Menuai Tahun Terbaik

Tuesday, March 28, 2006
By nias

Noni Telaumbanua

Setahun yang lalu tgl. 28 Maret 2005 merupakan hari terpanjang dalam kehidupan saya pribadi sebagai Ono Niha dan menjadi catatan paling menyedihkan atas sebuah kata dukacita, sekaligus menjadi puncak titik balik keseharian. Bila ratusan hari kemudian masih menyiratkan ratapan dan luka mendalam, bukan berarti hal terburuk ini tidak memberi dampak akan sebuah perubahan terbaik.Tahun-tahun ke depan menjadi tahun terbaik. Itu sebuah kepastian, entah kelak berupa situasi yang memburuk atau berupa kemapanan sendi kehidupan. Dan saya mematrikan hal ini jelas bahwa bagi saya pribadi, sekarang saya sedang menuai tahun-tahun terbaik dalam kehidupan saya.

Saya pada dasarnya sudah tidak punya apa-apa lagi. Bencana jahanam itu menyebabkan saya dalam sekejap kehilangan orang tua dan seluruh anggota keluarga, rumah saya sudah tidak punya, ujian akhir SMU saya selesaikan begitu saja, saya masih merasa terlalu lelah. Semua masih membingungkan.

Aneh sekali saya segera menyadari diri sebagai seorang yang tidak punya apa-apa, merasa „melayang“, setengah dari „perasaan“ ini sudah tidak ada, semua serba tiba-tiba, begitulah kira-kira.

Tanah peninggalan orang tua sama sekali tidak menarik untuk saya urus, pun hingga saat ini. Saya ke luar dari Nias hanya untuk terlunta-lunta, urusan agama memang menjadi konsumsi saya sehari-hari karena didampingi beberapa konselor. Kala itu setelah bencana, urusan agama menjadi konsumsi menarik karena bencana di pulau tercinta ini diartikan banyak hal oleh semua kaum beragama, begitulah kira-kira.

Namun kemudian saya menjadi gampang meradang, urusan agama ini tiba-tiba saya kesampingkan, saya pikir, ini bukan „barang“ tepat untuk saya konsumsi saat ini. Saya menjauhkan diri. (Bila ibu saya tahu begini, saya bakalan di sumpahin habis-habisan).

Tapi saya mencoba untuk tidak menyerah dengan keadaan yang seolah tidak ada pengharapan, karena ini hanya fenomenal, gejolak biasa setelah „shock“ berkepanjangan. Ini nasehat dari konselor saya, lho. Reaksi saya terhadap konselor yang baik hati ini: mana mungkin mereka mengerti situasi saya, sementara para konselor itu tidak pernah mengalami perihal seperti saya.

Saya berkenalan dengan beberapa orang yang saya kira berbudi baik, tapi tiba-tiba saya sadari bahwa situasi saya dimanfaatkan untuk urusan amal dan bala bantuan. Saya gerah menjadi boneka contoh yang seolah dipajang di mana-mana untuk urusan pengumpulan dana.

Tiba-tiba ratusan bahkan ribuan orang hilir-mudik, silih berganti ke luar masuk desa, entah apa yang mereka lakukan. Ada yang memang sepertinya menetap dengan kami tapi ada yang hanya berbilang hari, setelah itu tidak kembali lagi. Saya dan semua di kampung awalnya bergembira hati, tapi semua serba membingungkan. Mereka menolong penduduk setempat dengan berbagai bala bantuan, membawa berbagai peralatan aneh, entah untuk keperluan apa, mengukur setiap jengkal tanah kami, mengais-ngais, atau menebang berbagai jenis tanaman kami, atau entahlah.Ramai sekali.

Tiba-tiba ada pembangunan rumah-rumah baru yang menyenangkan, tapi kami masih menanti-nanti, bangunan baru itu kelak untuk siapa.

Tiba-tiba semua penduduk kampung kami begitu agresif untuk mendapat perhatian dan mencoba mencari tahu sebanyak mungkin, jenis bala bantuan apa saja atau berita baru apa saja yang mungkin berkenan bagi kami dan mungkin bisa kami dapatkan. Semua menjadi serba menunggu. Ini membingungkan.

Sekonyong-konyong kami menyadari bahwa kami diabaikan untuk kesekian kalinya, karena kami tidak menduga bila pulau pujaan hati kami ini adalah sebuah tempat berbahaya. Begitukah? Tak seorang pun yang menjelaskan dengan tepat, kecuali kami diberi berbagai peringatan dan pemberitahuan bersifat penting, tentang apa yang harus kami lakukan bila bencana datang lagi. Dst…dst… Semuanya terlalu banyak untuk saya dan seisi kampung.

Tidak lama setelah saya berpindah dari kota kedua yang saya singgahi, saya bekerja di sebuah bengkel sepeda dan berkenalan dengan seorang perempuan, baik hati dan sudah pasti sangat ramah. Dia mendengar saya dengan sepenuh hati bila saya menceritakan keluh-kesah yang entah kesekian ribu kalinya. Dia bukan Ono Niha, juga bukan dari kalangan seagama dengan saya. Saya teringat mendiang ibu yang memberi wejangan wajib tentang „calon“ di masa depan. Ah, saya sudah tidak peduli, saya sekarang sendiri di muka bumi ini dan semua keputusan ada di tangan sendiri. Si gadis manis ini menawarkan bahwa orang tuanya tidak berkeberatan bila saya tinggal di rumahnya sehingga tidak perlu kos atau terlunta-lunta menginap di kos teman yang satu ke tempat kos lainnya. Tawaran segera saya terima, saya pikir ini juga tidak masalah. Tawaran tinggal ini pun tidak hanya sampai disitu, hingga tawaran pernikahan tanpa jujuran dari acara pesta hingga rumah tinggal setelah menikah nanti dan masih menanti sejumlah tawaran pekerjaan, semua siap dan saya hanya „tau beres“. Saya dan kekasih saya sudah terikat benar.

