E. Halawa*

Tulisan ini mulai di-draft sebelum ada berita “menyedihkan” tentang tewasnya seorang pendukung salah satu pasangan calon Bupati/Wakil Bupati yang dibunuh oleh seorang pendukung pasangan calon lain sebagaimana diberitakan oleh SIB (beritanya selengkapnya dapat dibaca dengan mengklik di sini).

Maka, sebelum melanjutkan “misi” tulisan ini, kita sebaiknya merenung sejenak dengan apa yang barusan terjadi: sebuah tragedi. Tragedi karena peristiwa ini tidak seharusnya terjadi di tengah-tengah suasana di mana masyarakat Nias sedang berpesta demokrasi secara langsung untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik ini. Tragedi, karena tetanggga membunuh tetangga (bisa jadi mereka masih memiliki hubungan keluarga). Tragedi, karena latarbelakangnya sangat sepele: ejek mengejek soal pasangan calon yang dijagokan masing-masing pihak. Tragedi, karena peristiwa ini seakan “membuktikan” hipotesis banyak kalangan, termasuk orang Nias sendiri, bahwa masyarakat Nias memang memiliki karakteristik: bertemperamen tinggi, emosi mudah meluap, mudah “naik pitam”.

Sempat juga terbetik kabar adanya usaha penghadangan terhadap rombongan pasangan Calbup/Wabup yang hendak berkampanye di salah satu daerah. Di Forum Kese-kese di Situs NiasIsland.com, tidak jarang kita mendapat sajian berupa tayangan yang “cukup memuakkan” dalam berbagai bentuk: kata-kata yang tak pantas, emosi yang meledak-ledak, berita-berita yang sulit dicek kebenarannya yang berkesan menyudutkan dan memfitnah, tuduhan-tuduahan yang tak proporsional, yang diarahkan kepada siapa saja, tanpa pandang bulu.

Ada apa sebenarnya dengan masyarakat Nias ? Mengapa masyarakat Nias seakan tidak memiliki keramahan, rasa persaudaraan ? Dulu, tidak jarang terjadi perkelahian di harimbale di Nias, dengan alasan yang sepele: saling ejek antar kelompok pemuda, atau hanya karena kontak fisik yang tak disengaja (fatuli) dalam suasana keramaian harimbale. Tuo nifarö (tuak suling berkadar alkohol tinggi khas Nias) biasanya menjadi katalis yang efektif untuk mempercepat “keriuhan” yang tidak jarang berakhir dengan jatuhnya korban meninggal atau luka-luka berat, disertai efek jangka panjang: terciptanya rasa dendam antar kelompok. “Kelompok” di sini tidak berkonotasi “jauh-jauh”: kumpulan orang-orang sekampung, atau paling-paling orang-orang dari kampung yang berbeda tetapi sebenarnya tidak “asing” bagi satu sama lain: mereka satu gereja, satu harimbale, satu marga, atau bahkan satu kerluarga dekat !

Tulisan ini tidaklah bertujuan mencari sebab-musabab akar permasalahan dari kenyataan ini. Tulisan ini sekadar mengingatkan kita semua – masyarakat Nias – bahwa ada sesuatu yang “belum beres” dengan kita, ada “pekerjaan rumah” yang harus kita selesaikan, sehingga ke depan, masyarakat Nias lebih damai dan nyaman.

*************
Besok, tgl 28 Februari 2006, masyarakat Kabupaten Nias akan mendatangi tempat-tempat pemungutan suara untuk memberikan suaranya secara langsung: memilih Bupati/Wakil Bupati yang akan memimpin Nias selama 5 tahun ke depan.

Pilkada 2006 ini merupakan pertama kalinya dilaksanakan di mana rakyat, dan bukan wakilnnya, memilih atau memberikan suara secara langsung. Pemilihan langsung memang jauh lebih kredibel dan hasilnya lebih mencerminkan “trend” dalam masyarakat. Dengan sistem pemilihan langsung, para pasangan calon yang ikut dalam pertarungan dituntut lebih aktif mendekati rakyat dan “menjual” berbagai program kerjanya kepada rakyat calon pemilih. Dengan pemilihan langsung, rakyat langsung aktif berpartisipasi melirik-lirik para calon, melihat-lihat sepak terjang mereka, menimbang-nimbang, dan pada akhirnya menjatuhkan pilihan pada salah satu pasangan calon.

Itulah yang terjadi selama dua minggu masa kampanye yang berakhir hari Jumat 24 Februari 2006. Kelima pasangan calon dengan tim suksesnya masing-masing melakukan kampanye dalam berbagai bentuk dan manifestasi untuk menarik dukungan masyarakat. Berdasarkan berita-berita surat kabar dan juga dari informasi yang diterima dari Nias, secara umum kegiatan kampanye berlangsung relatif cukup aman. Ini tentu saja tidak terlepas dari kesepakatan “kampanye damai” yang ditandatangi oleh para calon Bupati beberapa hari menjelang kampanye dimulai (baca beritanya di sini).

Tahap pertama Pilkada telah berlalu dalam suasana relatif cukup damai. Kita berharap tahap-tahap berikutnya berjalan dalam suasana yang sama pula: aman dan damai. Besok, 28 Februari 2006, adalah tahap kedua yang cukup penting: pemungutan suara. Pada saat inilah rakyat menjatuhkan pilihan, dan boleh dikatakan merupakan puncak dari seluruh proses Pilkada. Oleh sebab itu, pasangan manapun yang akan keluar sebagai pemenang, kita – masyarakat Nias – harus menerimanya dan mendukungnya secara proaktif namun kritis.

Kita harus mulai belajar memahami dan menjalani proses demokrasi dengan menghormati pilihan rakyat.

*Tulisan ini dimuat di Blog Yaahowu, 26 Februari 2006

Facebook Comments