Gunungsitoli, WASPADA Online

Pasca terjadinya bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami, kini ribuan masyarakat Nias terancam Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare dan malaria. Hal ini disebabkan setiap sudut jalan berhamburan debu. Penyebab lain, masih banyaknya masyarakat korban gempa yang tidur di tenda-tenda darurat, baik yang berasal dari bantuan, maupun terpal yang dibuat sendiri oleh masyarakat.

Pengamatan Waspada, Rabu (28/12), setiap sudut jalan di Gunungsitoli bertebaran debu tebal berasal dari sisa-sisa reruntuhan bangunan serta proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang tidak kunjung selesai. Debu tebal menjadi persoalan baru bagi warga, setelah mereka menderita akibat gempa tahun lalu yang menewaskan ribuan warga. “Himpitan kesusahan seperti tak pernah habis-habisnya, kendati gempa sudah berlalu satu tahun,” sebut seorang pengungsi.

Dia mengatakan, apa yang didengung-dengungkan para pejabat membantu masyarakat Nias, hingga saat ini belum tampak sedikitpun. Masyarakat masih sangat banyak yang tidur di tenda-tenda darurat seperti di Jl Pancasila Gunungsitoli, yang bersebelahan dengan kantor Bupati Nias.

Sementara hampir di seluruh ruas jalan debu bertebaran, mengancam kesehatan masyarakat seperti di Jl Sirao, Diponegoro, Gomo dan Jl Sudirman. Akibat debu tersebut, para pengendara khususnya sepedamotor dan pejalan kaki harus menutup hidung setiap melintasi kota Gunungsitoli.

Masyarakat yang berdomisili di sekitar jalan tersebut menjelaskan, kondisi ini sudah lama mereka alami, namun pemerintah daerah tidak mencarikan solusi. “Masalah ini sudah lama kami rasakan namun pemerintah Nias tidak memikirkannya,” kata A. Lase, warga Jl Sudirman Gunungsitoli sambil menambahkan, dia dan beberapa anaknya mulai terserang batuk-batuk.

Hal senada dikatakan B. Telaumbanua, pengendara kendaraan roda dua. “Setiap hari, baik pergi maupun pulang kantor terpaksa menghirup debu karena masker tidak mampu menutupi hidung agar debu tak terhirup.” Lase dan Telaumbanua mengharapkan pemerintah daerah Nias cepat turun tangan mengatasi permasalahan ini, sebelum menjadi permasalahan baru bagi pemerintah. “Saya menilai para pejabat Nias hanya memikirkan Pilkada. Bagaimana kami mau memilih mereka kalau Nias kacaubalau begini,” keluh keduanya.

Tim Medis
Di tempat terpisah, Wakil Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr. H. Syaiful M. Sitompul yang dikonfirmasi Waspada mengatakan, selama ini Nias dikenal sebagai daerah endemis Malaria. Setelah terjadinya bencana alam sehingga masyarakat bermukim di tempat yang tidak layak huni seperti tenda darurat, kondisi masyarakat Nias menjadi lebih mengkhawatirkan. Pasalnya, lingkungan yang tidak bersih dapat menimbulkan penyakit diare dan ISPA.

Karena itu, lanjut Syaiful, sejak semula Dinas Kesehatan Sumut telah melakukan antisipasi dengan menurunkan tim medis ke daerah tersebut. Tim medis ini bertugas secara bergantian guna memantau situasi kesehatan korban bencana alam. “Jika ditemukan kasus-kasus penyakit yang menonjol, maka Dinas Kesehatan Sumut akan mengirimkan bantuan tambahan tenaga medis berikut obat-obatan,” demikian Syaiful. (cbj/c25/m40)

Sumber: WaspadaOnline, Kamis, 29 Desember 2005

Facebook Comments