Tidak lama saya mendapat banyak sorotan dan kecaman dan berbagai hal menakutkan dari sanak famili baik dari pihak mendiang ibu dan ayah saya. Salah sendiri, kata suara hatiku, begitulah kalau memberitakannya ke salah satu sanak keluarga. Kepala ini rasanya mau pecah dan kemarahan ini memuncak, karena mereka „mengatur“ saya, kerena tiba-tiba mereka ada dan „mengaku“ saudara. Saudara-saudara ini mengharuskan saya untuk membuka mata lebar-lebar bahwa gadis manis pujaan hati saya ini sama sekali tidak cantik! Jauh jelek bila dibandingkan dengan gadis asal Nias, dan kulitnya tidak semulus gadis Nias, dan dia tidak paham budaya desa asal kami, dan…intinya:dia tidak seagama denganku dan bukan dari kalangan yang cocok.

Saya pikir, keluarga besar ini sudah tidak peduli dengan saya. Tapi mengapa mereka tega menilai kekasih saya begitu jelek? Saya kenal betul pujaan hati saya yang mencintai saya dengan sepenuhnya. Saya tidak habis mengerti pemikiran keluarga besar dari Nias.

Suatu hari saya bertemu dengan seorang gadis dari kampung tetangga, sesama asal Nias. Bukan main gembiranya hati ini karena kami bisa berbicara dalam „bahasa rahasia“, dimana orang tidak mengerti apa yang kami perbincangkan.

Ternyata dia ke luar dari Nias seminggu setelah gempa. Gadis ini mengaku bekerja di sebuah pabrik. Sebulan setelah kami berkenalan, dia akhirnya mengatakan bahwa dia kerja malam pada beberapa orang lelaki yang sangat baik hati. Tidak ada pilihan lain,katanya enteng, tapi dia berjanji bila uangnya mencukupi maka dia akan pindah ke kota lain. Saya mengejeknya, tapi dengan serius dia menanggapi, bahwa ini cara terbaik yang bisa dilakukannya untuk mendapat uang pribadi, sesuatu yang tidak dia miliki di kampung asal. Kepala ini pusing, jiwa kebersamaan terhadap sesama satu tempat asal bergejolak dan mendorong saya untuk prihatin. Tiba-tiba saya begitu peduli untuk menasehatinya dan mencarikan kerjaan lain yang lebih terhormat. Dia marah sekali, tapi kami berusaha tetap menjaga hubungan, karena kami hingga kini tidak mengenal sesama orang Nias lainnya.

Saya teringat bagaimana saya bereaksi terhadap sanak famili sehubungan dengan gadis pilihan saya. Sementara saya juga bereaksi hal yang sama seperti sanak famili saya terhadap kerjaan dan pilihan hidup cewek Nias ini yang hanya karena persamaan:berasal dari Nias.

Pikiran saya sebenarnya tidak kalut dan sangat tenang. Tapi saya berniat pamit dari kekasih dan keluarganya. Saya pulang ke Nias untuk menjemput semua ijazah karena saya berniat untuk melanjutkan sekolah dengan harapan kelak mendapat „lowongan kerja“ yang terbaik. Entah dari mana ide ini tiba-tiba muncul. Tak bisa kulukiskan air mata kekasih saya dan tatapan berapi-api dari kedua orang tuanya. Sekejap saya merasa kengerian yang tidak terlukiskan. Saya hanya beberapa hari di Nias, begitu kataku. Memang demikian adanya semula.

Ternyata, saya bukan lelaki yang mantap. Sebulan setelah di Nias, perasaan cinta dan rindu pada kekasih tiba-tiba menguap. Saya ingin menjauhi kekasih saya. Itu saja.

Setelah mengurus semua urusan stempel ijazah yang dimiliki, saya berniat mendaftarkan diri di sebuah sekolah tinggi di Gunungsitoli, tapi masih harus menunggu hingga tahun ajaran baru mendatang.

Sementara saya menyewa sebuah beca untuk dikayuh. Ini masih langkah baru dan masih menjadi rahasia saya terhadap teman dan saudara. Tapi, di Gunungsitoli mana ada yang bisa menjadi sebuah rahasia? Seorang teman melihat saya sedang mendayung beca. Entahlah bagaimana reaksi keluarga besar, saya tidak peduli, karena pilihan lain sementara ini tidak ada, begitulah kira-kira.

Bencana genap setahun telah terjadi. Saya bergidik dengan apa saja yang telah saya alami. Begitulah saya melihat bahwa saya sedang menuai tahun-tahun terbaik dalam hidup saya.

KA, 28 Maret 2006

*Catatan ini hanya fiksi belaka. Bila terdapat kesamaan waktu, situasi, dan masalah terhadap seseorang, ini hanyalah kebetulan semata. Penulis.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2006
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031