Gunung Sitoli, Nias (SIB)

Yayasan sosial Khatolik di Australia, International for Volunteer Development (IVD) segera membangun panti asuhan terpadu berfasilitas lengkap sekelas hotel senilai Rp2,6 miliar untuk menampung anak-anak para korban bencana alam gelombang tsunami 26 Desember 2004 dan gempa bumi tektonik 28 Maret 2005 lalu.

Pemimpin Yayasan IVD Paolo Cernushi didampingi Axer Fassio, menyatakan gedung panti asuhan terpadu dengan nama Panti Asuhan Tabita itu akan dibangun dengan konstruksi yang tahan gempa dengan target pengerjaan selama delapan bulan terhitung pekan pertama Desember 2005 ini.

“Dalam programnya. IVD Australia ini telah menetapkan proyek pembangunan panti asuhan sejenis di beberapa negara yang dilanda bencana tsunami dan gempa bumi, termasuk di Indonesia khususnya di Aceh (NAD) dan Nias ini,” ungkap mereka kepada SIB di Gunung Sitoli, Senin pekan lalu.

Mereka mengutarakan hal itu di sela-sela acara peletakan batu pertama pembangunan Gedung Panti Asuhan Tabita di Kelurahan Ilir kota Gunung Sitoli. Hadir pada acara itu Pastor Michael Projo selaku pemimpin ibadah (kebaktian) pembangunan, Ir Lukas Ishamu selaku pelaksana dan perencana proyek, para rohaniawati dari Kesusteran Santa maria dan Paroki Gunung Sitoli, beberapa pejabat mewakili Pemerintah Kabupaten Nias, dll.

Gedung Panti Asuhan Tabita senilai Rp2,6 miliar itu, katanya, antara lain dibangun dengan dua lantai yang akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti klinik kesehatan, kamar-kamar untuk anak-anak putra dan putri, ruang ibadah rutin, ruang pertemuan, ruang-ruang belajar, dsb. Pembangunan ini terlaksana setelah menempuh masa survei intensif dalam perolehan lahan maupun izin dengan kordinasi masyarakat dan pemerintah.

“Selain akan menampung anak-anak asuh dari kalangan warga korban bencana alam tsunami atau gempa, kami juga akan menampung anak-anak asuh dari kalangan keluarga tak mampu atau miskin daerah ini,” ujar Paolo Cernushi sembari menambahkan proyek itu terealisir atas kerja sama dan kepedulian warga Khatolik di Australia yang memiliki jaringan yayasan sosial secara internasional.

Di lain pihak, Bupati Nias Binahati B Baeha menyatakan pihaknya sangat bersyukur karena daerah Nias khususnya pada masa pascabencana ini telah menjadi perhatian berbagai pihak mancangera di samping tetap menjadi prioritas pembangunan dan pemulihan prioritas dengan segala kemampuan pemerintah yang ada.

“Adanya bantuan-bantuan pihak asing atau mancanegara untuk turut membangun Nias pascabencana, tentu akan mempercepat proses pemulihan pembangunan daerah ini. Soalnya, dana atau kekuatan pemerintah pusat maupun daerah kan selalu terbatas. Jadi, kita semua harus menyambut baik dan mendukung gerakan bantuan-bantuan itu. Lalu, kalau kita butuh bantuan lagi untuk mempercepat pemulihan, ya… tangan harus di bawah, yang punya uang kan mereka: para LSM atau yayasan donatur itu,” katanya menanggapi banyaknya pihak yang mengkritisi kinerja para LSM/donatur.

Belasan Gereja Gelar Natal Bersama Anak-anak Nias
Segenap anak-anak Nias saat ini dituntut peranannya sebagai barisan yang mampu mengubahkan Pulau Nias yang kini terbilang porak poranda akibat serangan bencana alam gelombang tsunami dan gempa bumi, menjadi Pulau Harapan (The Future of Island Hope) melalui transformasi di berbagai aspek.

Ketua Panitia Natal Bersama Jaringan Doa Anak Nias (JDAN) Abraham Teguh MK, mengemukakan semua pihak yang mengambil bagian aktif dalam pemulihan Nias pasca bencana ini agar berbuat sepenuh hati karena Tuhan melalui firmanNya di Alkitab menyatakan janganlah setengah-setengah hati melakukan sesuatu, kerena bila dilakukan setengah-setengah, maka tidak akan mendapat hasil apa-apa.

“Dengan bersatu hati untuk menjadi transformator pemulihan, kami percaya dan rindu melihat anak-anak Nias ini kelak akan tampil sebagai barisan perubahan agar Nias menjadi Pulau Harapan,” ungkap Abraham Teguh MK ketika membacakan kata sambutannya, Jumat petang (16/12) pekan lalu.

Dia mengutarakan hal itu pada perayaan Natal Bersama Anak-anak Nias yang dihadiri sekira 10.000-an anak-anak yang terdiri dari para anak sekolah minggu (SM) dari puluhan gereja setempat, anak-anak Sekolah umum, dan anak-anak undangan lainnya. Acara ini terselenggara atas kerjasama PT Coca Cola Van Amatil Medan dengan sejumlah LSM pelayanan rohani Kristen dan belasan gereja di Nias.

Belasan gereja yang turut ambil bagian sebagai unsur panitia pada acara Natal bersama anak-anak Nias ini antara lain, Gereja Bethel Indonesia (GBI), Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Gereja Penyebaran Injil Indonesia (GPII), Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT), Gereja Kristen Sangkakala Indonesia (GKSI), Gereja Kristen Baithani (GKB), BNKP Indonesia, dll.

Perayaan Natal Bersama Anak-anak Nias dengan thema: Indah dan Sangat baik Hidup dalam Persatuan (Mzm 133: 1-3) ini sangat menarik perhatian warga khususnya anak-anak sehingga lapangan Merdeka Gunungsitoli tampak tak kuasa menampung hadirin anak-anak yang tumpah ruah hingga ke seberang pagar lapangan. Antusias anak-anak ini juga disebabkan keterlibatan pihak PT Coca Cola yang turut berpartisipasi membagikan minuman gratis kepada para anak tersebut.

“Ada sekira 100.000 anak-anak usia 5-14 tahun di Nias saat ini, dan semua anak-anak itu butuh perhatian agar mampu tampil sebagai generasi perubahan Nias di masa mendatang. Perhatian dan aksi-aksi sosial dari perusahaan-perusahaan dan lembaga lainnya memang sangat dibutuhkan saat ini,” ujar beberapa orang tua murid di daerah ini sembari menyatakan terima kasih kepada pihak perusahaan Coca Cola yang rela turun ke Nias merayakan Natal Bersama Anak-anak Nias 2005 itu. (LZ/A14/y/r)

Sumber: Hariansib Online, Rabu, 21 Desember 2005

Facebook Comments