Baru saja, masyarakat Nias di Kabupaten Nias Selatan berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati yang akan menyelenggarakan pemerintahan di Kabupaten Nias Selatan selama lima tahun ke depan. Ini merupakan hal yang pertama kalinya dalam sejarah Kabupaten baru ini. Tidak terlalu lama sesudahnya, tahun depan (2006) masyarakat Nias di Kabupaten Nias akan melaksanakan hal yang sama.

Hal yang menarik adalah: ternyata, setelah dilanda bencana secara berturut-turut selama lima tahun terakhir (banjir & longsor 2001, tsunami 2004 dan gempa bumi 2005), Nias masih tetap menggeliat, menunjukkan tanda-tanda kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, memperlihatkan antusiasme yang tinggi terhadap “pesta demokrasi” ini. Masyarakat Nias masih tetap seperti dulu dengan ciri khasnya: kegairahan yang tinggi terhadap hal-hal yang berbau politik !

Ketika penulis berkunjung ke kampung sekitar 5 tahun yang lalu, suasana gairah politik Ono Niha itu terasa amat kental, bahkan juga di desa-desa terpencil yang masyarakatnya begitu sederhana dalam segala hal: pendidikan, kesejahteraan, sumber daya, dan lain sebagainya. Mereka tidak asing dengan nama-nama sejumlah tokoh terkenal dalam kancah politik nasional. Mereka juga cukup memahami “liku-liku” perpolitikan di tingkat daerah termasuk sepak terjang para wakil rakyat dan para “abdi masyarakat” di jajaran pemerintah daerah, para kepala desa dan aparatnya.

Kita bersyukur bahwa masyarakat Nias, bahkan yang berdiam di desa-desa terpencil sekalipun, sudah mulai melek politik, mulai menyadari hak-haknya sebagai warga desa, warga kecamatan, warga kabupaten, warga propinsi, dan warga negara. Keadaan ini haruslah kita pertahankan, dan bahkan bila mungkin, kita tingkatkan. Dengan demikian, lambat laun, kita berharap akan melihat situasi di mana suara rakyat sungguh-sungguh didengar dan menjadi penentu langkah-langkah dan kebijakan para “abdi rakyat” dan “wakil rakyat” di pemerin – tahan dan di lembaga perwakilan. Akan tetapi kita bermimpi kalau kita mengharapkan hal itu akan terwujud dalam waktu dekat, mengingat segala keterbatasan sistem demokrasi kita dan keterbatasan multidmensi dari masyarakat Nias sendiri. Namun, sekurang-kurangnya kita telah berada pada jalur yang benar.

Ada hal yang menggembirakan: banyaknya pasangan yang mencalonkan diri sebagai Bupati dan Wakil Bupati di kedua Kabupaten itu. Ini sungguh-sungguh bukan pernyataan sinis. Banyaknya pasangan yang mencalonkan diri merupakan ciri demokrasi yang sehat. Betapa sedihnya kita seandainya hanya sedikit pasangan yang berambisi memimpin Nias dan Nias Selatan di tengah suasana bencana yang beruntun melanda Nias selama lima tahun terakhir ini.

Orang sinis mungkin akan berkata: “Mereka itu tentu saja berambisi menjadi Bupati / Calon Bupati karena kucuran dana ke Nias dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi akan melimpah. Mereka hanya mau berebut lahan basah di kedua Kabupaten untuk memperkaya diri sendiri, sanak keluarga dan konco-konco politiknya”.

Wajar bahwa kita mengkuatirkan terjadinya hal itu. Permainan kotor dalam politik bukan hal yang aneh bagi kita, walaupun kita selalu sedih bahwa hal itu harus terjadi. Politik uang, jegal menjegal, fitnah memfitnah, dan intrik-intrik kotor lain sering menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah proses perjuangan untuk meraih kedudukan politik.

Apakah sekotor itu proses politik yang sedang berlangsung dalam pemilihan kepada daerah (pilkada) di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan ? Kita tidak tahu dengan pasti. Kita tidak punya jaringan intelijen yang kuat untuk memastikan sinyalemen semacam itu. Yang kita miliki adalah semacam dugaan, rekaan, dan simpulan dari telaah yang didasarkan atas informasi yang amat terbatas. Dan simpulan kita adalah: ya, proses politik yang sedang berlangsung tidaklah selalu bersih … Tetapi kita bisa juga menambah satu pertanyaan lagi: pernahkah kita menyaksikan proses politik yang benar-benar bersih ? Di negara-negara maju sekalipun – yang sudah ratusan tahun menikmati kehidupan politik demokratis – proses politik tidak pernah bebas dari permainan licik para pelaku politik.

Akan tetapi hal ini hendaknya tidak membuat kita pesimistis. Pernyataan di atas juga tidak dimaksudkan untuk membenarkan praktek-praktek kotor (licik) semacam itu.

Untungnya, proses politik yang kotor sekali pun tidak serta merta menghasilkan buah politik yang kotor. Dalam negara yang menganut azas demokrasi, ada sistem dan mekanisme umpan-balik (feedback) yang selalu mengoreksi, yan melurus-luruskan. Maka, sambil berharap bahwa masyarakat Nias di kedua Kabupaten akan memilih para pemimpin yang relatif baik, memiliki integritas, kredibilitas dan kecakapan manajerial, kita juga harus secara terus menerus memantau, mengamati, mendampingi dan mengikuti secara kritis proses dari “pesta demokrasi” yang sedang berlangsung ini.

