaiki truk dan jeep tak ada. Kalau ada sesuatu yang rusak di kendaran, maka bagian tsb. dibongkar lalu dibawa ke Sumatera. Memang saat itu ada sebuah STM Negeri.

Pengadaan listrik hanya terbatas di daerah pasar Gunung Sitoli pada masa itu, dan menjangkau di Utara sampai ke Rumah Sakit Lama dan Asrama Polisi, dan di Selatan sampai Simpang Kampung Baru. Itu pun hanya dari Pukul 5 sore sampai Pukul 7 pagi. Pemakaian tenaga listrik selain untuk penerangan tidak mungkin.

Anda telah membangun Pusat Latihan Kejuruan Teknik (PLKT) in Tohia. Apa yang telah dicapai sekolah ini dan bagaimana nasibnya sekarang?

PLKT di Tohia merupakan sekolah pelatihan teknik pertama di dunia dan juga satu-satunya selama beberapa waktu yang menerapkan metode “pelatihan dalam tiga tahap” dan selain itu juga mandiri, artinya dijalankan tanpa subsidi dan tanpa uang sekolah, kendati demikian bisa berjalan secara ekonomis. Hal itu saya baru tahu kemudian di Eropa.

Antara tahun 1967 dan 1975 PLKT memili posisi utama di Nias dan bahkan sampai ke luar Nias dalam hal pelatihan teknik dan service. Melalui kualitas rancangan dan buatannya PLTK tidak terancam bangkrut sampai hari ini.

Kepanjangan dari PLKT dalam bahasa Nias: Pusat Latihan Kejuruan Tambilakha. Dinamakan tambilakha, berarti berbahaya, karena tidak bisa dimanipulasi, dan bisa menyembuhkan diri sendiri.

Apakah Anda masih punya kontak dengan bekas murid Anda?

Ya. Setiap kali berkunjung ke Nias saya mengunjungi PLKT dan bekas-bekas murid, yang juga setelah 35 masih mencari nafkah di situ.

MISI

Perkembangan di Pulau Nias tak dapat dibayangkan tanpa misi Gereja. Bagaimana pendapat Anda?

Kalau boleh tema seperti ini dibahas tersendiri, sebab saya pikir, apa yang saya kemukakan tentang hal ini akan keluar dari kerangka wawancara ini.

Anda datang ke Nias, untuk bekerja dalam proyek bantuan Rheinische Missions-Gesellschaft. Apakah hal ini mempunyai peranan dalam hidup Anda?

Tidak. Seperti telah kemukakan di atas, baik projek Agape maupun PLKT bukanlah proyek bantuan dari Rheinische Missionsgesellschaft (RMG). Dalam proyek Agape RMG merupakan pihak yang memakai saja dan pada projek PLKT RMG lebih merupakan lawan dan berusaha menggagalkannya, suatu hal yang sampai hari ini tidak berhasil, karena PLKT secara ekonomis mandiri. Tetapi menjawab pertanyaan kedua: Ya. Dalam hidup saya menolong orang lain memainkan peranan yang lebih penting, daripada menunaikan tugas sebuah organisasi.

PULAU NIAS

Terakhir Anda telah mengunjungi Nias pada tahun 2003. Apakah kesan-kesan Anda dibandingkan dengan zaman-zaman dulu? Apakah Anda kadang-kadang rindu ke Nias?

Ya, ada rasa rindu ke Nias, tetapi rindu akan Nias zaman dulu, sesuatu yang sudah tidak ada lagi. Waktu tidaklah berhenti di Nias, seperti juga di tempat lainnya di Indonesia. Data-data ekonomis dari Nias buruk dan saya takut, bahwa pemekaran menjadi dua kabupaten akan membuat keadaan semakin buruk lagi. Kehendak untuk berprestasi dan berproduksi telah menurun dan mentalitas menerima serta mengemis telah semakin menjadi-jadi. Hal ini akan berakibat fatal, karena sebagian besar pimpinan di dalam politik, negara, dan Gereja condong ke mentalitas seperti itu.

Apakah Anda masih menjadi kontak dengan Nias?

Ya. Saya punya serangkaian kontak aktif dengan Pulau Nias dan orang-orang Nias di bagian dunia lain.

