BRR Nias dan Setahun Gempa Nias: Quo Vadis?

Tuesday, March 28, 2006
By susuwongi

Oleh: Etis Nehe*

Sekelumit Kilas Balik

Hari ini, 28 Maret 2006, tepat setahun kejadian tragis gempa dahsyat 8,7 SR kedua yang melanda dan meluluhlantakan hampir seluruh kepulauan Nias. Gempa ini menyusul gempa dahsyat yang dibarengi tsunami pada tanggal 26 Desember 2006 yang melanda Aceh, Nias bahkan hingga ke Somalia di Afrika.

BRR merilis data yang sangat fenomenal akibat kedua gempa tersebut. Gempa pertama merenggut sekitar 122 nyawa, 18 orang hilang dan 2.300 jiwa terkena dampak langsung. Sedangkan gempa kedua menyebabkan menyebabkan: 839 tewas, sekitar 6.300 terluka, dan sekitar 70.000 jiwa terkena dampak langsung terutama kehilangan tempat tinggal. Sekitar 12.000-16.000 rumah rusak total, 29.000-32.000 rumah rusak sedang (50 persen rusak), 12 pelabuhan dan dermaga hancur, 403 jembatan rusak, 800 titik jalan kabupaten dan 266 titik jalan provinsi hancur. Diperparah dengan rusaknya 1.052 gedung pemerintahan, 755 bangunan sekolah, 2 unit rumah sakit, 173 puskesmas, 215 pasar, dan 1.938 tempat ibadah. Berdasarkan perhitungan BRR dan World Bank kerugian total sekitar Rp 5 triliun yang berarti membutuhkan setidaknya Rp 10 triliun untuk membangun Nias kembali.

Angka-angka tersebut menggambarkan dahsyatnya kerusakan yang terjadi, sekaligus mengimplikasikan besarnya biaya dan pekerjaan untuk memulihkan semuanya itu. Pemulihan kembali Nias ke kondisi sebelum gempa setidaknya membutuhkan waktu selama 4 tahun dan dana lebih dari 10 triliun.

Kehancuran yang terjadi dimana-mana telah menyebabkan terhambatnya kemampuan masyarakat memulai babak baru kehidupan yang lebih baik untuk membantu memulihkan diri sendiri. Pemerintah daerah juga tidak berdaya mengatasinya. Pemerintah daerah, bekerja sama dengan negara-negara donor dan sejumlah besar NGO dalam dan luar negeri telah merumuskan sebuah komitmen bersama untuk melakukan upaya bersama untuk memulihkan Nias dan Nias Selatan melalui Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nias sebagai bagian dari BRR Nasional untuk Aceh dan Nias.

Berdasarkan data yang dirilis oleh pemerintah dan BRR sendiri, dana yang dialokasikan untuk pembangunan kembali Nias dan Nias Selatan lebih dari 4 triliun. Tentu saja, itu bukan jumlah dan dengan dampak yang sedikit. Bila saja dana itu dikelola dengan jujur dan tepat waktu, akan menciptakan sebuah suasana yang benar-benar baru dan akan mempersingkat masa-masa kesulitan dan tekanan psikologis akibat gempa tersebut.

BRR Nias, Ada Apa Denganmu ?
Tetapi hingga kini, entah darimana memulainya, kinerja BRR tidak pernah lepas dari ketidakpuasan baik masyarakat korban, pemerintah daerah, dan DPR. Kesan pertama atas kinerja BRR adalah lamban. Hal itu diakui sendiri oleh Ketua BRR Kuntoro Mangkusubroto pada peringatan setahun gempa di Nias hari ini. Kesan lainnya adalah sangat birokratis, bertele-tele, dan termasuk dugaan penyalahgunaan dana alias korupsi.

Kelambanan dan kesan birokratis mulai kelihatan pada saat-saat awal masa tanggap darurat. Kesulitan yang dihadapi masyarakat korban gempa, mulai dari susahnya mendapatkan bantuan karena kelambanan distribusi hingga pada prosedur yang berbelit-belit dengan syarat surat resmi dari kepala desa, lurah dan camat. Sementara pada saat yang sama, semua orang tahu kalau tidak ada sistem pemerintahan terendah seperti itu yang berjalan normal dalam kondisi darurat seperti itu. Masyarakat korban terpaksa menahan lirih perihnya lambung yang melilit karena kelaparan, terutama anak-anak dan para orang tua lanjut usia karena harus menunggu tandatangan para pejabat tingkat desa hingga kecamatan.