Hal yang mendebarkan tentu saja adalah menunggu siapa yang bakal memimpin kedua Kabupaten selam lima tahun ke depan. Apakah mereka dari kubu favoritku ? Ataukah dari kubu yang berseberangan denganku ?

Begitu rakyat telah menentukan pilihan, kita – dari kubu mana pun – haruslah menerima hasil pilihan rakyat tersebut. Inilah esensi dari demokrasi: menerima hasil proses demokrasi itu sendiri meski pun itu berarti “kekalahan di pihakku”. “Menerima hasil pilihan rakyat” berarti juga menghormati, menjunjung tinggi, melakukan segala upaya sehingga “pilihan” itu bisa melaksanakan amanat para pemilihnya dan program kerjanya dengan baik, tanpa ada gangguan yang “sumbang”. Kritik harus selalu bersifat konstruktif, berbudaya, santun, dan bertujuan untuk mengoreksi dan bukan untuk menghancurkan.

Yang membuat kita cukup sedih ialah bahwa “pesta demokrasi” ini ternyata tidak begitu bernuansa “pesta”. Pengerahan petugas pengamanan tambahan ke daerah Nias Selatan menjelang “pesta demokrasi” itu menunjukkan ada sesuatu yang kurang beres, yang menakutkan, yang menuntut campur tangan “luar”, yang tidak bisa ditangani secara internal oleh masyarakat dan terutama pelaku politik di Nias Selatan. Menyedihkan, karena hingga saat ini masyarakat Nias (dan terutama para tokohnya) lebih mengedepankan ambisi / kepentingan kelompok yang sempit dengan mengorbankan kepentingan yang lebih luas: kepentingan masyarakat Nias pada umumnya dan yang bersifat strategis jangka panjang. Toh, kita bersyukur, bahwa Pilkada di Nias Selatan berjalan relatif aman dan damai.

Di Kabupaten (“induk”) Nias, suasana masih “aman-aman saja”. Intrik-intrik selalu ada dan wajar-wajar saja. Kepentingan berbagai kelompok pasti ada, dan sah-sah saja. Yang tidak wajar dan tidak sah adalah: kalau kepentingan kelompok menjadi sedemikian besarnya sehingga kepentingan umum masyarakat Nias menjadi terlupakan. Melalui Pilkada, masyarakat Nias di kedua Kabupaten mengharapkan perbaikan kehidupan ekonomi dan sosial yang telah demikian terpuruk sejak Nias diporakporandakan oleh ketiga bencana alam yang terjadi selama 5 tahun terakhir (banjir dan tanah longsor 2001, tsunami 2004 dan gempa 2005).

Adalah merupakan “dosa yang tak terampuni” apabila para politisi di kedua Kabupaten menutup mata terhadap penderitaan masyarakat Nias dan mau mencari kenyamanan sendiri, mencari “selamat” sendiri, mempermainkan kepercayaan yang diberikan kepada mereka oleh masyarakat Nias, memanfaatkan keluguan dan ketidaktahuan masyarakat akan liku-liku politik dan berpesta ria di atas penderitaan masyarakat Nias, yang adalah darah daging mereka sendiri.

Kita, sebagai pemerhati, yang tidak terlibat langsung dalam proses politik yang sedang berjalan, yang mungkin telah memiliki pilihan dari sejumlah pasangan yang akan bertarung, bisa memberikan sumbangan konstruktif. Ajakan ini terutama tertuju kepada kita yang mengakses dan menayangkan berbagai “informasi” lewat dunia maya, seperti para pengungjung situs ini. Sumbangan konstruktif bisa muncul dalam bentuk mengekspos sisi-sisi positif (keunggulan) dan negatif (kelemahan) dari setiap pasangan – termasuk pasangan pilihan kita – dan menjelaskan dengan gamblang mengapa pilihan kita lebih baik dari yang lain. Itulah cara yang sehat, itulah kontribusi yang sehat.

Masalahnya menjadi lain kalau kita mulai menyorot secara membabi-buta, emosional, dan disertai unsur kesengajaan, pasangan-pasangan yang bukan menjadi pilihan kita. Masalahnya menjadi lebih menyedihkan kalau kita – secara sadar atau tidak – menyoroti sisi-sisi yang bersifat “pribadi”, yang seharusnya tidak boleh diketahui umum, dari pasangan-pasangan yang kurang kita sukai. Masalahnya juga bisa semakin serius kalau kita menuduhkan hal-hal tertentu kepada mereka tanpa bukti kuat dan sah secara hukum.

Kita berpikir, berharap, menyangka bahwa dengan cara itu, pasangan pilihan kita akan “naik” sedangkan pasangan-pasangan lain akan “hancur”. Ternyata tidak demikian halnya. Apabila kita berpikir, berharap dan menyangka demikian, kita secara tak sadar melecehkan sikap dan daya kritis orang lain, yang tidak begitu saja menerima dan “menelan” mentah-mentah “informasi” yang ditayangkan di ruang maya melalui penekanan “tuts” pada papan ketik komputer kita masing-masing.

Mari kita mulai memberikan kontribusi konstruktif, menurut kesanggupan kita masing-masing. Mari kita mulai belajar berdemokrasi dan sekali gus mengembangkan sikap kritis, sambil tetap mempertahankan budaya santun yang konon diwariskan kepada kita oleh para leluhur kita. (eh)

Note: Tulisan ini dimuat di Blog Yaahowu tgl 12 Desember 2005.

Facebook Comments