Nias (SIB)Proyek pembangunan pemukiman rakyat tipe rumah sederhana higienis (RSH) oleh pihak Real Estat Indonesia (REI) Propinsi Sumut untuk para korban bencana alam tsunami dan gempa bumi di Nias dan Nias Selatan, terancam gagal karena kesulitan memperoleh lahan dan harga tanah yang menggila hingga 5-6 kali lipat dari harga pasar semula, sehingga biaya pembangunan satu unit rumah mencapai Rp 600.000 per meter.

Sejumlah kontraktor sektor perumahan di Nias secara terpisah mengemukakan nilai jatah perumahan yang semula ditetapkan Rp 27,5 juta per penduduk, ternyata tak semudah perencanaan semula, karena kebanyakan warga korban bencana (tsunami maupun gempa bumi) yang mengalami kerusakan rumah, adalah warga yang tak memiliki tanah sendiri.

“Ada tiga proyek pembangunan perumahan yang berlangsung di Nias pascabencana, yaitu proyek yang dibangun BRR, perumahan yang dibangun para LSM atau NGO, dan proyek perumahan yang dibangun pemerintah melalui Real Estat Indonesia (REI). Tapi hampir semua proyek perumahan yang dibangun untuk para korban bencana di Nias ini mengalami kendala serius, terutama kendala masalah tanah,” ungkap IR M Panggabean, seorang rekanan, kepada SIB di Olora, Nias bagian utara, Rabu (25/1).

Hal senada juga dicetuskan manajer lapangan Badan Rehabilitasi & Rekonstruksi (BRR) Perwakilan Nias Dra Yunus Situmorang, kesiapan pihak BRR untuk membantu warga korban gempa dengan alokasi Rp 27,5 juta per unit rumah setiap keluarga, masih lebih banyak yang belum terealisir akibat warga ternyata tak memiliki tanah. Soalnya, para korban bencana tersebut kebanyakan tak punya tanah dan selama ini hanya menyewa tanah milik orang lain.

Sebelumnya, di Medan, Ketua Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perusahaan (DPD) REI Sumut, melalui Sekretaris Umum Rusmin Lawin SH menyatakan, pihaknya telah melakukan kontak dan konfirmasi kepada pihak pengurus REI di Kabupaten Nias untuk menelusuri kemungkinan lanjut pembangunan perumahan yang dibiayai pemerintah pusat melalui pos anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tersebut, namun hingga kini (Januari 2006) belum menunjukkan kepastian baik secara disain (perencanaan) maupun pembiayaan.

“Pembangunan perumahan untuk para korban bencana di Nias oleh REI melalui DPD REI Sumut agaknya tak mungkin terlaksana. Bagaimana mungkin, harga tanah di sana (Nias-Red) sekarang sudah menggila. Biaya membangunnya saja sudah mencapai Rp 600.000 per meter. Ngeri…, kita mau kerja pakai apa,” papar Rusmin Lawin singkat kepada SIB di depan kantornya ketika akan menuju kantor DPD REI Sumut, Senin (9/1) lalu.

Dia mengutarakan hal itu ketika dikonfirmasi SIB seputar proyek pembangunan perumahan bagi para korban bencana alam di NAD dan Nias, yang dibiayai pemerintah pusat melalui APBN. Semula, pemerintah menganggarkan pembangunan 78.000 unit rumah sederhana (RSH) untuk wilayah NAD-Nias selama periode 2005-2009, di luar rencana pembangunan ratusan ribu unit rumah lainnya oleh para donor dan donatur asing pasca bencana alam tsunami di Aceh dan Nias, atau pasca gempa bumi di Nias.

Dari 78.000 unit itu, 40.000 unit di antaranya telah ditetapkan agar dibangun oleh REI Sumut/Aceh. Namun, proyek perumahan oleh REI disebutkan terancam batal karena harga tanah yang menggila. Di lain pihak, hal ini memang dibenarkan sejumlah penduduk setempat, dengan mencontohkan harga tanah di kawasan kota atau sekitar Kilometer-1 ke Kilometer-2 Kota Gunungsitoli, melonjak drastis hingga Rp 2,5 juta ke Rp 3 juta per meter persegi, Kawasan KM-3 ke KM-4 mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per meter, lalu arah ke Bandara Binaka atau lewat KM-4 lebih murah mulai kisaran Rp 600.000 hingga Rp 700.000 per meter persegi. (A14/m)

Sumber: Hariansib Online, Senin, 30 Januari 2006

Facebook Comments