Kedaruratan Hidup: Refleksi Setahun Gempa Nias

Tuesday, March 28, 2006
By nias

Etis Nehe

KENGERIAN ITU !
Penduduk Nias masih tertatih untuk berjuang hidup dengan ingatan yang masih segar akibat gempa dan tsunami yang merenggut 122 nyawa, 18 orang hilang dan 2.300 jiwa terkena dampak langsung pada tanggal 26 Desember 2004, sehari setelah Natal. Tiba-tiba pada hari Senin, 28 Maret 2005 pukul 23:09, sehari setelah umat Kristiani di Pulau Nias merayakan Paskah, gempa dahsyat menjadikan hari itu sangat mengenaskan. Kematian itu menjajal dengan kekuatan 8,7 SR di tengah malam yang dingin dan nikmatnya malam panjang yang nyenyak. Pusat Survey Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa Maret itu sebagai salah satu dari 10 gempa terhebat yang pernah terjadi satu abad terakhir.

Tiba-tiba semuanya meradang. Kejadiannya begitu cepat dan mematikan. Tidak ada satu pun yang begitu kokoh berdiri menghadapi keganasannya. Erangan kesakitan dan tangisan bertalu-talu serta kegentaran menyusup hingga ke seluruh persendian. Hidup terasa seperti kiamat. BRR merilis bahwa gempa itu menyebabkan: 839 tewas, sekitar 6.300 terluka, dan sekitar 70.000 jiwa terkena dampak langsung terutama kehilangan tempat tinggal. Sekitar 12.000-16.000 rumah rusak total, 29.000-32.000 rumah rusak sedang (50 persen rusak), 12 pelabuhan dan dermaga hancur, 403 jembatan rusak, 800 titik jalan kabupaten dan 266 titik jalan provinsi hancur. Diperparah dengan rusaknya 1.052 gedung pemerintahan, 755 bangunan sekolah, 2 unit rumah sakit, 173 puskesmas, 215 pasar, dan 1.938 tempat ibadah. Berdasarkan perhitungan BRR dan World Bank kerugian total sekitar Rp 5 triliun yang berarti membutuhkan setidaknya Rp 10 triliun untuk membangun Nias kembali.

EFEK DOMINO KEHANCURAN
Kehancuran yang sebenarnya melampaui total angka-angka statistik kehancuran fisik itu. Kehancuran itu mencakup dimensi psikologis dan masa depan. Secara psikologis, begitu banyak korban yang masih hidup yang jiwanya remuk, hancur dan rebah dalam kegamangan dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Jiwa terluka, tercabik oleh getir dan pahitnya kenyataan itu. Mereka trauma. Gempa itu telah menorehkan kenangan buruk yang sangat memilukan dan menggoncangkan jiwa.

Terkait dengan masa depan, keluluhlantakan dimana-mana telah membenihkan sebuah masa depan yang suram. Anak-anak putus sekolah, ribuan jiwa tinggal di barak-barak kumuh dan wabah penyakit silih berganti. Beberapa pengungsi meninggal di barak-barak. Pada saat yang sama, tidak dapat menghasilkan apa-apa karena beratnya kerusakan yang terjadi dan hanya mengandalkan uluran tangan orang-orang yang bersimpati. Hidup terasa lebih sulit daripada kesulitan hidup sebelumnya yang sudah membelenggu Nias. Rantai kesulitan hidup sebagai efek domino gempa tersebut semakin panjang. Bahkan, hingga setahun setelah gempa, ribuan korban masih beralamatkan “Barak Pengungsi”, paling banter dipindahkan ke barak di lokasi yang baru oleh BRR.

PERTANYAAN TENTANG HIDUP
Berbagai pertanyaan bermunculan seiring dengan musibah beruntun tersebut. Mulai dari pertanyaan yang sangat praktis dan urgen pada saat itu, yaitu menanyakan nasib anak, orangtua, istri, suami, kerabat, sahabat, kekasih, dan harta benda yang masih tersisa. Tetapi pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih mendalam dan filosofis adalah “Tuhan, mengapa semua ini terjadi?”, “Apa salah dan dosa kami”, “Masihkah ada harapan dan masa depan bagi kami?”, “Dimanakah Tuhan pada saat ini?” dan masih banyak lagi.

Tetapi, pada saat itu seluruh pertanyaan dan jawaban yang diharapkan selalu berkisar pada dua hal, yaitu “hidup” dan atau “mati”. Hidup menjadi sangat terbatas dibanding sebelumnya. Hanya sejauh keingintahuan apakah “masih hidup ataukah sudah mati.” Hidup tereduksi sedemikian rupa ke dalam limitasi dua realitas yang berseberangan, yaitu antara kehidupan dan kematian.

