Ketika bencana tsunami melanda Nias dan menelan begitu banyak korban dan meninggalkan penderitaan bagi ribuan orang Nias, masyarakat Nias dari berbagai penjuru tanah air aktif berbuat sesuatu – berdoa, menyumbang dalam bentuk uang, mendirikan “posko-posko” bantuan, dan sebagainya. Tidak sedikit juga yang menyebarkan berita “duka” ini kepada dunia luar dalam berbagai bentuk usaha.

Menyerah Bu’ulölö, seorang putra Nias yang kini tinggal di Negeri kincir angin, Belanda, merupakan salah seorang dari sekian banyak orang Nias yang juga ikut aktif meringankan penderitaan para korban dan keluarganya melalui bantuan nyata dan langsung ke sasaran. Melalui Yayasan Howu-Howu, Bu’ulölö menyebarkan informasi tentang bencana tsunami yang melanda Nias pada dunia intenasional, khususnya Belanda, yang perhatiannya “tersedot” oleh bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh yang skalanya memang jauh lebih besar.

Untuk mendapat informasi lebih jauh tentang Yayasan Howu-Howu, E. Halawa* dari Nias Portal mewawancarai Menyerah Bu’ulölö, Ketua Yayasan Howu-Howu dengan mengajukan beberapa pertanyaan melalui email. Berikut adalah hasil wawancara Nias Portal dengan Menyerah Bu’ulölö alias Ama Ida. (eh).

Bisakah Anda menjelaskan secara singkat tentang Yayasan Howu-Howu yang menjadi terkenal sejak bencana tsunami melanda Nias ?

Saya sebetulnya “canggung” mendengar / membaca istilah “terkenal” untuk Yayasan Howu-Howu. Yayasan Howu-Howu memang menjadi ‘dikenal’ karena tsunami yang terjadi di Nias. Yayasan ini menghimbau perhatian dunia luar bagi Nias agar Nias jangan dilupakan baik di Indonesia maupun di dunia internasional. Publikasi yang kita sebarkan secara terus menerus membuka mata orang lain bahwa bencana alam tersebut bukanlah hanya di Aceh tapi juga pulau-pulau kecil seperti Nias. Dibandingkan dengan jumlah korban di Aceh, jumlah korban di Nias memang tidak seberapa, namun sekecil apapun daerahnya maupun jumlah korbannya, tetap adalah korban baik korban jiwa maupun korban harta benda.

Yayasan Howu- Howu kami dirikan pada tahun 1996 di Belanda. Kami pindah ke Belanda pada tahun 1994, namun bertahun-tahun sebelumnya kami sudah membantu anak-anak sekolah di Nias yang orang tua mereka tidak mampu untuk membeli keperluan sekolah mereka. Waktu itu Yayasan Howu-Howu masih belum didirikan. Waktu kami pindah ke negeri Belanda, saya bilang pada istri saya, “Janganlah karena kita sudah jauh, maka pertolongan kita pada mereka juga harus berhenti”. Makanya berdirilah Yayasan Howu-Howu.Kami di Yayasan Howu-Howu ada 8 (delapan) orang yang bekerja secara suka rela, tidak mendapat gaji maupun honor. Yayasan Howu-Howu adalah kegiatan “sampingan” kami karena hati kami tergerak untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Nias.

Dalam sebuah foto yang ditayangkan di situs Yayasan Howu-Howu sebuah spanduk menempel di sebuah truk yang kelihatannya memuat barang-barang bantuan. Bantuan apa saja yang diberikan Yayasan Howu-Howu di Nias dan di daerah mana saja Yayasan ini mengirim bantuan ?

Bantuan yang kita berikan pada hari-hari pertama sesudah terjadinya tsunami terutama bahan makanan yang sangat diperlukan untuk tetap bisa hidup, kemudian kita susul dengan obat-obatan dan susu kaleng baik buat bayi dan anak kecil maupun ibu-ibu hamil. Bantuan kemudian disusul dengan keperluan lain seperti pakaian dan seragam sekolah buat anak-anak sekolah dan materi lainya untuk keperluan sekolah mereka. Menyusul bantuan lain berupa alat-alat rumah tangga seperti kompor masak, minyak tanah dan minyak goreng. Dan yang terakhir, secara simbolis kita memulai membangun kembali perumahan mereka dengan menyerahkan 200 sak semen pada Pastor Mathias di Sirombu sebelum Tim Howu-Howu kembali lagi ke Nias Selatan.Nanti, apabila ada dana, kita sudah menjanjikan kepada semua sekolah di Sirombu dan Mandrehe untuk membelikan buku cetak untuk keperluan anak-anak sekolah disana. Juga, apabila janji pemerintah untuk membangun rumah rakyat tidak terlaksana, maka kalau ada dana kita akan menolong mereka, baik di Nias Barat maupun di Nias Selatan.

Dalam rangka menjalankan misi kemanusiaan, apakah Yayasan Howu-Howu mempunyai jalinan kerjasama dengan organisasi-organisasi tertentu di Nias ?

Secara formal kita tidak mempunyai jalinan kerjasama dengan organisasi di Nias. Namun kita membantu organisasi yang ada di Nias dalam bentuk materi maupun pikiran. Kita sekarang membantu 327 orang anak sekolah dari SD sampai SMA. Tahun lalu sudah ada 21 orang yang tamat SMA. Bantuan kami serahkan secara individu tanpa melalui organisasi. Kita juga mencari anak-anak cacat yang memerlukan perhatian dan rehabilitasi dan membawa mereka ke pusat rehabilitasi Caritas di Gunung Sitoli. Pusat rehabilitasi tersebut kita bantu juga baik dengan dana maupun pikiran. Kemudian apabila ada yang sakit parah dan memerlukan operasi, kita mencoba membantu dan mengumpulkan dana untuk operasi dan untuk membeli obat-obatan. Kami lebih ingin bisa terjun langsung dan melihat dengan mata sendiri.

Dari mana Yayasan Howu-Howu mendapatkan dana untuk menjalankan misinya ?

Yayasan Howu-Howu mendapat dana dari donatur tetap yang menyumbang setiap bulan atau pun setiap tahun. Ada juga donatur tak tetap yang hanya satu kali memberikan sumbangan. Kepada donatur tetap kita memberikan mereka informasi dan masukan tentang aktifitas kita, dan kemudian kita memberikan pertanggung-jawaban.

Bisakah Anda menjelaskan sedikit tentang Anda pribadi ?

Saya lahir di Desa Bawömataluo-Teluk Dalam. Saya menamatkan sekolah dasar di SD 2 Bawömataluo, lalu melanjutkan ke SMP BNKP dan Bintang laut Teluk Dalam. Pada tahun 1980, setamat SMP saya ke Padang dan mencoba mencari ‘jalan’ sendiri karena orang tua tidak sanggup lagi membiayai sekolah saya. Dengan usaha sendiri saya bisa menyelesaikan pendidikan menengah di SMA 17 Augustus, Padang – Sumatera Barat, lalu melanjutkan dan menyelesaikan studi di Akademi Bahasa Asing Prayoga Padang pada tahun 1987. Saya menikah dengan Petra Maria van Loon dan telah dikaruniai dua anak – seorang putri bernama Idanö Sogaele dan seorang putra bernama Timothy Fanalilawa.

Terima kasih atas waktu yang diberikan untuk wawancara dengan Nias Portal. Ya’ahowu !

Terima kasih, Ya’ahowu !

Catatan: Artikel ini muncul di Nias Portal, 4 Februari 2005

Facebook Comments