Setelah Setahun Gempa di Gunung Sitoli

Wednesday, March 29, 2006
By susuwongi

MALAM semakin larut meninggalkan hari di Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Sumatera Utara. Aktivitas di tengah kota itu pun lengang, tanpa ada kegiatan apa pun.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh menyusul getaran amat kuat. “Kraak…braak…braak.”

Spontan masyarakat terkejut. Mereka berhamburan, keluar dari rumah masing-masing menyelamatkan diri. Namun ada masyarakat yang bernasib sial, terjepit bangunan.

Teriakan terdengar di mana-mana. Ada yang menangis, ada yang seperti orang kehilangan akal sehat. Tidak sedikit yang menjadi korban tewas, luka-luka dan kehilangan tempat tinggal. Tidak hanya rumah, sekolah, tempat ibadah, jalanan pun mengalami kerusakan yang amat parah. Hanya menjerit yang dapat dilakukan masyarakat di sana.

Begitulah, musibah setahun lalu menelan korban jiwa lebih dari 600 orang. Musibah itu, sampai saat ini, belum luput dari ingatan masyarakat, khususnya para korban.

“Sangat mengerikan! Dan, rasa-rasanya seperti bermimpi saja. Dalam waktu sekejap segalanya sirna begitu saja. Saat itu, sepertinya tidak ada lagi tanda kehidupan. Listrik pun padam,” ujar Sisilia Nduru (26).

Sisilia adalah warga yang selamat dalam musibah itu. “Tanpa sadar saya keluar rumah. Saat itu saya seperti ditarik dan didorong kuat oleh seseorang dari dalam. Saya tersadar ketika tidak melihat ibu, suami dan adik-adik. Mereka tertimbun bangunan rumah kami,” kenangnya.

Sisilia menangis saat menceritakan musibah setahun lalu. Dia masih trauma dan terkadang tidak percaya atas kejadian tersebut. “Padahal, malam kejadian itu kami baru selesai merayakan Hari Paskah. Ternyata hari itu merupakan perpisahan saya dengan keluarga,” katanya sambil meneteskan air mata.

Sejak musibah itu pula hidup wanita malang ini bersama dengan seorang putrinya, Elisa Gulo (6), telantar. Hidup mereka bergantung pada bantuan masyarakat yang ringan tangan. Juga mengharapkan bantuan relawan.

Menumpang dari satu rumah, bahkan menginap di kemah pengungsian, hanya itu yang dapat dilakukannya ketika itu.

Namun belakangan Sisilia mengalami kesulitan, saat bantuan makanan mulai menurun. Dia terpaksa berjuang mencari uang untuk menafkahi anaknya.

“Hanya dia yang kumiliki saat ini. Musibah tahun lalu membuatnya hidup menjadi anak yatim. Rasanya seperti sudah kiamat,” keluhnya lagi.

Tapi apa mau dikata. segalanya telah terjadi. Bukan karena keinginan dan kehendak manusia. Bila Tuhan sudah berkehendak, umatnya hanya dapat pasrah, menerima kenyataan.

“Cobaan ini memang terlalu berat. Terkadang saya juga tak sadar, merasakan masih bersama hidup dengan keluarga,” ucap Dian Astuti Zebua (23), seorang wanita korban bencana gempa.

Seorang pria berusia 40 tahun terpaku menatap tanah kosong, eks bangunan rumah toko. Tatapan matanya begitu hampa. Pria itu adalah Hendra, tanpa sadar meneteskan air mata, mengenang keluarganya. Dia salah seorang dari korban bencana gempa, setahun lalu.

Dia tidak peduli akan orang sekelilingnya. Yaah, dia memang pernah tinggal di atas tanah kosong itu, sebelum bangunan rumah berlantai tiga roboh. Hendra merupakan salah seorang dari sekian banyak warga yang selamat, meski sempat tertimbun bangunan sekitar 100 jam, atau lima hari setelah gempa.

Berusaha Tegar

Mengenang musibah setahun lalu begitu menyakitkan. Hendra pun berusaha tegar menghadapi kenyataan pahit itu. Hendra terkadang terhanyut dalam kegelapan, duka yang amat mendalam. Masih terngiang dalam ingatannya, ketika dua anaknya, saat masih terjepit di antara bangunan, kehausan minta air.