Sebagaimana jawaban “masih hidup” sekejap meledakkan tangisan, jawaban “sudah pergi” atau “sudah meninggal” pun demikian. Tetapi semuanya bermuara pada rasa haru dan getirnya hidup. Teringat pada berharga dan indahnya kehidupan. Hal yang sama dialami oleh semua korban gempa dan tunami yang masih hidup, di Aceh, Nias, Malaysia, Thailand, India, Srilanka, hingga Somalia saat ini. Hidup begitu berharga, bahkan walau cuma sekejap. Hidup ternyata lebih berharga dari apapun juga.

Namun, hidup juga begitu rapuh. Pertanyaan krusial tentang hidup tersebut justru muncul pada saat semuanya tiba-tiba menjadi darurat. Setelah air surut dan semuanya runtuh. Tiba-tiba hidup terasa lebih berarti dari biasanya ketika semua mata terperangah dan kehilangan daya rasionalisasinya menyaksikan ribuan mayat berjejer, mengapung, tersangkut, hanyut, terjepit, dan dikubur massal. Suatu jumlah yang melebihi angka toleransi. Semuanya terjadi dalam waktu singkat dan bersamaan. Hidup ternyata begitu mudah berhenti. Hidup ternyata begitu gawat. Kehidupan menjadi begitu rapuh dan riskan, lebih dari darurat dari berbagai ke’darurat’an yang pernah dikenal di negeri ini.

“HO AMA, HA YA’UGÖ … !”
Hari demi hari dijajaki lagi. Matahari mulai tersenyum kembali setelah masa berkabung yang panjang. Memberi kesegaran yang menghidupkan kembali kehidupan yang telah terkulai dalam derita berkepanjangan. Hari-hari, kini penuh perenungan dan pertanyaan untuk merajut kembali kehidupan.

Menjelang setahun setelah gempa, seorang Bapak yang baru datang dari Nias Selatan beberapa minggu lalu menceritakan perenungannya atas kejadian itu. Perenungannya itu termaktub dalam kelimat pendek ini, “Ho Ama, Ha ya’ugõ…!” Artinya “Oh Bapa (Tuhan), hanya Engkau….” Dengan penuh haru, sang Bapak menjelaskan maksudnya dengan kalimat singkat itu.

Pertama sekali adalah perenungan mengenai kehidupan masyarakat Nias yang menurut beliau, “telah lama (men)jauh dari Tuhan.” Peristiwa ini mengingatkan masyarakat Pulau Nias akan Allah yang mereka pernah kenal sebelumnya dan kini sudah lama ‘diasingkan.’ Kedua, kejadian itu adalah teguran Tuhan atas tindakan semena-mena dan tidak bersahabat manusia dengan alam, sehingga alam pun berontak baik melalui gempa, banjir, longsor, dll. Hidup di bumi tidaklah semata-mata dengan fungsi eksploitatif tetapi juga pemeliharaan sebagai tanggungjawab yang dipercayakan Tuhan untuk mengelolanya.

Ketiga, bahwa segala sesuatu yang terjadi ini berada dalam kedaulatan Allah dan satu-satunya tempat untuk kembali untuk mendapatkan kehidupan itu adalah meminta dan kembali kepada-Nya. Hanya Dia yang bisa menolong dan memberi pengertian di dalam batin yang bertanya “mengapa?” melewati hari-hari yang begitu berat ini. Untuk kehidupan berikutnya, hanya Dia yang sanggup menolong untuk bangkit dan menata kembali kehidupan yang lebih baik. Hidup ini begitu rapuh dan darurat, karena itu hanya Dia yang bisa memegang dan memeliharanya.

JAGALAH KEHIDUPAN DENGAN ARIF
Pada dasarnya, hingga terjadinya gempa tahun lalu, banyak orang di Nias tidak menyadari bahwa Pulau Nias berada pada zona merah gempa, yaitu tepat di atas pertemuan lempeng Eurasia dan India/Australia. Bagi penduduknya dan wisatawan mancanegara, Pulau Nias yang sangat indah dengan daerah-daerah wisatanya, seumpama rumah idaman yang nyaman. Tetapi ternyata, jauh dibawah sana di dalam perut bumi tepat dibawah di mana Pulau Nias ‘bertengger’, tersimpan deposito kematian.

Realitas itu bukan hanya memberikan kita kesadaran baru betapa hidup secara fisik di Pulau Nias sangat beresiko (terutama bila berdasarkan siklus gempa). Tetapi juga memberikan pesan kuat untuk direnungkan, yaitu siapapun dia, dalam keadaan apapun, berada dalam dominasi hukum yang sama yaitu hukum kefanaan hidup. Kefanaan hidup tidak hanya berkaitan dengan kematian, tetapi juga berkaitan dengan segala kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi, dengan kegesitan, bagai pencuri ditengah malam, yang sedikit pun manusia tidak dapat mengontrolnya.