Birokrasi dan prosedur pengurusan bantuan untuk pembangunan kembali fasilitas yang hancur ikut membuat suasana semakin jauh dari berubah seperti yang diharapkan sebelumnya. Sebagai contoh, pembangunan kembali lebih seribu gereja yang hancur, yang merupakan sarana vital bagi masyarakat Pulau Nias yang mayoritas beragama Kristen tidak kalah rumitnya. Bahkan hingga memberi kesan gereja-gereja seperti pengemis kepada BRR.

Rencana semula dimana BRR sendiri memprogramkan akan mencairkan dana bantuan untuk gereja-gereja di Nias dan Nias Selatan pada bulan November 2005 sebesar Rp. 37.500.000 pergereja untuk 263 gereja belum juga mewujud sampai sekarang. Yang ada adalah prosedur yang berbelit-belit, termasuk penambahan syarat-syarat baru yang belum pernah ada sebelumnya. Pertemuan demi pertemuan, dan seperti biasa, janji demi janji dikeluarkan, namun hingga sekarang, berdasarkan informasi dari Nias Selatan, dana itu belum juga direalisasikan.

Pimpinan-pimpinan gereja pun sudah mulai kesal karena setiap saat mereka harus menjawab pertanyaan jemaat sementara dana bantuan tidak kunjung dicairkan. Kesulitan mengurus bantuan itu terutama sangat terasa bagi gereja-gereja yang jauh dari Gunung Sitoli, seperti di Nias Selatan, Nias Barat dan Nias Utara. Begitu besar biaya yang harus dikeluarkan pulang pergi hanya untuk mengikuti rapat BRR yang setiap kali tidak jelas kepastian pencairannya.

Contoh lain yang masih segar diingatan semua masyarakat korban gempa adalah masih berjubelnya pengungsi di barak-barak kumuh dan jauh dari sanitasi yang memadai. Beberapa kali kita membaca dari media massa adanya anak-anak yang meninggal di pengungsian, kurang gizi bahkan menderita busung lapar. Dan menjelang peringatan setahun gempa ini, ternyata yang dapat dilakukan oleh BRR Nias adalah memindahkan secara paksa 2.023 KK pengungsi ke rumah sementra di 15 lokasi (Analisa 27/3/06). Kesan lamban ini pun diperkuat dengan gagalnya rekonstruksi 50 sarana pendidikan di Nias dan Nisel (Kompas,6/3/06). Dalam hal ini NGO jauh lebih baik prestasinya di banding BRR yang ‘gagah’ itu.

Rupanya, walaupun BRR Aceh-Nias ini dirancang dengan kualifikasi pertanggungjawaban keuangan berstandar internasional, ternyata tidak bebas dari penyalahgunaan dana. Dana puluhan triliun yang dikelola oleh BRR Aceh-Nias jelas bukanlah jumlah yang sedikit, sangat menggiurkan. Beberapa waktu lalu, Tim Pengawas BRR Aceh-Nias di DPR yang diketuai oleh Muhaimin Iskandar, menemukan kejanggalan dalam penyaluran 1, 2 triliun dana yang seharusnya sudah disalurkan sejak Juni 2005, ternyata entah mampir kemana (Kompas,3/306). Hal yang sama juga ditemukan oleh Syafri Hutauruk dari (F-Partai Golkar) yang mengunjungi Nias Selatan, Gunung Sitoli, Sirombu, dll. Hal yang sama mereka temukan yaitu pengungsi masih di tenda-tenda darurat dan bantuan diterima oleh mereka yang tidak berhak, tidak mendapatkan perawatan medis yang layak, dll. Benar kata salah seorang dari tim DPR tersebut, bahwa saat ini persoalan Aceh-Nias yang luar biasa dan semula ditangani dengan luar biasa, kini biasa-biasa saja. Untuk diketahui, BPK-Kejagung sudah diminta untuk mengaudit BRR Aceh-Nias.

Seperti diberitakan harian Kompas (22/3/06) yang lalu, Kevin Evans, Kepala Satuan Anti Korupsi BRR Aceh-Nias telah menerima 513 laporan terkait rekonstruksi dan rehabilitasi. Bahkan ada satu kasus yang saat ini sudah ditangani oleh KPK. Dan yang lebih fantastis lagi, seperti di akui Evans, sekitar 4 miliar dana BRR Aceh-Nias 2005 belum bisa dipertanggungjawabkan.

