Oleh: Etis Nehe

”Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yes. 40:10).

Natal Kini : Sebuah Ironi

Catatan: Ketika memulai perenungan ini, beberapa judul yang terlintas dibenak saya yang akan saya dijadikan sebagai judul dari tulisan ini adalah “Dari Betlehem Hingga Yahukimo”, “Natal di Yahukimo.”
Entahkah masih banyak orang yang memahami arti dan dinamika Natal dalam arti yang sesungguhnya sesuai dengan realitas orisinil peristiwa agung tersebut. Agak susah untuk menemui hal itu kini, di era modern ini. Terjadi distorsi dan redefenisi dengan pemaksaan makna baru yang pada akhirnya merelatifkan nilai-nilai agung dan luhur Natal itu bagi manusia dan kemanusiaan.

Coba saja kita merenung sejenak. Apa yang terlintas seketika di pikiran kita ketika ingat atau menjelang Natal. Natal berarti ingat keluarga di kampung, kirim kartu natal, pesta, baju baru, miniatur pohon cemara, salju-saljuan, boneka sinterklas.

Natal telah menjadi ajang perilaku eksebisionisme yang kebablasan, yang mewujud dalam hingar bingar, keglamoran dan penampilan mentereng. Mungkin suatu kali nanti tidak ada lagi yang tahu arti Natal yang sebenar-benarnya. Natal kini tidak lebih dari sekedar pangsa pasar periodik.
Bukanlah suatu kesalahan jika hal-hal itu (dalam batas tertentu) disandingkan dengan perayaan Natal itu sendiri. Tetapi, Natal bukanlah – dan tidak pernah sama dengan – sebuah upacara atau perayaan seperti yang sering kita saksikan saat ini.

Sari Natal
Natal adalah keterkaitan antara kekekalan dengan kesementaraan, antara keabadian dengan kefanaan; pertemuan antara ketakterbatasan Allah dengan keterbatasan yang manusia; persentuhan unik nan agung antara keputusasaan manusia dalam penderitaannya dalam dosa dengan belas kasih tak terhingga dari Allah yang membebaskan dan melegakan jiwa.

Natal bermula dari Allah. Natal adalah Allah melihat dan ‘menangani’ manusia dengan mendatanginya secara langsung. Sama seperti ketika Allah pertama sekali menangani manusia dengan menciptakannya secara langsung, dengan ‘tangan-Nya’ sendiri. Tapi kali ini, Dia datang dengan cara yang lebih unik, menolong manusia dengan menjadi sama seperti manusia. Itulah inkarnasi. Itulah Natal.

Karena itu, Natal selalu berarti melihat [kembali] kepada apa yang telah Allah perbuat bagi manusia. Itulah yang mendasari semua hal di dalam melihat dan memperlakukan diri sendiri dan orang lain. Hal itu berbeda dengan apa yang ditawarkan oleh humanisme modern yang melihat segala sesuatu dari perpektif manusia dan bukan pada bagaimana Allah melihat dan menghargai manusia. Setiap aktivitas sosial kemanusiaan hanya akan menemukan artinya yang hakiki dalam pengenalan akan Allah.

Natal adalah Allah dari surga untuk manusia. Natal adalah Allah bersama manusia. Natal mencakup upaya pemulihan manusia dan kemanusiaan, termasuk bumi dimana dia berpijak. Natal adalah kebersamaan dengan Allah dalam kebersamaan dengan sesama manusia. Natal bukanlah semata keprihatinan basa-basi melainkan sebuah keterlibatan dalam pemeliharan, kepedulian dan pemberian kemungkinan kehidupan dan lingkungan kehidupan yang lebih baik.

Natal bukanlah sebuah basa-basi protokoler yang disertai dengan upaya-upaya rasionalisasi atas kondisi yang ada, seperti akhir-akhir ini kita saksikan dalam masalah Aceh, Nias, Yahukimo, dan masih banyak lagi. Natal ditandai dengan kehadiran, keterlibatan dan pengaharapan yang baru.

