Di tengah kelangkaan minat masyarakat Nias untuk mendalami dan menekuni secara serius hal-hal yang berkaitan dengan budaya dan sejarah Nias, kehadiran Noni Telaumbanua di bidang ini sedikit melegakan. Noni, alias Ina Sara, yang kini sedang studi di Jeman, telah menulis cukup banyak buku tentang Nias, menyangkut berbagai topik. Untuk mengetahui lebih jauh siapa putri Nias ini dan pendapatnya tentang berbagai hal, E. Halawa* dari Nias Portal melakukan wawancara jarak jauh lewat email dengan Noni. Hasil wawancara tersebut ditayangkan berikut ini.

Tentang minatnya untuk menulis buku dan alsannya memutuskan untuk masuk ke jalur itu, Noni menjelaskan sebagai berikut.

Noniawati Telaumbanua

Noniawati Telaumbanua

Sewaktu kelas 5 SD saya telah menulis berbagai puisi dalam sebuah buku, hingga SMA ada sekitar 4 buku tulis terisi penuh dengan puisi. Lalu dengan seorang teman sekelas saat itu hingga SMP, kami selalu berlomba-lomba menulis cerpen versi kami sendiri. Lalu, sekembali dari Jerman (2000) saya memutuskan untuk membukukan sesuatu sehingga tidak hilang begitu saja bila hanya ditulis lalu disimpan di rak buku.
Kesempatan untuk menulis atau membukukan sesuatu bagi orang Nias terbuka lebar, manfaatnya juga besar sekali, kepentingannya pun bukan hanya untuk orang Nias saja, hal ini juga merupakan kepuasan jiwa sebagai penulis, sehingga dengan demikian saya memutuskan untuk menulis buku.

Ternyata, tema mengenai Nias itu luas sekali, ada banyak bahan penelitian atau hal-hal menarik tentang kita yang belum didokumentasikan. Ada yang terdokumentasikan tetapi dari versi orang luar Nias. Dari jalur ini juga saya bisa mendapatkan banyak kontak dengan berbagai kalangan, minimal sebagai nara sumber. Dan, dari jalur ini jugalah saya bisa mendapat promo untuk pendidikan lanjutan kelak.

Berikut adalah buku-buku yang telah ditulis Noni, dan yang sedang dipersiapkannya:

  1. Seri Ono Niha Jilid I : Misionar dan Utusan Misi Jerman ke Nias 1865-2001
  2. Prinsip Teknik dan Ilmu Pengetahuan di dalam Alkitab – bahan pelajaran untuk Sekolah Minggu.
  3. Misuno Yehowa – kumpulan lagu terjemahan para suster di masa misionar dari Bahasa Jerman ke Bahasa Nias, sebagai editor. (Lagu dan syair dalam Bahasa Nias belum pernah dibukukan namun selalu dinyanyikan).
  4. Visi dan Misi Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Nias Periode 2001-2006, sebagai editor bersama Ir. Restu Jaya Duha.
  5. Öri Ba Tanö Niha, bersama Ir. Restu Jaya Duha.
  6. Kumpulan Khotbah Pdt. Uwe Hummel dan Pdt. Sonia C. Parera Hummel selama bertugas sebagai Mitra Kerja VEM-Jerman di BNKP, sebagai editor bersama Ir. Restu Jaya Duha.
  7. Prospektif dan Wacana Pemekaran Kabupaten Nias Menuju Pembentukan Propinsi Tanö Niha, bersama Ir. Restu Jaya Duha, SE.

Yang sedang dalam persiapan adalah buku Seri Ono Niha Jilid II, tema dan judul belum bisa disebutkan saat ini. Yang setengah siap adalah buku Mi’angawuli ba Khöda (buku ini kumpulan pengalaman nyata pahit – getir orang Nias dari berbagai kalangan, tentang kisah dan perjuangan mereka ketika kembali ke Nias). Yang dalam tahap penyelesaian adalah buku ‘Persiapan, Perjalanan dan Studi di Eropa‘.

Noni memang terkesan mengkhususkan diri menulis tentang Nias. Inilah alasanya:

Kalau bukan kita yang menulisnya siapa lagi yang kita harapkan untuk mendokumentasikan harta benda milik kita di Nias. Membanggakan, kita punya harta sendiri, biar kecil tapi harta itu milik kita, masak orang lain yang memiliki dan menginventarisir harta kita?

Akan tetapi, saya kagum sekali, bahwa mereka, yang bukan suku Ono Niha, yang pernah menulis tentang Nias telah meluangkan banyak waktu, materi dan tenaga untuk mendokumentasikan kita. Ini pun bukan pekerjaan yang mudah, paling tidak mereka punya ‘cinta dan ketertarikan’ akan Nias, terlepas dari apa pun motivasinya menulis tentang Nias.

