E. Halawa

Dua hari yang lalu, tepatnya tanggal 1 Desember 2005, kembali hadir sebuah situs baru untuk kita, masyarakat Nias, : situs Yaahowu.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa teknologi internet – jaringan komunikasi ekstensif lewat komputer yang diakses oleh publik secara luas – telah menghadirkan berbagai pintu kemungkinan bagi masyarakat dunia. Internet telah memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap keseharian kita, pengetahuan kita, dan terhadap cara kita memandang dunia [Wikipedia online)].

Nias adalah bagian dari masyarakat dunia. Kalau dulu, Nias merupakan bagian “terisolir” dari dunia, kini, dengan kehadiran internet, Nias menjadi bagian “dinamis” dari dunia dengan segala peristiwa yang dialaminya. Kata “Nias” telah menjadi kosakata mesin pencari (search engine) internet semacam Google, Yahoo, Altavista, dlsb. Kini baru kita tahu, berkat internet, bahwa beberapa institusi akademis (ilmiah) di beberapa negara telah mengambil kata “Nias” sebagai nama organisasi mereka. Kata “Nias” secara langsung dipopulerkan oleh institusi-institusi itu, walaupun mereka pada umumnya tidak punya kaitan dengan aktivitas yang bertujuan memberdayakan masyarakat Nias.

Berkat internet, informasi tentang tiga kejadian tragis yang menimpa Nias dalam lima tahun terakhir (banjir dan tanah longsor 2001, tsunami 2004, dan gempa dahsyat 2005) dengan mudah tersebar ke seluruh dunia. Dengan itu, Nias telah menjadi “sorotan”, menjadi bahan informasi yang disuplai ke dan dikonsumsi oleh dunia.

Paparan singkat di atas ingin menunjukkan bahwa internet telah mengubah masyarakat Nias dari masyarakat terisolir total menjadi masyarakat yang secara pelan tapi pasti akan terbuka terhadap dunia luar dengan segala konsekuensinya. Nias akan secara pelan tetapi pasti akan menjadi bagian integral dari masyarakat dunia, dengan segala konsekuensinya.

Frase “dengan segala konsekuensinya” di atas sengaja ditulis dua kali untuk mengarahkan perhatian kita akan pengaruh positif dan sekali gus potensi bahaya dari keterbukaan yang muncul dari teknologi internet dan teknologi informasi pada umumnya. Dari sisi positif, kita bisa melihat bahwa Nias tidak lagi seterisolir dulu: peristiwa yang terjadi di Nias bisa tersiar ke segala penjuru dunia, bukan lagi dalam hitungan bulan, minggu atau hari, tetapi dalam hitungan jam, bahkan menit.

Kita berharap melalui keterbukaan ini: laju pembangunan akan terpacu, kita dapat mengikuti tahap-tahap rekonstruksi Nias melalui program khusus yang ditangani oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias secara terus menerus dan transparan. Kita berharap mekanisme penyelenggaraan pemerintahan di daerah akan semakin terbuka dan bersih.

Saat ini, karena keterbatasan jaringan internet dan komunikasi pada umumnya di Nias, masyarakat di Kepulauan Nias belum dapat mengambil banyak manfaat dari ketersediaan lautan informasi di internet. Jadi, kitalah – masyarakat Nias yang berada di luar Kepulauan Nias – yang pertama-tama bisa memanfaatkan kehadiran sarana komunikasi dan informasi semacam Situs “blog” Yaahowu ini.

Kita jugalah – Ono Niha yang berada di luar Kepulauan Nias – yang bisa menciptakan “citra” Nias yang “positif”. Menyedihkan memang, tetapi adalah kenyataan bahwa hingga saat ini, Nias lebih dikenal karena sisi-sisi yang “menyedihkan”: banjir dan longsor, tsunami, gempa bumi, keterbelakangan, keterisoliran. Sangat jarang kita menemukan berita-berita yang “positif” dan “membanggakan” tentang Nias: prestasi individual Ono Niha di berbagai bidang, pementasan budaya Nias, pagelaran musik dan tari khas Nias seperti Maena, dan lain sebagainya.

Kita tentu saja tidak bisa mengharapkan orang lain yang membentuk “citra” positif tentang Nias. Adalah masyarakat Nias sendiri yang berkewajiban menciptakan citra positif itu. Kahadiran Situs “blog” Yaahowu dan beberapa situs dan forum lain tentang Nias (NiasIsland, Nias Portal dan NCF) seharusnya kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menciptakan citra yang lebih positif itu. Setiap kata, kalimat dan paragraf yang kita “pertukarkan” lewat fasilitas yang disediakan ini berpotensi untuk membentuk “citra” positif itu; atau sebaliknya: ia berpotensi untuk semakin menenggelamkan “citra” Nias, suatu hal yang lebih menyedihkan dan lebih dahsyat efeknya dari gempa bumi tanggal 28 Maret 2005 yang lalu. Semuanya berpulang kepada kita.

Yaahowu.

Note: Note: Tulisan ini ditayangkan di Blog Yaahowu, 3 Desember 2005

Facebook Comments