Pembaruan/Alex Suban

JAKARTA – Untuk mengapresiasi dan menghidupkan kembali nafas seni budaya Aceh, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh – Nias menggelar Malam Kesenian Aceh – Nias di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (23/2) malam. Dalam acara tersebut, turut dihadirkan Serune Kale, sebuah atraksi musik tiup tradisional Aceh yang hampir punah.

Sebagai pembuka, ditampilkan tari Peumulia Jame yang secara harafiah berarti memuliakan tamu. Dalam katalog yang dibagikan, tarian ini melambangkan salah satu adat-istiadat yang berkembang di Aceh, yakni menghormati tamu sebagai keniscayaan dan keharusan dari kehidupan bermasyarakat di Aceh. Tari Peumulia Jame diciptakan oleh seniman Aceh, Yuslizar, pada 1973.

Enam wanita remaja menari dalam gerakan lembut, khidmat, namun dinamis. Mereka diiringi oleh Serune Kale. Saat ini, akibat gelombang tsunami akhir 2005 lalu, hanya tinggal satu pemain Serune Kale yang tersisa, yakni Ismail dari Kampung Pande, Banda Aceh. Akibatnya, tari Peumulia Jame jarang ditampilkan.

Suguhan lain yang cukup menarik adalah Nandong. Kesenian yang dimainkan dengan biola seraya bersenandung ini berasal dari Siemeulue, pulau di pantai Barat Aceh. Selain biola, Nandong juga menyertakan genderang Saramo. Yang unik di sini adalah syair-syairnya yang memberi nasihat dan pesan yang bersifat membangun. Dalam penampilan semalam, kelompok kesenian Falara mengajak agar masyarakat Aceh bersatu dan membangun Aceh agar pulih kembali, lewat kesenian Nandong yang mereka mainkan.

Nandong dulu kala kerap digunakan sebagai media komunikasi antarkampung. Namun, akibat membanjirnya seni modern, Nandong pun jarang dimainkan. Pascatsunami, Nandong kembali diangkat sebagai kesenian yang mampu membangkitkan semangat Simeulue.

Tari Seudati dan tari Saman yang sudah dikenal secara luas juga tak lupa ditampilkan dalam pergelaran semalam. Kedua jenis tarian yang dinamis dan penuh gerakan rumit itu sukses mengundang aplaus dari hadirin. Tak heran jika keduanya menjadi ciri khas kebudayaan Aceh di mancanegara.

Sementara itu, dari Kepulauan Nias, kesenian yang paling menonjol adalah tradisi lompat batu. Sebelumnya, pertunjukan dimulai dengan tari Maluaya atau tari tradisional perang Nias. Tarian ini mencerminkan semangat kepahlawanan dan perjuangan, juga kejantanan seorang laki-laki.

Atraksi lompat batu yang menjadi sajian selanjutnya sudah pasti memancing perhatian penuh dari hadirin. Para pria berderet untuk melompati batu setinggi lebih dari dua meter. Bahkan, dalam tradisi aslinya, mereka bisa melompati batu setinggi 5 meter. Semua dilakukan dengan mulus, mengundang decak kagum semua yang menyaksikan.

Acara yang dihadiri para pejabat BRR termasuk Kepala BRR, Kuntoro Mangkusubroto itu, digelar dalam sebuah pesta makan malam bernuansa Aceh. Sayangnya, karena digelar sambil makan malam, sebagian pergelaran seni pun terasa mubazir. Kesenian yang ditampilkan jadi berkesan sebagai hiburan pendamping makan malam. (D-10)

Sumber: Suara Pembaruan Online, Jum’at, 24 Pebruari 2006

Facebook Comments