Sayang sekali, banyak yang menulis (orang dari luar) dan beropini negatif tentang kita, di mana kita sendiri tidak mengerti mengapa mereka berpendapat demikian, dan jadilah opini tentang kita terbentuk sedemikian rupa dan menjadi stempel bagi kita turun-temurun, dan kita pun menjadi berpikir demikian. Ini juga sebenarnya bisa diubah menjadi kekuatan suku Ono Niha.

Bidang ini peluangnya masih besar, kans untuk promo penelitian juga besar sekali, bidang ini cukup sehat karena mengarahkan kita untuk berpikir, mencari dengan teliti, dan membina komunikasi dengan berbagai kalangan.

Menulis tentang Nias menjadi suatu tugas pribadi dari hati kecil, setidaknya kelak untuk anak sendiri, bila dia mungkin tidak tinggal di Nias lagi, dia masih memiliki sekelumit peninggalan data tertulis di lemari bukunya.

Buku “Misionar dan Utusan Misi Jerman ke Nias 1865 – 2001” yang ditulisnya menyangkut sejarah masuknya misi Agama Kristen (khususnya Protestan) di Nias. Berikut adalah penjelasan singkat Noni tentang tujuan buku tersebut dan sumber-sumber rujukannya.

Tujuan buku jilid I ini adalah semacam ‘Open House’, di mana saya memaparkan data apa adanya secara kronologis, dan tanpa analisa mendalam apa pun berikut foto, dan sesuai informasi yang diperoleh dari lapangan. Semacam kumpulan data dan gambar yang dibukukan. Saya menggunakan versi Vereinte Evangelische Mission (VEM) untuk data / riwayat pribadi. Sebagai pembanding kronologi kurun waktu pemberitaan misi, saya menggunakan versi dari terjemahan Pastor Yohanes dari Museum Pusaka Nias dan beberapa nara sumber pribadi. Ada beberapa terjemahan artikel yang telah saya alihkan baik dari bahasa Inggris maupun bahasa Jerman, yang dianggap mendukung data tertentu. Foto-foto reproduksi saya beli dengan uang pribadi dari berbagai organisasi / museum, yang lain saya potret sendiri; ad juga beberapa foto berupa hibah dan ijin tertulis.

Noni coba menyampaikan sejumlah alasan mengapa sangat sedikit orang Nias yang menaruh minat pada studi tentang sejarah, budaya dan bahasa Nias.

Bidang ini membutuhkan banyak kemampuan, pengorbanan moril maupun materil. Pengorbanan yang tidak sedikit dan seperti kurang menjanjikan, bisa jadi sebagai hal yang menyulitkan kita untuk bekerja di bidang ini. Organisasi yang mendukung pun tidak banyak-bahkan hampir tidak ada, karena tidak menghasilkan uang dalam sekejap mata dan karena orang Nias sendiri tidak ‘duduk’ (ada)/tidak pernah punya kontak pribadi di organisasi yang berkompeten untuk itu.

Suku Ono Niha sendiri tidak begitu besar dalam hal kuantitas –kurang dari satu juta seluruh dunia; ini terasa sekali berkurang jumlahnya dengan dua kejadian bencana alam di Nias dalam kurun waktu 2001-2004 — bila dibanding dengan suku lain yang jauh lebih spektakuler kiprah dan penampilannya.

Bagi sebagian kalangan, bidang ini juga sangat tidak realistis untuk “cari makan”.

Sebagai penulis buku “Propinsi Tanö Niha”, Noni menjelaskan mengapa Nias harus menjadi sebuah provinsi, faktor-faktor pendukung dan pengganjal dari ide tersebut.

Buku ini saya susun bersama dengan Ir. Restu Jaya Duha, SE. di mana ide awalnya berasal dari beliau. Kami memperdebatkan masalah otonomi dan pemekaran, di mana beliau sebagai orang yang pro otonomi berikut pemekaran, dan saya pribadi orang yang kontra dengan pemekaran, berikut dengan berbagai alasan pribadi kami masing-masing. Data lengkap tentang Nias kami kumpulkan berikut data pembanding dari berbagai wilayah di Indonesia dan beberapa wilayah di negara-negara asing yang memiliki kesamaan tertentu dengan Nias.