Asosiasi apa yang timbul di benak Anda, bila ingat Nias sekarang? Apa harapan Anda bagi orang Nias untuk masa depan?

Saya mengharapkan, penduduk Pulau Nias akan mengenal, bahwa Pulau ini secara alamiah tanah “terberkati” dan memeliharanya lebih baik di masa depan, dan tidak mengurasnya, seolah-olah pulau ini merupakan tanah usang, yang akan diganti menjadi tempat serap oleh pemerintah di Jakarta atau oleh siapa pun. Ada hal-hal dalam hidup orang Nias, yang tak dapat dihancurkan, melainkan dijaga dan yang atasnya orang Nias bisa bangga. Semoga Tanö Niha termasuk hal seperti itu. Marilah memikirkan bersama, apa yang dimiliki Pulau Nias dan apa yang ada di sana yang tidak ada di tempat lain, dan tidak bertujuan, mencari apa yang tidak dimiliki oleh Nias, untuk kemudian mengimportnya ke sana. Memelihara keunikan Nias saya lihat merupakan tugas. Sibolga, Medan, Jakarta, ada di mana-mana, tetapi Nias tidak.

Terima kasih banyak atas wawancara ini.
Catatan: Wawancara ini ditayangkan pertama kali di Nias Portal 5 Agustus 2004. Isinya masih aktual dan relevan untuk dibaca.

Komentari

RAYMOND says:

Kapal Agape adalah kebanggaan bagi putra-putra Nias khususnya anak-anak pantai Gunung Sitoli,menjadi nostalgia masa kecil berenang di pantai dan berlomba utk mencapai Kapal Agape.YAAHOWU TANO NIHA !!

ardiansyah harefa says:

kapal agape sampai era tahun 80 an merupakan tulang punggung perekonomian nias saya kangen dengan kapal ini diman tiap pagi say melihatnya dari belakang rumah saya yang kebetulan dibelakang rumah say adalah pantai. ada ngga foto kapal agape? kalau ada tolong dong diposkan disini.

zul azmi sibuea says:

akhir minggu yang lalu, tgl 20/07 bertepatan libur isra’ mi’raj, saya berada dinias tiga hari, travel ke bowo mataluo, pantai lagundri, teluk dalam ,sirombu, dll. dibandingkan dengan kunjungan saya ke pulau ini pada tahun 2003, saya melihat perkembangan yang sangat pesat, terutama paska rehabilitasi tsunami dan gempa nias.

terlihat dari kualitas jalan-jalan protokol, fasilitas umum (pompa bensin, hotel dst), barisan pertokoan, bahkan pada sikap orang -orang yang saya temui di jalan, rasanya setiap orang terasa semakin terbuka, semakin ramah (terutama kalau ingin menjual sesuatu),dan menjadi semakin metropolis – jauh lebih pesat dari perkembangan kota-kota lain di indonesia termasuk sibolga.

hanya barangkali sedikit perlu penertiban terhadap para pemandu wisata (semacam) guide di bowo mataluo agar tujuan wisata ini dapat lebih “terencana” dan dapat menjadi agenda dinas pariwisata nisel agar pengunjung tidak menjadi sasaran “pemerasan” dari para “personal” atau semacam “agen” dari pelaku acara (pelompat batu). – dengan kata lain , agar event lompat batu dapat lebih terencana, standar, jelas tatacaranya, orangnya, agennya dan organisasinya maka site dan event ini perlu di “manage”. (sebelumnya koment dengan nada yang sama pada http://teropongkaca.com/?p=701&cpage=1#comment-7990

ya’ahowu
zul azmi sibuea

Fajar Zebua says:

Ini sebuah wawasan baru bagi saya…ternyata Nias itu begitu indah pada masa dulunya……saya harap masyarakat NIas yang akan membaca ini semakin menghargai keberadaan pulau Nias secara utuh dan tidak menyia-nyiakan potensi yang ada di dalamnya……orang di luar Nias begitu respek terhadap Pulau Nias seperti Rolf W. Christian Petersen, apalagi kita yang dilahirkan serta besar di Nias seharusnya menjaga dan melestarikan Pulau Nias sebagai kebanggaan dalam hati serta warisan yang tak ternilai bagi generasi penerus nantinya……Ya’ahowu