Setiap kali diajak berbicara tentang Hada Nono Niha (Adat Nias), Bapak Ama Ziduhu Waruwu selalu menunjukkan antusiasme yang tinggi. Beliau (yang biasa dipanggil Amada Talu oleh generasi yang lebih muda) selalu saja siap melayani permintaan untuk mendiskusikan Hada Nono Niha. Demikian juga ketika awal Januari 2006 yang lalu, penulis meminta beliau untuk menjadi narasumber adat Nias, khususnya adat Negeri Botomuzöi (Hada Nöri Mbotomuzöi).

Lau ba nogu, lawaö-waö ira satua föna: Hana lafao’e-fao’e duo saisö, lö ta’ila na la badu niha, na lö’ö“. (Baiklah anakku, orang-orang tua dulu bilang: Tuak asam – tuak yang tak segar lagi – tak perlu dijual mahal, belum tentu diminum orang.) Beliau mengibaratkan “pengetahuan” adat yang dimilikinya sebagai “tuo saisö”, pengetahuan yang tidak perlu “dijual mahal”. Ini adalah bentuk tanggapan rendah hati yang disampaikan melalui sebuah amaedola (pepatah).

Dari tuturan beliau yang penulis rekam terungkap banyak hal tentang Nias: asal usulnya, nasehat-nasehat leluhur dalam bentuk cerita, asal usul takaran padi / beras dan babi, dan lain sebagainya. Satu hal yang menarik misalnya, ialah pernyataannya bahwa leluhur orang Nias itu tidak diturunkan dari atas (ladada) sebagaimana sering muncul dalam cerita asal-usul orang Nias. Sayang, karena ketiadaan waktu, penulis tak sempat menanyakan penjelasannya yang lebih jauh tentang ini.

Ama Ziduhu Waruwu adalah cicit dari Balugu Razo yang keturunannya mendiami desa-desa Hilimböwö, Sihare’ö, Delafiga dan Tuhendraowi di Kecamatan (baru) Botomuzöi. Kakeknya – anak dari Balugu Razo – adalah Ama Mbela, yang juga seorang Balugu. Ama Warökhi – ayah dari Ama Ziduhu – adalah Tambalina (wakil) dari Tuhenöri di Öri Botomuzöi. Fungsi seorang Tambalina sangat sentral dalam sistem pemerintahan adat Nias tempo dulu. Tambalina merupakan tangan kanan Tuhenöri dalam melaksanakan tugas kepemerintahan di sebuah Öri yang terdiri dari sejumlah banua dengan adat istiadat dan tradisi yang sama. Tidak mengherankan bahwa sebagai keturunan Balugu, Ama Ziduhu mewarisi kecakapan dan pengetahuan yang mendalam tentang adat Nias dari leluhurnya.

Dalam usia yang sudah sangat lanjut menurut ukuran orang Nias (sekitar 80 tahun), Ama Ziduhu masih cukup bugar secara fisik dan juga secara mental. Daya ingat beliau masih cukup lumayan, khususnya dalam hal memunculkan berbagai amaedola dan hoho dalam setiap pembicaraannya. Di hari tuanya, Ama Ziduhu – yang pernah beberapa kali menjadi Salawa (Kepada Desa) Hilimböwö – masih cukup aktif melayani di Gereja.

Di Öri Botomuzöi yang terdiri dari 14 Desa, ternyata tinggal Ama Ziduhu Waruwu dan seorang lagi di desa Ononamölö yang dianggap sebagi tokoh adat yang benar-benar mengetahui secara mendalam tentang adat Nias. Sayang sekali belum banyak usaha – khususnya di Nias Utara – untuk menggali pengetahuan adat dari para tokoh adat senior ini yang karena faktor usia akan meninggalkan kita dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Di Nias Selatan dan Tengah, usaha puluhan tahun Pastor Johannes M. Hammerle telah menghasilkan rekaman adat istiadat Nias Selatan / Tengah dalam bentuk sejumlah buku.
Adakah generasi muda yang tertarik mendalami adat istiadat Nias ? (eh)

Catatan: Ditayangkan dalam Blog Yaahowu tgl 7 Maret 2006.

Facebook Comments