Mengapa tidak kita jadikan sebuah buku saja ? Begitu pikir kami. Buku ini realistis saja karena berasal dari pikiran pro dan kontra dari berbagai sudut pandang. Bila membuat perencanaan hingga sekecil-kecilnya, alangkah sayang bila tidak memiliki tujuan pasti. Buku ini memuat strategi, tahapan-tahapan kelayakan, realita di lapangan dan sangat mendetail bagaimana mewujudkan sebuah pemekaran, jadi sekalian saja pemekaran propinsi versi Propinsi Tanö Niha yang telah ditinjau dari berbagai aspek. Ide ini untuk minimal jangka panjang 25 tahun kedepan (mencapai Propinsi Tanö Niha), jangka menengah (mencapai pemekaran Kabupaten/Kota) dan jangka pendek (mencapai pemekaran Kecamatan dan Desa).

Bila kita berpikir bisa, maka tidak sulit untuk mewujudkan keinginan kita. Jadi persiapkan saja dengan baik, jangan nantinya ketika dibutuhkan malah kalang kabut tidak punya data dan studi kelayakan.

Buku dengan tajuk di atas, kami pikir pasti spektakuler dan mengundang reaksi. Itu yang kami harapkan sebagai penulis. Ini penting, jadi judulnya kami beri demikian. Pro dan kontra tidak jadi masalah karena buku itu pun merupakan hasil dari pikiran pro dan kontra kami yang didukung oleh opini ratusan nara sumber yang pro dan kontra (pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh nara sumber kami).

Faktor pendukung menjadi sebuah propinsi: sangat banyak, di antaranya sumber daya [(Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Buatan (SDB)] dan kesatuan serta kerjasama yang baik.

Faktor pengganjal, salah satunya adalah kelemahan kita yang tidak begitu ‘canggih’ untuk mempromosikan diri di mana kelemahan kecil saja cenderung menutup pikiran dan mata kita untuk memasarkan ‘Ono Niha dan Kemampuannya’. Performance yang tidak meyakinkan membuat orang tersugesti untuk tidak yakin akan kemampuan kita.

Sebagai seorang putri Nias, Noni memberikan uraian berikut ketika ditanya harapannya dari budaya dan masyarakat Nias untuk perbaikan “status” wanita Nias.

Perbaikan „status“ itu tergantung pada bagaimana dan siapa yang memandang. Ada orang memandang bahwa status kami perempuan Nias harus diperbaiki. Ada yang berpandangan bahwa status kami baik-baik saja, tuh.

Apakah status perempuan Nias perlu perbaikan? Setiap orang punya opini tersendiri. Saya pribadi berpikir begini, istilah status diciptakan untuk memberi penilaian akan harkat dan martabat seseorang. Sayang sekali, saya tidak tertarik menilai-nilai status seseorang, apalagi beropini bahwa statusnya harus diperbaiki. Ini riskan.

Akan tetapi bila pertanyaannya seperti: bagaimana meningkatkan kemampuan intelektual atau kemampuan rohani atau pun kemampuan ekonomi seseorang, dalam hal ini kaum perempuan di Nias, ini bisa dijawab-oleh siapa pun, sekalipun jawabannya tidak singkat karena pasti ditinjau dari berbagai sudut pandang.

Namun perubahan (dalam hal ini peningkatan kemampuan) tetap kembali kepada masing-masing pribadi sang perempuan, apakah mau mengembangkan dirinya lebih dari yang sekarang atau merasa cukup dengan keadaan sekarang atau mungkin malah tidak menaruh minat lagi untuk ke luar dari ‚sesuatu yang tidak memajukan pemikiran’, misalnya.

Ketika Wawancara ini dilangsungkan, Noni sedang melanjutkan studi di Jeman.

Saya melanjutkan studi di Jerman untuk spesialisasi Pengembangan Wilayah (Bidang Perencanaan dan Manajemen Wilayah). Saya mengikuti persyaratan akademis yakni mengikuti perkuliahan S2 (penyetaraan dengan Peraturan Pendidikan Jerman), di mana S2 kita di Indonesia diakui sebagai S1 versi mereka (versi jalur perkuliahan dalam bahasa Jerman). Penulisan beberapa buku dalam berbagai tema ternyata sangat membantu ketika saya mencari universitas dan profesor di Jerman (karena ini bagian tersulit). Studi ini, bila Tuhan ijinkan, berlanjut hingga doktoral.

Formalitas ini diperlukan kendati penelitian untuk disertasi telah saya siapkan dalam versi Indonesia, jadi semoga waktu studinya bisa singkat. Penelitian yang saya ajukan adalah buku Prospektif dan Wacana Pemekaran Kabupaten Nias menuju Propinsi Tanö Niha. Penggagas ide buku ini sendiri, yakni, Ir. Restu Jaya Duha, SE., juga kelak mengikuti perkuliahan serupa, hanya bidang kami akan berbeda, biar spesialisasinya lebih banyak.

Catatan: Artikel ini ditayangkan di Nias Portal tgl 23 Maret 2005 dan kembali ditayangkan di sini dengan sedikit modifikasi dalam penyajian.

Facebook Comments