Bukanlah suatu kebetulan jikalau Perayaan Natal kali ini mengusung tema yang sama dengan
Perayaan Natal pada tahun 1998, ketika Indonesia berada dalam masa-masa kritis. “Jangan Takut Sebab Aku Menyertai Engkau…” yang dicuplik dari sebuah ayat dalam Kitab Nabi Yesaya 41:10a yang ditulis ratusan tahun sebelum Yesus Kristus lahir. Pada mulanya tema itu berbicara mengenai pembebasan oleh Tuhan dari kesesakan hidup umat Allah. Sebuah janji mesianik. Tema itu berisi jaminan (assurance) perlindungan (protection), keselamatan (salvation), pemeliharaan (preservation) dan pengasuhan (caring).

Mungkin dari segi substansi masalah ada perbedaan dengan kematian luar biasa di Aceh dan Nias akibat gempa dan tsunami, kekerasan di Poso yang tidak kunjung selesai, kelaparan di Yahuimo-Papua dan berbagai kesulitan hidup yang mendera rakyat saat ini. Tetapi satu hal yang sama yang mempertautkan seluruh peristiwa pilu yang menyesakkan tersebut adalah pengharapan yang tak lekang dari Sang Pencipta yang datang melawat dan mewujud sama dengan manusia. Dia datang dalam peristiwa Natal. Dia disebut sebagai Imanuel yang artinya “Allah beserta kita.” Dia juga yang menyatakan janji agung, “Aku menyertai engkau sampai kepada akhir zaman” ketika Dia kembali ke Sorga. Dia adalah Sang Bayi Natal, Yesus Kristus, Sang Juruselamat.

Pesan universal dari Natal adalah Allah datang dan bersama-sama dengan manusia. Tetapi bagaimana Allah bisa datang lagi saat ini secara fisik seperti pada peristiwa Natal dulu? Dia telah memerintahkan pengikutnya untuk membawa the great commandments yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia. Dan dengan itu manusia mendengar dan menemukan kabar baik terbesar yaitu bahwa ada pengharapan bagi manusia melalui Bayi Natal (the great commissions). Melekat dengan perintah tersebut adalah pesan untuk memulihkan kehidupan dan mengupayakan hidup yang lebih baik melalui sikap hidup yang benar dan bertanggungjawab (the great works/responsibilities).

Natal: Pengharapan Imanuel
Ironi Natal adalah ketika pada saat perayaan Natal justru nilai-nilai hakiki Natal terlupakan. Hal itu berbanding sejajar dengan fenomena religiositas yang serba wah namun pada saat yang sama menjadi raja tega atas penderitaan manusia di sekitarnya.

Dalam sebuah wawancara penulis dengan Yonky Karman. Ph. D,[1] mengenai relevansi dan makna tema natal tersebut dalam konteks Indonesia mengatakan bahwa kondisi Indonesia yang telah menjadi sasaran teror selama 5 tahun terakhir, dan tahun ini ditandai dengan penjagaan yang ketat disetiap gereja bukanlah sebagai tanda keadaan nyaman atau perlakuan istimewa tetapi petunjuk adanya masalah besar. Sekaligus mengindikasikan kondisi memprihatinkan bangsa ini dalam kehidupan beragama. Dalam kondisi seperti itu, diharapkan orang-orang Kristen lebih memahami atau merenungkan kembali arti Imanuel. Dan semoga tahun depan ada iman yang lebih besar sehingga tidak perlu ada pengamanan seperti sekarang ini.

Di tengah optimisme yang berlebihan dari elit politik negeri ini akan kondisi Indonesia yang lebih baik, di hadapan kita, tahun depan akan dihadang oleh gelombang PHK yang luar biasa. Sebagai efek domino dari PHK tersebut adalah meningkatnya jumlah pengangguran yang akan diikuti oleh peningkatan kejahatan. Tidak terkecuali, orang Kristen akan mengalaminya juga. Karena itu orang Kristen diajak untuk menatap bahwa ada harapan untuk masa depan sehingga tidak tenggelam dalam keadaan yang menyulitkan itu. Ada pengharapan karena Dia ada.