Kita tidak memungkiri bahwa ada hal-hal baik dan penting yang sudah dilakukan oleh BRR di Nias dan Nias Selatan. Tetapi, semua orang juga mahfum, sebagaimana ditemukan sendiri oleh tim DPR bahwa BRR sangat lamban dan pada beberapa bagian programnya, bisa dikatakan gagal. Andai saja seperti perhitungan BRR dan World Bank bahwa untuk memulihkan Nias ke kondisi awal saja perlu waktu empat tahun, maka sudah setahun telah dilalui tanpa hasil yang signifikan. Kita pun masih pesimis dengan kinerja BRR untuk tahun kedua ini. Dan kalau seperti ini, maka kemungkinan besar pemulihan Nias dan Nias Selatan akan molor jauh.

What Next ?
Dampak pemulihan Nias dan Nias Selatan jelas jauh lebih besar dari sekedar angka-angka fantastis nilai proyek dan investasi dana di sana. Masyarakat Nias dan Nias Selatan ingin sekali (dan sebenarnya saat ini sudah bisa menyaksikannya, tapi?) dan ingin secepatnya merasakan sebuah keadaan yang baru, yang lebih baik setelah masa-masa derita yang panjang. Sangat tidak sehat secara psikologis jikalau kehancuran itu dibiarkan terus masih dalam bentuk aslinya. Itu hanya akan memperkuat ingatan mereka akan kesusahan dan penderitaan mereka.

Lebih dari itu, perbaikan infrastruktur yang cepat akan memungkinkan pemulihan dan perbaikan taraf hidup masyarakat lebih cepat. Itu akan mempercepat kemandirian. Tapi, bila masyarakat sendiri berada dalam kondisi yang lemah, tanpa posisi tawar yang kuat karena bergantung pada batuan tersebut sementara di sisi lain BRR sebagai representasi terbesar pemberi bantuan ternyata bekerja seperti kesan yang sudah terbentuk itu, kapankah Nias dan Nias Selatan akan melihat kembali kehidupan yang lebih baik? Kita semua tahu jawabannya dan kita pasti tidak menghendaki jawaban itu.

Tanggung Jawab Bersama
Karena itu, sangat diharapkan, pihak pemerintah daerah bersama masyarakat Nias dan Nias Selatan menuntut sebuah upaya percepatan realisasi program-program BRR seperti kita bisa lihat di situs BRR Aceh-Nias. Kita semua harus sepakat bahwa penderitaan seperti yang menimpa Nias dan Nias Selatan ini tidak boleh dibiarkan menjadi order proyek untuk meraih keuntungan bagi sekelompok orang. Proyek BRR adalah proyek kemanusiaan dan seharusnya menjadikan kemanfaatan maksimal bagi masyarakat korban menjadi fokus utama nya.

Namun juga tidak diabaikan bahwa peran serta pemerintah daerah dan masyarakat akan sangat menentukan bagi kelancaran program BRR ini. Sudah bukan hal baru setiap kali kita mendengar bahwa proyek BRR juga terganggu oleh oknum-oknum aparat pemerintah daerah dan juga masyarakat yang memanfaatkan proyek-proyek BRR untuk mendapatkan penghasilan tambahan (pungli) dan termasuk menyalahgunakannya untuk kepentingan sendiri, keluarga sendiri dan daerah sendiri.

Memulihkan Nias dan Nias Selatan adalah tanggungjawab bersama masyarakat di Pulau Nias yang ‘dikomandoi’ oleh BRR. Tentu saja kita semua setuju dan mengharapkan bahwa pada peringatan dua tahun gempa ini pada 28 Maret 2007 yang akan datang, kita tidak lagi melihat ‘monumen kehancuran’ berupa barak-barak pengungsi, puing-puing, jalan-jalan yang hancur, gedung-gedung gereja darurat, sekolah-sekolah darurat, jembatan darurat, rumah sakit darurat, dll, yang tidak tertangani.

God Bless Nias Island

*) Penulis adalah Pemuda dan Mahasiswa asal Pulau Nias, tinggal di Jakarta. email: etisnehe@yahoo.com

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2006
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031