Menyambut dan menyikapi kelahiran Propinsi Tapanuli

Saturday, July 8, 2006
By nias

Etis Nehe & Noni Telaumbanua

Eforia pemekaran ternyata belum surut juga. Seperti dijelaskan oleh Mendagri, sejak reformasi 1998 hingga Mei 2006 yang lalu pemerintah telah menerima pengajuan pembentukan 21 propinsi, 85 kabupaten dan 7 kota yang baru (Metro, 20/5/06).

Demikian juga halnya di propinsi Sumut yang merupakan salah satu propinsi ‘gemuk’ di Indonesia. Dengan terbentuknya Kabupaten Nias Selatan, Pakpak Barat dan Humbang Hasundutan pada tahun 2003, Sumut kini terdiri dari 25 kabupaten. Selain itu, di beberapa kabupaten terjadi pemekaran kecamatan yang sangat intensif seperti halnya di Kabupaten Nias.

Setelah lama menjadi wacana dan rahasia umum, aspirasi untuk memekarkan Propinsi Tapanuli dari Propinsi Sumatera Utara memuncak di tahun 2006 ini.

Aspirasi pembentukan Propinsi Tapanuli tersebut semakin hari semakin bergulir dan mulai menemukan bentuknya. Dengan jargon kesejahteraan rakyat melalui percepatan pembangunan dengan rentang kendali yang diperpendek (jargon yang lazim dalam perjuangan pemekaran), ide pembentukan Propinsi Tapanuli tersebut semakin menarik. Hal itu semakin menguat dengan adanya sinyal positif dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mengunjungi Taput dan Tobasa bulan April 2006 lalu dan dukungan resmi dari pemerintah Propinsi Sumut melalui Sekda Propsu Muchyan Tambusai, 5 Mei lalu (SIB, 16/5/ 2006)

Tidak dapat dipungkiri bahwa posisi Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan di wilayah paling barat dan relatif dekat dengan rencana pusat pemerintahan Propinsi Tapanuli dibandingkan dengan Medan, “memaksa” para pejabat terkait di kedua kabupaten berpikir dan menentukan sikap apakah akan ikut bergabung (menerima tawaran untuk bergabung) dengan propinsi Tapanuli tersebut.

Beberapa pejabat yang berasal dari Nias dan Nias Selatan, sudah lebih dini menyatakan kesetujuannya. Aliozisokhi Fau (DPRD Tk. I) dan Hadirat Manaö (Ketua DPRD Nias Selatan) mendukung ide penggabungan Nias dan Nias Selatan ke dalam propinsi Tapanuli tersebut. Demikian juga halnya Binahati Baeha (Bupati Nias) seiring sejalan dengan ide tersebut (SIB , 23/5/2006). Bahkan pada satu kesempatan Idealisman Dakhi (Anggota DPR RI) mendesak percepatan pembentukan propinsi Tapanuli tersebut (SIB, 27/05/2006) tetapi dengan catatan berikut: “Tetapi harus ada komitmen yang tinggi di antara semua unsur daerah untuk menjaga kesetaraan hak dan kewajiban dari masing-masing daerah,” sebagaimana disampaikannya kepada SIB melalui telepon Jumat (5/5).

Adapun ke 13 kabupaten / kota yang diharapkan akan bergabung dalam Propinsi Tapanuli tersebut adalah kota / kabupaten: Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tobasa, Samosir, Humbahas, Nias, Nias Selatan, Dairi, Pakpak Barat, Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan dan Madina.

Nias dan Nias Selatan, Quo Vadis?
Penting untuk diketahui bahwa saat ini Kabupaten Nias dan Nias Selatan adalah merupakan dua dari 6 daerah miskin di Sumut sebagaimana diumumkan oleh Kementerian Pembangunan Daerah Terpencil beberapa bulan lalu. Tentu saja banyak faktor mempengaruhi kondisi tersebut, sehingga perlu kesungguhan dan pemikiran yang mendalam sebelum memutuskan untuk bergabung atau tidak dengan Propinsi Tapanuli tersebut.Apabila mengacu pada UU No. 32 Tahun 2004, yang mensyaratkan minimal 5 daerah bagi dimungkinkannya pembentukan sebuah provinsi, maka bergabung tidaknya Nias dan Nias Selatan ke dalam Propinsi Tapanuli sebenarnya tidak merupakan “masalah” bagi daerah-daerah yang secara aktif ikut dalam proses penggagasan lahirnya Propinsi Tapanuli. Hingga 10 April 2006, dilaporkan sudah 4 daerah Kabupaten/Kota yang sudah mendapat rekomendasi baik dari Bupati maupun dari DPRD-nya. Daerah tersebut adalah Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Toba Samosir dan Kota Sibolga. Dua daerah lainnya – Humbang Hasundutan dan Samosir – baru mendapat rekomendasi dari DPRD.

Akan tetapi gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli ini memaksa Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan menentukan sikap dan pilihan: bergabung atau tidak. Kalau memilih bergabung, haruslah ada alasan-alasan yang kuat, persiapan yang matang, cara menyikapi dan beraksi secara tepat. Sebaliknya, jika Nias dan Nias Selatan memutuskan tetap berada di “luar”, juga harus dipikirkan, dikaji dan dikedepankan alternatif-alternatif yang lebih baik, atau kalau mungkin, alternatif terbaik.

Diskusi Online ini mengajak para pengunjung Situs Yaahowu menyampaikan pendapat dan menyumbangkan gagasan tentang bagaimana Nias dan Nias Selatan menyikapi kelahiran Propinsi Tapanuli.
Selamat berdiskusi. (Redaksi).

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

July 2006
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31