Michael Sabbath

Setiap pesta gerejawi mengundang kita berefleksi tentang arti iman kita. Pesta Paskah membaharui keberanian kita dan menolong kita untuk menghadapi tantangan-tantangan kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama, demikian juga kesulitan-kesulitan yang kita temui di berbagai negara di mana diosis kita berkarya: Yordan, Palestina, Israel dan Siprus.

Pesta Paskah mengundang kita membaharui iman kita pada Allah dan kepercayaan akan diri sendiri sehingga kita bisa berkontribusi lebih baik untuk membangun masyarakat kita di mana kita dipanggil untuk mengasihi sesama tanpa pandang bulu dan mengatasi tembok-tembok agama dan kebangsaan. Kebangkitan Kristus dan kemenangan-Nya atas maut memberitahukan kepada kita bahwa: Pertama, “Firman itu diam di antara kita” (Yoh. 1:14); kedua: “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8); dan ketiga: Dia telah membuat kita mampu mengasihi seperti Dia: “Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya” (1 Yoh 4:13). “Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1 Yoh 4:12).

Oleh kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus menjadikan setiap kita ciptaan baru dan Manusia Baru “di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:24). Ia mengisi kita dengan Roh-Nya, dan “buah Roh”, kata St. Paulus “adalah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan dan pengendalian diri” (Gal 5: 22-23).

2

Kehidupan kita sehari-hari rasanya jauh dari visi “Allah-bersama-kita”, jauh dari visi “cinta-Nya untuk semua” dan jauh dari buah-buah Roh dalam kita. Dalam kehidupan sehari-hari kadang-kadang kita memiliki kesan bahwa kehidupan Roh yang menghasilkan kasih, kegembiraan dan kedamaian, adalah mimpi yang mustahil, terutama di Tanah Suci ini yang selama bertahun-tahun tenggelam dalam kehidupan saling membenci, saling menolak, dan kematian. Dan, tingkah laku para pemimpin dan kehidupan individu dan kelompok-kelompok berlangsung menurut logika ini. Membunuh untuk mempertahankan kehidupan. Kita membunuh karena kita dibunuh. Kita membenci karena kita ketakutan atau ditindas. Inilah kriteria yang kita hidupi di Tanah Suci ini, di tanah Kebangkitan, di tanah di mana Allah berfirman, dan di mana ketiga agama (Yahudi, Kristen dan Islam) mengklaim mereka percaya pada Allah dan mendengarkan firman-Nya.

3

Terlepas dari kenyataan yang sulit ini, kita harus menyatakan dengan lantang bahwa tanah di mana Allah berfirman dan mengungkapkan kasih-Nya untuk semua bangsa bisa tetap menjadi tanah Firman Tuhan, dan bukan sekadar tanah “firman manusia” di mana firman Tuhan digantikan oleh sikap-sikap kematian dan kebencian. Kita harus percaya pada kemampuan kita semua – orang Israel dan Palestina – untuk mengasihi. Kita mampu mengasihi dan menciptakan keadilan untuk kedua bangsa kita dan untuk bangsa-bangsa lain. Kita membutuhkan permulaan yang baru menurut prinsip-prinsip dan perspektif kehidupan baru di Tanah Suci ini. Kita mampu membebaskan diri dari kematian yang telah ditimpakan atas kita sampai sekarang. Kita – orang Israel dan Palestina – mampu membebaskan diri dari ketakutan yang datang dari kekerasan dan terorisme, dari pendudukan yang dipaksakan oleh yang lebih kuat, dan dari logika kematian dan kebencian. Anda yang sedang membunuh, hetikan pembunuhan. Anda, yang membenci, hentikan kebencian. Anda yang menduduki tanah orang, kembalikan tanah itu kepada pemiliknya. Kasih dan kepercayaan jauh lebih efektif untuk mengembalikan kebebasan, keamanan dan keinginan merdeka yang dipisahkan dari Anda. Tentu saja, bahasa ini kedengaran asing bagi para pemegang kekuasaan. Namun, kita juga bisa mengatakan kepada para pemimpin pemerintahan: “Para pemimpin kami, yang tidak percaya dengan bahasa ini, Anda juga mampu mengasihi, menghidupi dan mentransformasikan relasi antara kedua bangsa yang mendiami Tanah Suci ini ke dalam istilah kehidupan dan kedamaian.”

4

Saudara dan Saudari, yang sedang merayakan Kebangkitan Tuhan di diosis kita dan di seluruh dunia, semoga kebahagian dan kesuican Hari Raya Paskah bersama Anda. Kepada semua penduduk Tanah Suci ini, orang-orang Kristen, Yahudi, Muslim dan Druze, semoga kasih karunia Allah melimpah atas Anda. Untuk umat Yahudi yang sedang merayakan “Paskah” (Passover) dalam hari-hari ini, semoga Hari Raya ini menjadi sumber rahmat, kasih dan keadilan bagi Anda dan bagi semua penduduk Tanah Suci ini.

Nabi Yesaya berkata: “Sesungguhnya seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan” (Yes. 32:1). Kita mengharapkan nubuatan ini menjadi kenyataan di tanah kita. Saat ini, “utusan-utusan yang mencari damai menangis dengan pedih” (Yes. 33:7). Kita berdoa dan berharap bahwa para pemimpin kita mampu membiarkan diri mereka dituntun oleh perspektif dan dorongan baru yang akan mengubah muka dunia ini dan mengisi pikiran dan hati manusia dengan keamanan, keadilan dan ketenangan.

Selamat dan Sucilah Hari Raya Paskah.

Michael Sabbath, Patriarkh
Yerusalem, 11 April 2006

Catatan:
Michael Sabbath adalah Patriarch Latin of Jerusalem atau Uskup Agung Gereja Katolik Roma di Yerusalem. Patriarch Latin of Jerusalem memiliki yurisdiksi untuk seluruh umat Katolik Roma di Israel dan Palestina. Michael Sabbath adalah orang Palestina pertama yang menjadi Patriarkh Yerusalem, diangkat oleh Paus Johannes Paulus II (alm.) pada tahun 1987. Michael Sabbah adalah pembela yang tak mengenal lelah untuk hak-hak rakyat Palestina. (wikipedia).
Note: Sumber: Situs Latin Patriarchate of Jerusalem (http://www.lpj.org/)

Facebook Comments