“Tiga hari setelah terjepit bangunan, mereka masih hidup. Di tengah kegelapan itu mereka memanggil, dan terus memanggil. Tangan ini hanya bisa menggapai, tanpa bisa berbuat. Terakhir mereka meminta saya menyanyikan lagu Nina Bobo. Hanya itu permintaan mereka yang dapat kupenuhi, saat itu,” kenang Hendra sambil menangis, Minggu (26/3) pagi itu.

Permintaan kedua anaknya itu ternyata untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu, pria malang ini pun tidak mendengarkan keluhan kedua buah hatinya.

“Permintaan terakhir itu yang selalu membayangi pikiran ini. Sungguh mengerikan. Kasihan mereka. Saya juga tidak menyangka bisa luput dari maut,” katanya lagi.

Hendra tidak yakin kalau saat kejadian, ia bisa diselamatkan. Ia diselamatkan relawan asing. Semula masyarakat sudah berupaya keras melakukan pertolongan, membongkar beton yang menimpa Hendra sekeluarga. Tapi masyarakat tidak sanggup, lantas memanggil relawan asing. Hendra pun diselamatkan.

Kemudian dia dilarikan ke Rumah Sakit Umum Gunung Sitoli, untuk mendapatkan pertolongan. Beberapa hari setelah menjalani perawatan, ia pun diboyong keluarganya keluar dari Gunung Sitoli. Hendra kembali lagi ke Nias, kemarin itu, untuk mengenang keluarga tercintanya. “Ternyata belum ada perubahan, hanya reruntuhan bangunan yang bersih,” ia mengeluh lagi.

“Kasihan dia. Kini dia tinggal seorang diri. Segala yang dimilikinya telah sirna dengan begitu saja. Ia masih stres, dan kelihatan sulit menerima kenyataan. Tapi memang begitulah realita kehidupan ini, bila Tuhan sudah berkehendak, kita hanya dapat menjalani saja. Siapa yang dapat menolak kehendak-Nya,” tutur Hadirat Gea (34), seorang warga merasa iba.

Hadirat mengatakan, masih banyak lagi warga malang lainnya yang merasakan penderitaan yang sama dengan Hendra. Ada yang terganggu kejiwaannya, ada bahkan yang mencoba menghabisi nyawa sendiri.

Ada pula yang tetap tegar menerima kenyataan pahit tersebut. Lebih disesalkan lagi, mereka yang tertimpa musibah masih banyak tinggal di kemah pengungsian.

Tinggal di kemah pengungsian itu, bukan karena mengkhawatirkan kejadian gempa ataupun tsunami akan terjadi. Namun karena tidak mempunyai tempat tinggal. Lambannya pembangunan oleh pemerintah atas pemukiman untuk tempat tinggal membuat korban bencana semakin menderita.

Setahun setelah musibah itu berlalu, belum ada masyarakat yang merasa puas atas kinerja pemerintah melakukan pembangunan di daerah ini. Semuanya nihil, dan terkesan bohong belaka. Untuk itu, sekali lagi masyarakat mengharapkan pemerintah untuk mengoreksi kinerja perwakilannya di daerah ini,” katanya.

Musibah sudah setahun berlalu. Menahan kecewa, mengerutkan kening, mencibir seperti yang dilontarkan Hadirat sebagai tanda kebencian, mengepalkan tangan karena merasa kurang puas, menghiasi gambaran wajah kesedihan korban bencana.

“Bantuan itu tidak pernah lagi kami terima. Untuk bertahan hidup, kami mencarinya sendiri dengan mencuci pakaian, menjadi pembantu rumah tangga atau sebagai penderes di perkebunan. Yang penting halal, dan bisa untuk makan,” ujar Adelina (34), seorang pengungsi di sana.

Ibu beranak dua ini sengaja menyempatkan diri untuk kembali ke areal tanah kosong bekas permukiman orangtuanya untuk menaburkan bunga, mengenang setahun setelah musibah gempa berlalu. Tidak hanya dia, banyak warga lain yang melakukan hal sama.

Pemerintah diharapkan menepati janji, merealisasikan pembangunan permukiman masyarakat korban bencana. Tindak mereka yang menyimpang dalam melaksanakan tugas, apalagi mengambil keuntungan dari tengah bencana tersebut. Indikasi ini dipastikan terjadi, meski masyarakat belum menemukan bukti.

PEMBARUAN/ARNOLD H SIANTURI

Sumber: suarapembaruan online, Selasa, 28 Maret 2006

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2006
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031