Nias yang indah menyimpan deposito yang mematikan. Sungguh sebuah paradoks yang tidak sederhana. Tapi, sebenarnya alam Nias yang bergolak setahun yang lalu itu, tidak hanya mengingatkan bahwa secara fisik setiap orang di atasnya agar tidak terlena menikmati keindahannya. Tetapi juga mengigatkan setiap orang agar “hidup indah” di atasnya kerapuhan alam itu dengan nilai-nilai kehidupan yang agung dan luhur sebagaimana diajarkan oleh kebenaran Allah, yang ekspresi kebenaran itu kita temukan juga dalam nilai-nilai budaya atau peradaban Nias turun temurun.

Pelajaran penting telah diberikan oleh Tuhan melalui alam dan peristiwa-peristiwa kehidupan lainnya. Melayangnya ratusan ribu jiwa dalam waktu singkat bukanlah pelajaran enteng. Juga tidak berarti bahwa hal itu hanya bisa terjadi kepada para korban. Siapapun yang hidup hingga saat ini berada dalam kerapuhan yang sama, terancam kematian. Senantiasa berada dalam kedaruratan hidup.

Kedaruratan hidup tidak melulu bahwa kehidupan ini singkat dan fana. Juga mengimplikasikan sebuah kesadaran akan pentingnya menghargai kehidupan. Menghargai kehidupan bukan hanya melalui mengisi kehidupan itu dengan hal-hal yang dianggap baik, penting dan berguna. Tetapi dengan menghargai keluhuran hidup dengan tidak melakukan upaya-upaya yang mendorong atau memungkinkan kehidupan itu tercerabut. Baik melalui relasi dengan alam, relasi dengan sesama dan terutama dalam konstelasi sosial, ekonomi, dan politik di Nias dan Nias Selatan.

Dalam konteks yang lebih luas, berbagai peristiwa kehidupan yang sedang melanda Indonesia saat ini telah meretas sejumlah kegamangan dan ketidakstabilan. Kesulitan hidup merasuk begitu cepat dan merapuhkan segenap sendi-sendi kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Kebangsaan menjadi rapuh oleh ketidakadilan, baik secara politis maupun ekonomi. Kehidupan ekonomi menjadi ‘kocar-kacir’ karena lebih berpihak pada kepentingan sesaat dan sekelompok orang secara legal. Kehidupan moral pun hancur dengan argumentasi kebebasan dan kebutuhan sesaat. Kehidupan terasa lebih menyusahkan dari sebelumnya.

Di banyak pojok kehidupan bangsa ini, banyak orang telah membenihkan – mungkin sekarang telah memohon – sebentuk kegundahan, pesimisme dan bahkan ketakutan akan masa depan kehidupan bersama. Ternyata bukan hanya alam, tetapi pemerintah bahkan kaum beragama pun tiba-tiba bisa menjadi menakutkan seperti gempa dan tsunami. Serasa semua orang kehilangan pegangan bersama kemudian masing-masing mencari pegangannya sendiri untuk bertahan hidup, tidak peduli dengan kehidupan orang lain bahkan kalau perlu kehidupan orang lain dapat dicabut.

Gempa dan tsunami yang melanda Aceh dan Nias dan kejadian alam yang terjadi diberbagai wilayah Indonesia lainnya, serta kerusuhan Abepura yang masih segar di ingatan kita, tidak hanya membersitkan peringatan akan fana dan rentannya kehidupan bersama di negeri ini, tetapi juga menuntut sebuah kesadaran dan perubahan sikap dalam melayani atau memperlakukan kehidupan. Karena itu, kepada setiap orang berlaku nasehat ilahi bahwa selama masih bisa dikatakan “hari ini” maka itu adalah kesempatan untuk bekerja dan memuliakan kehidupan serta dan melalui semuanya itu Tuhan dimuliakan.

Karena itu, di tengah makin daruratnya hidup dan di tengah kegamangan yang merajalela, selama masih bisa dikatakan “masih hidup” maka “perhatikanlah bagaimana engkau hidup, janganlah seperti orang bebal tetapi seperti orang arif. Pergunakanlah waktu yang ada sebab hari-hari ini jahat. Sebab itu, janganlah kamu bodoh, tetapi usahkanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Efesus 5:15-17). Semoga bangsa ini terhindar dari gempa dan tsunami kehidupan berbangsa dan bernegara.

God Bless Nias Island, God Bless Indonesia.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2006
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031