Sosialitas Natal
Dalam semangat natal, ada tanggungjawab yang besar, yaitu keterlibatan dalam hidup ini secara penuh dan benar. Orang-orang Kristen atau gereja dituntut untuk tidak berputar-putar pada keber-agama-an yang ritualistik dan penekanan pada kesalehan pribadi yang vertikal. Kondisi ril menuntut sebuah upaya mentransfer kesalehan individual tersebut menjadi kesalehan sosial. Kerajaaan Allah sudah tidak dapat lagi dilihat secara sempit sebagai aktivitas dalam ruang dan pelayanan ritual gereja tetapi juga mencakup seluruh dunia ini. Dunia harus dilihat sebagai Kerajaan Allah dimana kita telah ditempatkan menjadi rekan kerja Allah. Bila tidak demikian maka dunia ini akan direbut Setan.

Natal adalah sebuah panggilan solidaritas. Yesus lahir dalam kesederhanaan. Kesederhanaan itu adalah tanda kepekaan-Nya akan penderitaan manusia yang kepadanya Dia menyamakan diri. Tetapi kini ada sebuah gejala yang berbahaya. Yonky Karman, Ph, D mengatakan bahwa ada kecenderungan dimana gereja-gereja akan bersatu dan menunjukkan solidaritasnya hanya pada “kejadian luar biasa” seperti ketika tsunami dan gempa di Nias dan Aceh. Bahkan sampai membatalkan Natal Nasional dan mengirimkan dana Natal itu ke sana. Tetapi bila tidak seperti itu, biasanya solidaritas itu hampir tidak kelihatan.

Pertanyaannya adalah mengapa sekarang Yahukimo tidak membangkitkan solidaritas gereja dengan cara yang sama? Jangan-jangan kepekaan kita sudah berkurang dan harus selalu diperhadapkan dengan sesuatu yang besar yang menyentak.

Di tengah gegap gempita dan riuh rendah perayaan Natal, terutama di perkotaan oleh orang-orang Kristen, di sana: di Nias, di Aceh, di Yahukimo saudara-saudara kita meregang nyawa karena kesulitan mendapat makanan, bahkan mereka yang di pengungsian sekalipun. Entah apa yang ada dipikiran mereka ketika ingat bahwa bulan ini adalah bulan Desember, bulan Natal. Atau bahkan mungkin mereka tidak ingat lagi kalau ini bulan Desember seperti biasanya.

Tulisan dari John R. W. Stott dalam bukunya Isu-Isu Global dibawah ini mungkin bisa mewakili apa yang akan mereka katakan kepada kita yang sedang merayakan Natal saat ini ditengah segala kecukupan kita.
Saya kelaparan, dan anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya. Saya terpenjara, dan anda menyelinap ke kapel anda untuk berdoa bagi kebebasan saya. Saya telanjang, dan anda mempertanyakan dalam hati kelayakan penampilan saya. Saya sakit, dan anda berlutut dan menaikkan syukur kepada Allah atas kesehatan anda. Saya tak mempunyai tempat berteduh, dan anda berkhotbah kepada saya tentang kasih Allah sebagai tempat berteduh spiritual. Saya kesepian, dan anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa bagi saya. Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah. Tapi saya tetap amat lapar– dan kesepian – dan kedinginan.[2]

Natal adalah dari surga untuk dunia. Natal adalah kembali kepada Allah melalui Yesus Kristus, Bayi Natal. Dan dari sana kehidupan dan kemanusiaan itu dirajut kembali menjadi lebih baik dan bermartabat. Maafkan aku saudaraku di Nias, di Aceh dan di Yahukimo karena tidak bisa berbuat sesuatu untukmu saat ini, kecuali perenungan ini, yang tidak akan membuatmu merasa kenyang. Selamat H…… [aku tidak berani mengatakannya, takut bila hal itu menyakitimu].
—————-
[1] Yonky Karman, Ph. D adalah seorang Rohaniwan, Dosen Seminary (STT), dan penulis di koran Kompas tentang masalah-masalah sosial.
[2] John R. W. Stott, Isu-Isu Global, (Jakarta: YKBK/OMF, 1984), hal. 11

Facebook Comments